Wahyu Pertama

0
Mula-mula Allah menurunkan Wahyu kepada rasulullah saw dalam bentuk mimpi-mimpi yang benar. Allah swt kemudian melimpahkan kecintaan berkhalwat, mengasingkan diri untuk beribadah kepada Allah, di gua Hira. Ia membawa bekal makanan untuk persediaan dan pulang menemui khodijah, istrinya untuk mengambil bekal makanan lagi, hingga Wahyu secara tiba-tiba diturunkan kepadanya di gua itu.

Malaikat Jibril datang menemuinya seraya berkata, “Iqra’ (Bacalah)!”
Ia menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Malaikat itu mendekapnya dengan erat dan memerintahkan, “Bacalah!”
Namun ia tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Untuk kedua kalinya malaikat itu memeluk dan mendekapnya hingga ia tak bisa bernafas. Malaikat itu pun berkata, “Bacalah!”
Lagi-lagi ia menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Lalu malaikat itu memeluknya untuk ketiga kalinya dan berkata, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah beku. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah-yang mengajarakan kepada manusia menggunakan pena. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui.” (QS. Al-Alaq/96: 1-5).
Rasulullah saw pulang membawa Wahyu itu dengan hati yang gundah-gulana. Ia menemui Khadijah ra, istrinya, sembari berkata, “Selimuti aku! Selimuti aku!”
Khadijah menutupi tubuhnya dengan selimut hingga rasa takutnya hilang. Setelah itu ia menceritakan apa yang dialaminya kepada Khadijah ra, “Aku takut akan terjadi sesuatu yang menimpaku.”
Khadijah ra menjawah, “Sekali-kali tidak! Demi Allah! Allah tidak akan pernah memberimu aib. Sebab, engkau orang yang senantiasa menyambung silaturahmi (persaudaraan), menolong orang miskin, mengusahakan kerja bagi yang papa, memuliakan tamu dan memberikan bantuan kepada orang-orang yang ditimpa musibah.”
Khadijah ra kemudian mempertemukan nabi saw dengan sepupunya, Waraqah bin Naufal, pemeluk agama Nasrani yang berpegang pada kitab injil yang berbahasa Ibarani. Khadijah ra berkata, “Sepupuku, dengarkanlah kisah kemenakan laki-lakimu ini!”
Waraqah bertanya, “Kemenakanku, apa yang telah kau lihat?”
Nabi saw pun memaparkan apa yang telah dilihatnya. Mendengar penuturan beliau, Waraqah berkata, “Ia adalah Namus (Malaikat Jibril) yang diutus Allah kepada Musa. Seandainya aku masih muda dan hidup hingga datangnya masa ketika kaummu mengusirmu…”
Rasulullah saw bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”
Waraqah menjawab, “Benar, setiap laki-laki yang datang dengan sesuatu yang mirip dengan yang kau bawa, pasti dia akan dimusuhi. Seandainya aku hidup hingga datangya masa itu, niscaya aku akan membelamu dengan seluruh kemampuanku.” Selang beberapa hari setelah itu, Waraqah bin Naufal meninggal dunia.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

Leave A Reply