Yusup, Raja Islam Ketiga di Banten; Direbutnya Pakuwan Pajajaran

0

 

 
Di Jawa Barat, runtuhnya secara pasti kerajaan “kafir” tua Pajajaran dan direbutnya kota Kerajaan Pakuwan oleh pejuang-pejuang Islam demi agamanya, tidak menyebabkan timbulnya legenda yang sangat banyak, seperti di Jawa Timur sehubungan dengan jatuhnya Majapahit dan lenyapnya Brawijaya yang terakhir. Dari perbedaan ini ternyatalah bahwa bagi generasi kemudian makna Majapahit sebagai utusan peradaban zaman pra-Islam jauh besar daripada Pajajaran. Memang begitulah kenyataannya.

Meskipun demikian, pada abad ke-15 kekuasaan politik Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat bukannya tidak penting. Raja Islam di Banten dan Jakarta – berdasarkan pertimbangan keamanan – sudah tidak senang melihat adanya Kerajaan Sunda “kafir” di tanah pedalaman. Mungkin mereka merasa penyaluran hasil bumi ke kota pelabuhan, guna usaha perdagangannya, terancam. Mungkin juga harapan untuk mendapat banyak rampasan perang merangsang semangat tempur mereka.
 Cerita Jawa-Banten menetapkan Hasanuddin, (yang menurut cerita itu) raja Islam yang pertama di Banten, sebagai pahlawan yang merebut. Pakuwan Pajajaran. Akan tetapi cukup alasan pula untuk menyangkal hal tersebut. Mungkin sekali Pakuwan ditaklukkan pada tahun 1579, waktu Yusup sudah 9 tahun memegang kekuasaan di Banten. Dari uraian yang cukup panjang dalam Sadjarah Banten mengenai bentrokan bersenjata ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kemenangan tentara Banten telah dipermudah oleh pengkhianatan seorang pegawai raja Pajajaran. Pengkhianat ini telah membuka pintu bagi saudaranya yang memegang komando atas sebagian laskar Banten. Waktu istana raja direbut, dinyatakan bahwa raja dengan keluarganya telah hilang. Tambo Jawa Barat tidak memberitakan apa-apa lagi tentang mereka. Karena sederhana, cerita ini lebih dapat dipercaya. Dari cerita itu pun ternyata bahwa di pihak raja Banten sudah ada orang Sunda Islam yang ikut bertempur. Sesudah kota kerajaan jatuh dan raja beserta keluarganya menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk Islam; karenanya mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.
Menurut Sadjarah Banten, banyak penguasa, juga alim ulama, ikut dalam gerakan melawan Pakuwan. Pimpinan agama dipegang oleh Molana Judah (dari Jeddah, di Tanah Arab); tentang Molana ini, tidak ada lagi yang diketahui lebih lanjut. Tetapi nyata bahwa raja Banten-lah yang paling berkepentingan. Sesudah kemenangan tercapai, ia lebih giat melakukan pembangunan di ibu kota yang baru, Banten-Surasowan (Sura-Saji).
Molana Yusup (begitulah nama raja itu dalam cerita Banten) meninggal hanya satu tahun setelah kemenangan tercapai, jadi dalam usia yang masih agak muda. Sesudah meninggal, namanya tetap dikenal orang di Banten, yaitu Pangeran Pasareyan, mengingat tempat makamnya. Pemerintahannya hanya berlangsung 10 tahun.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply