Tunduk Kepada Allah Ta’ala dan Merasa Butuh Kepada-Nya

0

Tunduk dan merasa butuh kepada-Nya disebabkan seorang mukmin menyaksikan hikmah Allah ta’ala, kekuatan Allah ta’ala yang tidak dapat dilawan, fenomena keagungan Allah tabaraka wa ta’ala, tanda-tanda ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk-Nya, qayyumiyah (berdiri sendiri)-Nya dalam kerajaan-Nya dan keagungan-Nya yang Mahabesar. Kemudian, ia kembali dan memikirkan keadaan dirinya sendiri serta seluruh makhluk Allah ta’ala. Ia pun mendapati semua bertolak belakang dan berkebalikan dengan Allah. Mereka semua hina, lemah, fakir, banyak kekurangan dan sangat membutuhkan Allah ta’ala dalam seluruh urusan kehidupan mereka.

Mereka tidak dapat terlepas dari Allah sedikit pun. Telah ditetapkan pula atas mereka kefanaan. Maka jika seorang mukmin merasakan hal itu pada dirinya dan alam sekitarnya, akan bertambahlah ketundukkannya kepada Allah, kerendahan ketawadhu’an, rasa butuh dan berlindung kepada-Nya, untuk menutupi segala kerendahan dan kekurangannya, mengampuni kesalahannya dan memperbaiki cacatnya. Jika demikian, ketundukan dan rasa membutuhkan Allah ini akan membuahkan pengaruh yang sangat banyak, di antaranya:

  1. Ketawadhu’an hamba di hadapan seluruh manusia: tidak sombong, takabur, dan membanggakan diri sendiri. Sebaliknya, ia tawadhu’ di hadapan makhluk sebagai buah dari ketundukannya kepada Allah ta’ala. Sikap tawadhu’ ini merupakan sebab terbesar untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan orang lain, sebagimana sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Sesungguhnya Allah ta’ala mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’ sehingga seseorang tidak menyombongkan diri dan berbuat aniaya terhadap orang lain.[1]

  1. Mengaitkan hati kepada Allah ta’ala dalam setiap urusan: menyerahkan setiap urusan kepada-Nya dan menggantungkan semua hajat kepada Allah ta’ala.
  2. Bertambahnya keimanan seorang mukmin karena apa yagn disebutkan di atas merupakan bentuk ibadah yang sangat agung. Maka dari itu, tatkala seorang manusia telah menyempurnakan seluruh perkara ini, akan bertambahlah imannya dan semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah ta’ala.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Muslim (2865) dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i.

Leave A Reply