TRANSPLANTASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

0

PENGERTIAN TRANSPLANTASI

Transplantasi berasal dari bahasa Inggris to transplant, yang berarti to move from one place to another, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Adapun pengertian menurut ahli Ilmu Kedoktoran, transplantasi itu ialah:

Pemindahan jaringan atau organ dari tempat satu ke tempat lain. Yang dimaksud jaringan disini ialah: kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang sama mempunyai fungsi tertentu.

Yang dimaksud dengan organ ialah: kumpulan jaringan yang mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu, seperti jantung, hati dan lain-lain.[1]

Didalam kitab “Masail Fikhiyah Alhaditsah” disebutkan bahwa Transplantasi ialah pemindahan organ tubuh yang masih mempunyai daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi lagi dengan baik.[2]

SEJARAH TRANSPLANTASI

Mengganti organ tubuh yang sakit atau rusak sebenarnya sama sekali bukanlah inovasi abad modern. Jeff E. Zhorne menyatakan bahwa sejak awal abad ke-8 SM, para ahli bedah Hindu telah melakukan transplantasi kulit untuk mengganti hidung yang hilang karena penyakit sipilis, perang fisik, atau hukuman atas suatu kejahatan. Dalam literatur hadis juga dituturkan peristiwa ‘Ufrajah, seorang sahabat Nabi . yang kehilangan hidung dalam suatu pertempuran dan diganti dengan hidung palsu dari perak. Hidung peraknya beberapa waktu kemudian menimbulkan bau yang tidak sedap, sehingga ia meminta nasihat Nabi . Nabi kemudian menganjurkan agar ia mengganti hidung perak itu dengan hidung palsu lain dari emas.[3]

 

TRANSPLANTASI ANGGATA BADAN MENURUT TEKS FIKIH KLASIK

Sebenarnya, kajian yang membahas hukum syariah tentang praktek transplantasi jaringan maupun organ dalam khazanah intelektual dan keilmuan fikih Islam klasik relatif jarang dan hampir tidak pernah dikupas oleh para fuqaha secara mendetail.

Barangkali salah satu sebabnya adalah karena transplantasi ini tergolong kasus yang baru berkembang di masa kini. Selain itu juga kompleksnya kasus yang terkait dengan masalah transplantasi. Oleh karena itu tidak heran jika hasil ijtihad dan penjelasan syar’i tentang masalah ini banyak berasal dari pemikiran para ahli fikih kontemporer, keputusan lembaga dan institusi Islam serta simposium[4] nasional maupun internasional.

Mengingat transplantasi organ merupakan suatu tuntutan, kebutuhan dan alternatif medis modern, pada dasarnya secara global tidak ada perselisihan dalam hal bolehnya transplantasi organ.

Namun secara umum, para ulama memberikan ruang yang sangat sempit untuk membolehkan perlakuan itu pada jasad manusia, baik pada saat masih hidup maupun sesudah mati. Hukum dasar yang mereka pegang dalam hal memanfaatkan anggata badan ini adalah haram, baik dengan cara jual beli maupun cara lainnya.

MACAM-MACAM TRANSPLANTASI

Melihat dari pengertian di atas, kita bisa membagi transplantasi itu pada dua bagian:

  1. Transplantasi jaringan seperti pencangkokoan cornea mata.
  2. Transplantasi organ seperti pencangkokan ginjal, jantung dan sebagainya.
    Melihat dari hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ yang ditansplantasikan) dan resipien (orang yang menerima pindahan jaringan atau organ), ada 3 macam pencangkokan:

    1. Auto transplantasi, yaitu transplantasi di mana donor dan resipiennya satu individu.Seperti seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan bentuk, diambilkan daging dari bagian badannya yang lain dalam badannya sendiri.
    2. Homo transplantasi, di mana transplantasi itu donor dan resipiennya individu yang sama jenisnya. (Jenis disini bukan jenis kelamin, tetapi jenis manusia dengan manusia). Pada homo transplantasi ini bisa terjadi donor dan resipiennya dua individu yang masih hidup; bisa juga terjadi antara donor yang telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang resipien masih hidup.
    3. Hetero transplantasi ialah yang donor dan resipiennya dua individu yang berlainan jenisnya, seperti transplantasi yang donornya adalah hewan sedang resipinnya manusia. Pada auto transplantasi hampir selalu tidak pernah mendatangkan reaksi penolakam, sehingga jaringan atau orang yang ditransplantasikan hampir selalu dapat dipertahankan oteh resipien dalam jangka waktu yang cukup lama.

Pada homotransplantasi, dikenal 3 kemungkinan:

  1. Apabila resipien dan donor adalah saudara kembar yang berasal dari satu telur, maka transplantasi hampir selalu tidak menyebabkan reaksi penolakan. Pada golongan ini hasil transplantasinya serupa dengan hasil transplantasi pada auto transplantasi.
  2. Apabila resipien dan donor adalah saudara kandung atau salah satunya adalah orang tuanya, maka reaksi penolakan pada golongan ini lebih besar daripada golongan pertama, tetapi masih lebih kecil daripada golongan ketiga.
  3. Apabila resipien dan donor adalah dua orang yang tidak ada hubungan saudara, maka kemungkinan besar transplantasi selalu menyebabkan reaksi penolakan. Pada waktu sekarang homotransplantasi paling sering dikerjakan dalam klinik, terlebih-Iebih dengan menggunakan cadaver donor, karena:

1.Kebutuhan organ dengan mudah dapat dicukupi, karena donor tidak sulit dicari.

2.Dengan pcrkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, terutama dalam bidang immunologi (penjelasan, uraian), maka reaksi penolakan dapat ditekan seminimal mungkin.

Pada heterotransplantasi hampir selalu menyebabkan timbulnya reaksi penolakan yang sangat hebat dan sukar sekali diatasi. Maka itu penggunakannya masih terbatas pada binatang percubaan. Tetapi pernah diberitakan adanya percubaan mentransplantasikan kulit babi yang sudah di-Iyophilisasi untuk menutup luka bakar yang sangat luas pada manusia. Sekarag hampir semua organ telah dapat ditransplantasikan, sekalipun sebagian masih dalam taraf menggunakan binatang percubaan, kecuali otak, karena memang tehnis amat sulit. Namun demikian pernah diberitakan bahwa di Rusia sudah pernah dilakukan percubaan mentransplantasikan “kepala” pada binatang dengan hasil baik.[5]

 

MACAM-MACAM HAK YANG BERKAITAN DENGAN JASAD MANUSIA

Para ulama ushul dan ulama fikih membagi hak manusia ditinjau dari pemiliknya menjadi dua bagian; hak Allah  dan hak manusia.[6]

Hak Allah  adalah yang berkaitan dengan manfaat umum, yang tidak dikhususkan kepada orang tertentu. Tujuan Allah menetapkan hak ini untuk menjaga kemaslahatan umum. Maksud dari hak itu dinisbatkan kepada Allah  bukan berarti Allah  akan memanfaatkannya yang tidak boleh dimanfaatkan oleh orang lain, melainkan penisbatan ini untuk mengagungkan kemaslahatan umum dan menjelaskan tentang pentingnya dan luasnya jangkauan manfaat yang diemban oleh hak ini, karena Dia tidak membutuhkan siapapun dan sebaliknya setiap makhluk membutuhkanNya. Adapun hak manusia adalah yang berkaitan dengan manfaat individu secara khusus dan tertentu.[7]

 

HAK-HAK YANG BERKAITAN DENGAN JASAD MANUSIA MATI

Dengan kematian manusia, maka terputuslah semua hak yang didasarkan pada kehidupan. Tetapi ketika meninggal, haknya untuk dihormati masih tetap ada, yaitu dengan dimandikan, dikafani, dibawa dengan tandu, dikubur, dishalati, diarahkan  ke kiblat, dimintakan ampunan, disamping dijaga keselamatan badannya dan sebagainya.

Hak-hak tersebut walaupun bersifat khusus bagi pemiliknya, tetapi didalamnya ada hak Allah  hingga hak Allah  tidak bisa gugur walaupun ada faktor-faktor lain yang menggugurkan hak manusia.

 

KEMUNGKINAN MEMINDAHKAN DAN MENGGUGURKAN HAK ALLAH DAN HAK MANUSIA

Kebanyakan ulama islam menyatakan, bahwa hak Allah dan hak manusia berbeda dari segi kemungkinan keduanya untuk digugurkan dan dipindahkan. Maka mereka menetapkan bahwa asal dari hak manusia adalah kebaikan yang menyangkut dirinya sendiri yang bisa dipindah dan digugurkan atau diperlakukan dengan perlakuan lainnya.

Sedangkan hukum asal dari Allah tidak bisa dipindah dan digugurkan kecuali ditetapkan berdasarkan kaidah-kaidah syariat tertentu.

Dalam menetapkan kedua dasar ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata, “Hak itu ada dua macam, hak Allah dan hak manusia. Hak Allah tidak bisa diotak atik, sedangkan hak manusia bisa diotak atik, digugurkan atau diganti.[8]

Asy Syatiby  berkata, “Hak Allah  yang difahami dari syariat, tidak membawa kebaikan kepada mukallaf secara individu, baik secara logika maupun tanpa logika. Dan ditempat lain ia berkata, “Setiap hak Allah  tidak membawa kebaikan bagi mukallaf secara langsung, sedangkan hak manusia akan membawa kebaikan untuk dirinya sendiri.

Alqarafy  berkata, “Yang kami maksud dengan hak manusia yang khusus adalah hak yang apabila digugurkan dia bisa gugur, jika tidak dapat digugurkan, maka itu bukan hak manusia melainkan hak Allah , yaitu perintahnya untuk menyampaikan hak itu kepada orang yang berhak menerimanya. Hal itu bisa diketahui melalui bisa tidaknya digugurkan. Semua hak yang berkaitan dengan manusia bisa digugurkan dan itulah yang saya sebut dengan hak manusia dan segala hak yang tidak dapat digugurkan adalah hak Allah .[9] Setiap dasar hukum dari kedua dasar hukum ini memiliki pengecualian, kadang ada hak manusia yang tidak bisa dipindahkan dan digugurkan dan kadang pula hak Allah  bisa dipindahkan dan digugurkan.

Adapun pengecualian yang berkaitan dengan hak manusia yang tidak bisa dipindah dan digugurkan, dasarnya dikembalikan kepada alasan bahwa hak menurut pandangan islam adalah pemberian Allah  kepada manusia, maka hak itu tidak kuat kecuali ditetapkan dengan syariat. Allah  mensyariatkan hak dan mengharuskan manusia untuk menempuh jalan khusus dalam menggunakan hak tersebut. Jika hak khusus itu digunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan jalan yang ditetapkan, maka perlakuan itu haram hukumnya. Al Izz Bin Abdissalam berkata, “Tidak ada hak manusia yang gugur atau digugurkan kecuali karena adanya hak Allah  untuk dilaksanakan dan ditaati”.[10] Allah  yang menetapkan jalan itu, melarang manusia untuk terlalu berlebihan dalam membela haknya sehingga membahayakan orang lain dan menghilangkan hak mereka.[11]

Adapun pengecualian yang berkenaan dengan hak Allah  untuk dipindahkan dan digugurkan itu terjadi ketika ada pertentangan hak dan bertemunya kemaslahatan dan kerusakan. Maka tidak ada jalan keluarnya, kecuali dengan memindahkan atau menggugurkannya sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu yang disimpulkan oleh para ulama dari nash-nash syariat dan hukum-hukumnya. Diantara kaidah yang paling jelas adalah, “Mencari resiko yang paling kecil dari dua bahaya untuk menolak bahaya yang lebih besar, atau mengorbankan kemaslahatan yang kecil untuk mendapatkan kemaslahatan yang lebih besar”.

 

PENDAPAT YANG MEMBOLEHKAN TRANSPLANTASI

Bolehnya transplantasi organ tersebut ditegaskan oleh banyak majelis fatwa dan juga ulama secara individu. Dari kalangan majelis fatwa internasional, seperti beberapa lembaga antara lain :

  1. Konferensi OKI (di Malaysia, April 1969 M) dengan ketentuan kondisinya darurat dan tidak boleh diperjualbelikan.
  2. Lembaga Fikih Islam dari Liga Dunia Islam (dalam keputusan mudzakaroh-nya di Mekkah, Januari 1985 M)
  3. Majelis Ulama Arab Saudi (dalam keputusannya no. 99 tgl. 6/11/1402 H)
  4. Panitia Tetap Fatwa Ulama dari negara-negara Islam di antaranya seperti :

a.Kerajaan Yordania dengan ketentuan (syarat-syarat) sbb :

  • Harus dengan persetujuan orang tua mayyit/ walinya atau wasiat mayyit.
  • Hanya bila dirasa benar-benar memerlukan dan darurat.
  • Bila tidak darurat dan keperluannya tidak urgen atau mendesak, maka harus memberikan imbalan pantas kepada ahli waris donatur (tanpa transaksi dan kontrak jual-beli).
  1. Negara Kuwait (oleh Dirjen Fatwa Dept. Wakaf dan Urusan Islam keputusan no.97 tahun 1405 H) dengan ketentuan seperti di atas.
  2. Rep. Mesir. (dengan keputusan Panitia Tetap Fatwa Al-Azhar no. 491)
  3. Rep. Al-Jazair (Keputusan Panitia Tetap Fatwa Lembaga Tinggi Islam Aljazair, 20/4/1972)

Disamping itu banyak fatwa dari kalangan ulama bertaraf internasional yang membolehkan praktek tersebut di antaranya adalah :

1.Abdurrahman bin Sa’di ( 1307-1367 H),

2.Ibrahim Alyakubi (dalam bukunya Syifa Alqobarih),

3.Jadal Haq (mufti Mesir dalam majalah Al-Azhar vol. 7 edisi Ramadhan 1403),

4.DR.Yusuf Qordhowi (dalam Fatawa Mu’ashiroh II/530),

5.DR.Ahmad Syarofuddin (hal. 128),

6.DR.Rouf Syalabi (harian Syarq Ausath, edisi 3725, Rabu 8/2/1989),

7.DR.Abd. Jalil Syalabi (harian Syarq Ausath edisi 3725, 8/2/1989 M),

8.DR.Mahmud As-Sarthowi (dalam bukunya Zar’ul A’dho, Yordania),

9.DR.Hasyim Jamil (majalah Risalah Islamiyah, edisi 212 hal. 69).

10.KH.Ali Yafie juga menguatkan bahwa ada kaedah ushul fiqh yang dapat dijadikan penguat pembolehan transplantasi yaitu hurmatul hayyi a’dhamu min hurmatil mayyiti (kehormatan orang hidup lebih besar keharusan pemeliharaannya daripada yang mati).

Meskipun demikian sangat perlu dan harus ada penjelasan hukum syariah yang lebih detil dan tegas dalam masalah ini dan tidak boleh ta’mim (generalisasi) hukum terlepas dari batas dan ketentuan serta syarat-syarat lebih lanjut agar tidak keluar dari hikmah kemanusiaan dan norma agama serta moral samawi sehingga menjadi praktek netralitas etis yang tidak sesuai dengan budaya manusiawi dan keagamaan.[12]

Dalil Kebolehan Transplantasi

Secara umum dan pada prinsipnya mereka membolehkannya dengan alasan dan dalil sebagai berikut:

  1. Ayat-ayat tentang dibolehkannya mengkonsumsi barang-barang haram dalam kondisi benar-benar darurat antara lain: QS. 2:173, 5:3, 6:119,145.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah l. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[13]

Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[14]

Padahal sesungguhnya Allah l telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.[15]

Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.[16]

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.[17]

  1. Ayat-ayat tentang keringanan dan kemudahan dalam Islam antara lain: (QS. 2:185,4:28, 5:6, 22:78)

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.[18]

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.[19]

Allah tidak hendak menyulitkan kamu.[20]

Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.[21]

  1. Hal itu sebagai amal jariyah bagi donatur yang telah mati dan sangat berguna bagi kemanusiaan.
  2. Allah sangat menghargai dan memuji orang-orang yang berlaku itsaar tanpa pamrih dan dengan tidak sengaja membahayakan dirinya atau membinasakannya (QS. 59:9).

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.[22]

  1. Kaedah-kaedah umum hukum Islam yang mengharuskan dihilangkannya segala bahaya.[23]

Kemudharatan itu harus dihilangkan.

Tidak ada hukum haram beserta dharurat dan hukum makruh beserta kebutuhan.

Apa yang dibolehkan karena adanya kemudharatan diukur menurut kadar kemudharatan.

Apa yang diizinkan karena udzur, hilang keizinan itu sebab hilangnya udzur.

Kemudharatan itu tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan.

Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan, dan apabila berlawanan antara mafsadah dan maslahah, didahulukan yang menolak mafsadah.

Apabila dua mafsadah bertentangan, maka diperhatikan mana yang lebih besar madharatnya dengan dikerjakan yang lebih ringan madharatnya.

Kebutuhan itu menduduki kedudukan dharurat, baik hajat umum (semua orang) ataupun hajat khusus (satu golongan atau perorangan).

PENDAPAT YANG MELARANG TRANSPLANTASI

Al Murghinani  berkata, “Tidak diperkenankan menjual rambut manusia atau memanfaatkannya. Karena manusia itu terhormat bukan hina, maka tidak diperbolehkan sebagian dari anggata badannya untuk dihina dan dihinakan.[24]

Al Kasani  berkata, “Adapun tulang manusia dan rambutnya tidak boleh dijual, bukan karena dia najis atau karena suci menurut riwayat yang shahih, akan tetapi karena untuk menghormatinya. Sebab menjualnya berarti merendahkannya.[25]

Dalam fatawa Al Hindiyah dikatakan, “Memanfaatkan anggata tubuh manusia tidak diperbolehkan. Ada yang mengatakan karena najis dan ada yang mengatakan karena kehormatan, alasan kedua inilah yang benar.[26]

Ibnu Qudamah  menulis dalam kitab Al Mughni tentang haramnya menjual anggata tubuh manusia yang terpotong dengan alasan karena hal itu tidak bermanfaat.[27]

Asy Syarbini Al Khatib  berkata, “Diharamkan menjual manusia dan seluruh anggata tubuhnya karena kehormatannya.[28]

Imam Nawawi  dan lain-lain menegaskan, “Bahwa diharamkan manusia memotong salah satu anggata tubuhnya dan memberikannya kepada seseorang yang dalam keterpaksaan agar dimakannya.[29]

Para fuqaha’ sepakat, bahwa tidak boleh bagi seseorang yang terpaksa memakan badan manusia hidup yang darahnya suci untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan.[30] Begitu juga diharamkan menjual manusia merdeka secara ijma’ fuqaha.[31]

Teks-teks ini menunjukkan bahwa pada dasarnya memanfaatkan anggata badan manusia hukumnya haram, baik karena kehormatannya maupun karena tidak mungkin memanfaatkannya pada jalan yang disyariatkan.

Namun demikian, para ulama memberikan pengecualian dari hukum dasar ini dan membolehkan untuk memanfaatkan anggata badan manusia untuk kepentingan tertentu atau memperlakukannya dengan perlakuan tertentu, kebanyakan pembolehan itu berkaitan dengan masalah keterpaksaan. Namun semuanya masih diperselisihkan antara para fuqaha, diantaranya ada yang berkaitan dengan memanfaatkan jasad yang hidup dan ada pula yang berkaitan dengan pemanfaatan jasad yang mati. Adapun pengecualian yang berkaitan dengan jasad yang hidup adalah:

  • Menjual susu manusia
  • Orang yang terpaksa memakan badan manusia yang hidup yang berhak untuk dibunuh
  • Dibolehkan memotong bagian dari dirinya, seperti paha atau bagian lainnya untuk dimakannya, dengan syarat tidak ada jalan lain untuk menghindari keterpaksaan itu

Sebenarnya hampir semua ulama mendukung praktek ini asalkan mengikuti ketentuan-ketentuan kaedah syariah kecuali sebagian kecil dari mereka yang keberatan dan tidak memperbolehkannya seperti :

1.Syeikh As-Sya’rowi (harian Alliwa edisi 226, 27/6/1407).
2.Al-Ghomari (dalam bukunya tentang haramnya transplantasi).
3.Assumbuhli (Qodhoya fiqhiyyah mu’ashiroh, hal.27).
4.Hasan Assegaf (dalam bukunya tentang transplantasi).
5.DR. Abd. Salam Asssakri (dalam bukunya tentang transplantasi) dan lainnya.

Alasan mereka secara umum adalah keberatan mereka terhadap praktek transplantasi karena dapat berakibat dan menjurus kepada tindakan merubah dan merusak kehormatan jasad manusia yang telah dimuliakan Allah l.Semuanya itu sebenarnya dapat ditangkal dan diatasi atau ditanggulangi dengan mengikuti ketentuan-ketentuan medis dan syariah yang berlaku dengan penuh kehati-hatian dan amanah. (QS. 17:70, 4:29. ).[32]

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[33]

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah l adalah Maha Penyayang kepadamu.[34]

HUKUM TRANSPLANTASI SECARA UMUM

Pendonoran anggata badan manusia tidak disyariatkan kecuali jika menjadi sebab yang kuat menolak kerusakan yang lebih besar pada orang yang didonori, daripada kerusakan yang terjadi pada pendonor karena diambil anggata badannya. Karena itulah makna menolak kerusakan yang lebih besar terhadap hak Allah l yang berkaitan dengan jasad pendonor, untuk mendapat kerusakan yang lebih ringan darinya terhadap hak Allah l yang berkaitan dengan jasad pendonor. Begitu juga, islam datang untuk memberi kabar gemberi dan memberi kemudahan bagi ummat untuk beribadah kepada Allah serta memberikan kemaslahatan bersama. Seperti dalam kaidah fikih yang dikatakan oleh izzuddin binabdissalam, bahwa semua masalah fikih dikembalikan pada dua kalimat, yaitu:

“Menolak kerusakan dan mendatangkan kemaslahatan”.[35]

Jika kedua unsur itu bisa terpenuhi, maka pendonor boleh menggugurkan haknya, karena perlakuan terhadap hak yang berkaitan dengan hak Allah l dan hambaNya bisa diterapkan jika mendapat izin dari hamba yang mempunyai hak tersebut dan tidak bertentangan dengan apa yang diperkenankan oleh syariat yang berkaitan dengan hak Allah l.

Dari penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa mendonorkan anggata badan haram hukumnya jika menjadi sebab kematian pendonor walaupun itu membawa kemaslahatan bagi orang yang didonori. Karena kemaslahatan yang diperoleh dari pendonoran itu tidak lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkannya. Dan walaupun kehidupan orang yang didonori menjadi lebih baik. Karena kenyataannya, kemaslahatan yang diperoleh sama dengan kemaslahatan yang kemaslahatan yang diperoleh sama dengan kemaslahatan yang ditinggalkan atau bahkan mungkin lebih sedikit, karena meletakkan anggata pada asal penciptaannya lebih baik daripada meletakkannya pada penciptaan yang baru, apalagi jika pelaksanaan donor itu menyebabkan kerusakan-kerusakan lainnya.

Donor dianjurkan jika membawa manfaat bagi pendonor dan orang yang didonor atau tidak meninggalkan pengaruh bahaya apapun bagi keselamatan pendonor dan membawa manfaat bagi kesehatan orang yang didonor.

PETIKAN QARAR MAJELIS MAJMA’ AL-FIQH AL-ISLAMI

Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami dalam qoror-nya no. 1 pada Muktamar keempat tanggal 6-11 Februari 1988 di Jeddah menyatakan bahwa donor organ tubuh manusia itu terbagi menjadi beberapa bentuk. Dari masing-masing bentuk itu ada hukumnya sendiri-sendiri sesuai dengan pembahasan para ulama dalam muktamar itu.

  1. Boleh memindahkan organ/bagian manusia hidup ke jasad manusia hidup lainnya. Bila organ/bagian itu bisa diperbaharui secara otomatis seperti donor darah dan transplantasi kulit.
  2. Diharamkan mendonorkan bagian organ tubuh yang vital (menentukan hidup mati) bagi nyawa dimana pendonor itu adalah manusia yang masih hidup. Seperti donor hati, jantung dan lainnya.
  3. Begitu juga diharamkan mendonorkan bagian organ tubuh yang akan mengurangi peran pokok kehidupan pendonor sedangkan dia masih hidup. Meski tidak langsung berkaitan dengan nyawa pendonor. Seperti kornea kedua mata.
  4. Sedangkan donor organ dari tubuh manusia yang telah mati kepada manusia hidup yang nyawanya sangat tergantung dari cangkok itu ataupun yang menambah kemampuan pokok manusia dibolehkan. Dengan syarat bahwa hal itu harus seizin mayat itu sejak masih hidup atau seizin dari para ahli warisnya atau izin dari wali muslimin bila mayat itu tidak dikenal identitas dan ahli warisnya.

Perlu ditegaskan bahwa semua bentuk donor organ yang disebutkan di atas tersebut harus bukan merupakan jual beli, karena jual beli organ itu diharamkan.

Namun pengeluaran jumlah tertentu dari penerima donor demi ungkapan rasa terima kasih dan syukur kepada pihak donor, masih menjadi bahan perbedaan dan ijtihad para ulama.[36]

PENDONORAN DARI ORANG YANG MASIH HIDUP

  • Mendonorkan anggata badan yang bisa pulih kembali

Dalam masalah donor darah, sumsum tulang, bagian dari kulit dan beberapa anggata badan manusia lainnya yang bisa pulih kembali, dimana mengambilnya tidak menyebabkan bahaya apapun yang lama jangka waktunya bagi pendonor dan dapat memberikan manfaat padanya, maka hal itu tidak mengapa.

  • Mendonorkan anggata badan yang menyebabkan kematian pada pendonor.

Tidak sah hukumnya menganjurkan seseorang untuk melakukan tindakan tindakan ini, karena anjuran tidak diperkenankan jika bertentangan dengan hak Allah , kecuali jika adanya ketetapan syariat yang membolehkan tindakan tersebut. Akan tetapi suatu anjuran diperbolehkan bagi seorang muslim jika dilakukan pada tempat yang benar dan murni. Atau ada faktor-faktor lain yang sama dengan anjuran untuk memindahkan hak Allah , maka kaidah anjuran itu akan mengikuti kaidah tidak bolehnya menentang hak Allah kecuali jika untuk menghidupkan atau menyelamatkan hak yang lebih besar bagi Allah .

  • Mendonorkan anggata badan yang tidak ada duanya dibadan namun tidak menyebabkan kematian.

Jika anggata badan yang didonorkan adalah satu-satunya dibadan pendonor, pada dasarnya tidak boleh didonorkan kepada oang lain yang jika kehilangan anggata itu tidak menyebabkan kematian. Baik satu-satunya dari sejak awal penciptaan, seperti mulut, buah pelir, dan pankreas atau menjadi satu-satunya karena salah satunya rusak seperti orang yang salah satu matanya rusak yang seperti ini, maka tidak boleh mendonorkannya secara syariat, karena kemaslahatan yang ingin dicapai dari donor pada jasad pengguna, tidak jauh lebih besar daripada kemaslahatan jika anggata itu ada pada jasad pemiliknya, dan kerusakan yang diakibatkan oleh donor itu lebih besar daripada kerusakan apabila dibiarkan apa adanya.

Akan tetapi, ada anggata badan yang hanya satu-satunya di badan, yang tidak menyebabkan kematian jika anggata badan itu kehilangan tugasnya yang mendasar pada pemiliknya, dan tetap ada fungsi dengan baik jika dipindahkan kepada orang lain, maka hal ini tidak mengapa.

  • Mendonorkan anggata badan yang ada pasangannya.

Diperbolehkan mendonorkan anggata badan yang ada pasangannya, jika tidak membahayakan bagi pendonor dengan syarat adanya prasangka yang kuat dari tenaga ahli kedokteran, bahwa jasad pengguna mau menerima/cocok dengan sesuatu yang akan dicangkokkan. Tetapi jika kehidupan pendonor tidak normal kembali dan senantiasa diliputi bahaya dan gangguan kesehatan, maka tidak diperbolehkan.

  • Mendonorkan alat-alat reproduksi

Yang dimaksud dengan alat-alat reproduksi adalah anggata badan manusia yang berfungsi untuk proses menurunkan keturunan, yaitu indung telur dan rahim pada wanita, serta dua biji telur dan buah pelir bagi laki-laki, yang dengan alat-alat itu dipertemukan antara sperma laki-laki dan sel telur (ovum) wanita.

Maka dalam menetapkan hukum mendonorkan alat-alat reproduksi perlu diperhatikan:

  • Mendonorkan rahim orang yang masih hidup tidak boleh kecuali dalam satu keadaan, yaitu wanita yang mendonorkan rahimnya itu adalah wanita yang sudah rusak indung telurnya, sehingga rahim itu tidak berguna lagi baginya. Kemudian ia mendonorkannya kepada wanita lain yang rusak rahimnya tapi masih memiliki indung telur yang masih bagus.
  • Menonorkan batang pelir orang hidup haram hukumnya. Karena itu adalah satu-satunya anggata badan didalam jasad, sehingga mendonorkannya tidak akan membawa maslahat yang lebih dari keadaan semula.
  • Adapun mendonorkan air mani adalah bertentangan dengan tujuan syariat, yaitu menyebabkan terjadinya keturunan tanpa melalui jalur pernikahan, maka tidak ada celah untuk mengatakan boleh melakukannya.
  • Begitu juga mendonorkan sel telur wanita, sama posisinya dengan mendonorkan air mani. Hukumnya haram.
  • Begitu juga halnya dengan donor indung telur wanita, dimana para dokter ahli berpendapat bahwa sel telur (ovum) yang dihasilkan oleh indung telur setelah pendonoran, seperti sel seperma, adalah milik pendonor, bukan orang yang didonor.[37]

 

DONOR ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Mendonorkan anggata badan seperti; mata, ginjal, dan jantung yang berasal dari orang yang sudah meninggal tidak tercela, dengan alasan[38]:

  • Alangkah baik dan terpuji, bila organ tubuh itu dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang sangat memerlukannya, daripada rusak begitu saja sesudah mayat itu dikiburkan.
  • Tindakan kemanusiaan sangat dihargai oleh agama islam. Firman Allah swt qs al maidah: 32.
  • Menghilangkan penderitaan orang lain, baik sakit jantung, ginjal maupun buta dianjurkan islam, apakah dengan pengobatan atau dengan cara pencangkokan organ tubuh, sesuai dengan kaidah islam,

“Kemudaratan itu harus dihilangkan“.[39]

Adapun mengenai organ tubuh binatang yang diharamkan yang dicangkokkan kepada manusia, ada dua pendapat, yaitu haram dan tidak haram dalam keadaan darurat. Hukumnya halal, karena darurat dan tidak ada jalan  lain lagi yang dapat ditempuh. Hal ini sejalan dengan kaidah fikhiyah,

“Kemudharatan-kemudharatan itu membolehkan hal-hal yang dilarang”[40]

 

TRANSPLANTASI ORGAN BABI UNTUK MANUSIA

  1. Transpantalasi gigi dengan organ babi dan sejenisnya, hukumnya tidak boleh. Sebab masih banyak benda lain yang bisa digunakan sebagai pengganti dan karena belum sampai pada tingkat kebutuhan yang mendesak.
  2. Transpantalasi dengan organ babi untuk menggantikan organ sejenis pada manusia, hukumnya tidak boleh, kecuali jika sangat diperlukan dan tidak ada organ lain yang seefektif organ babi tersebut. Maka hukumnya boleh menurut pendapat Imam Romli, Imam Asnawi dan Imam Subki. Adapun menurut Imam Ibnu Hajar, orang yang menerima transplantasi tersebut harus Ma’sum. 1. Dalam kitab Hasyiyah Al Jama! ‘AlaI Manhaj I/416, 2. Dalam kitab Mughnil Muhtaj III 95, 3. Dalam kitab Nihayatuz Zaen 41, 4. Dalam kitab Tukhfatul Muhtaj III/l25, 5. Dalam kitab Asnal MathaJib II 172, 6. DaIam kitab Fathul Jawad 26, 7. Dalam kitab Qalyubi Wa Umairah 1/182, 8. Dalam kitab Nihayatuz Zaen: 41.[41]

 

BERWASIAT TERHADAP ANGGATA BADAN MANUSIA

Manusia setelah rohnya keluar masih tetap berhak untuk dihormati, disamping haknya untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan, dikubur dan tidak dianiaya jasadnya. Karena hak-hak itu bukan hanya milik manusia saja melainkan juga milik Allah l yang tidak bisa digugurkan oleh manusia.

Jika dalam hal itu dianggap sebagai penganiayaan, maka pengharamanya merupakan hak manusia dan hak Allah l. Orang itu bisa mengizinkan haknya dan Allah l akan mengizinkan pemindahan hakNya yang lebih besar, berdasarkan kaidah, “Mengambil kemudharatan yang lebih ringan untuk menolak kemudharatan yang lebih besar.

Dengan demikian maka berwasiat untuk mendonorkan anggata badan hukumnya boleh jika terpenuhi syarat-syaratnya, yang mencakup semua anggata badan selain yang dapat menyebabkan pertukaran nasab seperti buah pelir dan indung telur. Karena mendonorkan dua anggata badan ini hukumnya haram.

Menurut pengertian ilmu kedokteran modren, bahwa kematian terjadi karena matinya otak manusia secara total. Dan keamatian tidak terjadi bila yang mati hanya hati dan anggata-anggata badan lainnya.

SYARAT-SYARAT TRANSPLANTASI

  • Para ahli ilmuwan tahu dengan pasti berdasarkan perhitungan ilmiyah yang tepat, tentang keadaan sakit yang dialami oleh penderita yang akan didonori, mengetahui akibat negatif dari pemotongan anggata badan itu pada pendonor, baik dalam waktu dekat maupun jauh dan mengetahui kemaslahatan yang akan diperoleh oleh orang yang didonori itu.
  • Hasil perbandingan antara kemaslahatan dan kemudaratan itu jelas menunjukkan bahwa kemaslahatan pendonoran lebih besar daripada kemaslahatan apabila dibiarkan apa adanya.
  • Hendaknya pendonoran anggata badan itu merupakan jalan satu-satunya untuk menyamatkan orang yang didonor dari keadaan buruknya.
  • Jangan sampai donor itu menjadi sebab hilangnya hak Allah l lainya yang ada pada anggata badan yang didonorkan, seperti jika pendonoran itu mengakibatkan kerusakan masyarakat atau penciptaan yang bertentangan dengan syariat.
  • Jangan sampai donor itu diberikan kepada orang yang tidak berhak hidup menurut hokum syariat. Seperti orang yang akan dihukum qishas.
  • Jangan sampai pendonoran itu menjadi sebab pelecehan terhadap kehormatan manusia. Donor dianggap pelecehan kehormatan manusia jika muncul didalam anggapan pendonor bahwa anggata badan bisa dijual untuk mendapatkan harta yang banyak, sehingga dia mencari-cari orang sakit yang membutuhkan anggata badannya dan menjadikannya jalan untuk meraup keuntungan.
  • Hendaknya pendonor benar-benar paham dengan masalah pendonoran dan ketika praktik pelaksanaan donor dimulai. Adapun bagi mayat, wasiatnya sebelum mati untuk mendonorkan anggata badannya, dapat dianggap sebagai izinnya, dan dapat dilaksanakan setelah kematiannya. Dan sebelum mati, dia harus disuruh untuk memikirkan ulang wasiat yag telah diucapkannya. Tidak ada gunanya izin dari ahli warisnya untuk mendonorkan anggata badan mayat, jika mayat itu tidak berwasiatkan mendonorkannya sebelum matinya.
  • Pelaksanaan proses pencangkokan anggata badan itu harus dilakukan dibawah pengawasan lembaga (yayasan) resmi yang ahli dari segi keilmuan dan diakui kebaikan akhlaknya, agar sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan.
  • Mendonorkann anggata badan yang bisa pulih kembali seperti darah, sumsum tulang dan kulit diperbolehkan hukumnya syarat tidak membahayakan. Baik bagi pendonor maupun pengguna.
  • Mendonorkan anggata badan yang dapat menyebabkan kematian apabila diambil, hukumnya tidak boleh. Karena itu sama dengan bunuh diri yang termasuk dalam kategori dosa besar.
  • Pada dasarnya, tidak boleh mendonorkan anggata badan yang hanya satu-satunya, walaupun hilangnya anggata badan itu tidak menyebabkan kepada kematian. Seperti lidah, pancreas, mata yang satunya sudah rusak dan batang pelir. Ada pengecualian diperbolehkan mendonorkan anggata badan yang hanya satu-satunya, jika dia sudah tidak berfungsi lagi pada jasad pemiliknya, namun anggata itu masih bagus dan bisa berfungsi jika diberikan kepada orang lain. Seperti rahim yang indung telurnya rusak, maka rahim seperti ini boleh didonorkan kepada wanita yang rahimnya rusak tetapi indung telurnya masih bagus, namun harus dengan syarat-syarat yang rinci.
  • Mendonorkan anggata badan yang ada pasangannya yang masih baik pada jasad hukumnya boleh, jika donor itu bisa menjadi sebab yang meyakinkan untuk menyelamatkan pengguna dari kematian dan tidak mengakibatkan terjadinya akibat buruk yang berkepanjangan bagi pendonor maupun pengguna.
  • Diharamkan alat-alat reproduksi manusia, karena hal ini bertentangan dengan tujuan syariat untuk menjaga pencampuran nasab dan menyebabkan adanya pembuatan keturunasn yang tidak melalui jalur pernikahan.
  • Mengambil anggata badan  mayat boleh hukumnya bila didasarkan atas wasiat dari mayat tersebut sebelum kematiannya. Tidak ada pengecualian untuk mengambil anggata badan mayat ini selain anggata badan yang berfungsi untuk reproduksi.[42]

 

MARAJI’:

  • Al Quran Dan Terjemahannya
  • Nukhbah Min Asyatidzah Kulliyah Syariyah Wal Qonun Bil Qahirah, Qadhaya Fikhiyah Mu’ashirah, I, 1422 H/2001 M.
  • Ali Hasan, Masail Fikhiyah Al Haditsah, cet. IV, Pt Raja Grafindo Persada Jakarta
  • Syaikh Dr Muhammad Shidqy Bin Ahamd Bin Muhammad Al Burnu Abul Harits Al Ghazzy, Al Wajiz Fi Idhahi Qawaidi Al Fikhi Al Kulliyah, cet IV, 1416 H/1996 M, Muassasah Ar Risalah
  • Abdul Aziz Muhammad Azzam Dan Ahmad Muhammad Al Hashary, Al Qawaid Al Fiqhiyah, 2003 M.
  • Dr Muhammad Ar Ruqy, Qawaid Al Fikhi Al Islamy Min Khilali Kitab Al Isyraf Ala Masail Khilaf Lilqadhi Abdil Wahab Al Baghdadi Al Maliki, cet I, tahun 1419 H/1998 M, Darul Qalam.
  • Dr M Nuaim Yasin, Abhats Fikhiyah Fiqadhaya At Tibbiyah Al Mu’ashirah (Fikih Kedokteran), cet I, tahun 1421 H Darus Salam, edisi indo diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Tahun 2991 M
  • Abdul Mudjid, Qawaid Fiqhiyah (Kaidah-Kaidah Fikih)
  • Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’di, Risalah Fi Al Qawaid Al Fikhiyah, cet I, tahun 1424 H/2003 M, Dar Ibnu Hazm
  • Prof Dr Abu Zahrah, Ilmu Ushul Fikih
  • Internet; eramuslim.com, www.infad.kuim, www.serambi.com.

[1] www.infad.kuim

[2] Masail Fikhiyah Al Haditsah: 121

[3] www.serambi com

[4] Pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas prasaran-prasaran mengenai suatu pokok atau masalah (kumpulan konsep yang diajukan oleh beberapa orang atas permintaan panitia).

[5] www.infad.kuim

[6] Fikih Kedokteran: 151, dinukil dati Kitab Hasiyah Abnu Abidin I/602 dan II/591.

[7] fikih Kedokteran: 151 dan Ilmu Ushul Fikih: 310

[8] Fikih Kedokteran: 157 Dinukil Dari Qawaid Al Ahkam: I/167

[9] Fikih Kedokteran: 158 dinukil dari Kitab Al Furuq I/141

[10] Fikih Kedokteran: 158 dinukil dari Qawaid Al Ahkam I/167

[11] Fikih Kedokteran: 158 dinukil dari Muwafaqat II/348

[12] www.eramuslim.com

[13] Qs Albaqarah: 173

[14] Qs Almaidah: 3

[15] Qs alanam: 119

[16] Qs alanam: 145

[17] Qs almaidah: 32

[18] Qs albaqarah: 185

[19] Qs annisa: 28

[20] Qs almaidah: 6

[21] Qs alhajj: 78

[22] Qs al hasyr: 9

[23] Kaidah-kaidah fikih: 34-41

[24] Fikih Kedokteran: 138 dinukil dari al hidayah III/34

[25] Qadhaya Fiqhiyah Muasharah: I/295, dinukil dari Badai’ul Shanai’ Lilimam Kasani

[26] Fikih Kedokteran: 138-139 dinukil dari Al Hindiyah V/354

[27] Fikih Kedokteran: 138-139 dinukil dari Al Mughni Wa Syarhul Kabir IV/304

[28] Fikihh Kedokteran: 139 dinukil dari Mughni Al Muhtaj I/191

[29] Fikih Kedokteran: 139 dinukil dari Al Majmu’ 9/37

[30] Fikih Kedokteran: 139 dinukil dari Asybah Wan Nadhair: 87 dan Mughni I/79

[31] Qadhaya Fikhiyah Mu’ashirah: 257

[32] www.eramuslim.com

[33] Qs alisraa: 70

[34] Qs an nisa: 29

[35] Kaidah-kaidah fikih: 10

[36] www.eramuslim.com

[37] Fikih Kedokteran: 169-178

[38] Masail Fikhiyah Al Haditsah: 124-127

[39] Kaidah-kaidah Fikih, Abdul Mudjid: 34, Qawaid Al Fikhi Al Islamy: 197

[40] Risalah Fi Alqawaid Al Fikhiyah: 53 dan Al Qawaid Al Fikhiyah: 206

[41] www.infad.kuim

[42] Fikih Kedokteran: 188-190

Leave A Reply