Tiga Kakek Jenggot Putih

0
Minggu pagi ini, cuaca sangat cerah. Ella sekeluarga juga berkumpul sambil menunggu ibu selesai memasak. Ayah yang sedang membaca koran, tiba-tiba merasakan Ella terdiam lama sambil memandang ke luar jendela, “Sayang kamu memandang apa di luar sana?” Ella mendekati ayahnya sambil menunjuk ke luar jendela, “Ayah, ada 3 orang kakek aneh berjenggot putih yang telah lama duduk di luar sana. “Benarkah?”, sahut ayah sambil melihat ke luar jendela sebentar, kemudian berjalan keluar rumah. Tak lama ibu dan Ella juga mengikuti.
Ayah lalu bertanya kepada ketiga kakek tua itu, “Kakek-kakek, mengapa kalian duduk di sini begitu lama? Apakah sedang menunggu seseorang?” Salah satu kakek menjawab, “Kami sedang melakukan perjalanan dan merasa sedikit lelah, oleh karena itu ingin beristirahat di sini sejenak.” Kemuadian ibu yang merasa iba terhadap para kakek tua itu, dengan senang hati mengundang mereka, “Mari silakan masuk ke dalam rumah kami. Istirahatlah sebentar sambil mencicipi makanan kecil yang baru saya buat.” Salah satu kakek itu menjawab, “Terima kasih banyak, akan tetapi kami tidak bisa bersamaan masuk ke dalam rumah kalian.” “Lho, mengapa?” tanya mereka bertiga serentak.
Kakek tertua menjelaskan, “Karena saya bernama Kasih Sayang, disamping saya bernama Kesuksesan dan Kekayaan, hanya salah satu dari kami yang bisa masuk ke dalam rumah kalian.” Maka akhirnya terjadi perbedaan pendapat diantara ayah, ibu dan Ella. Ibu memilih duluan, meminta kakek kekayaan untuk masuk ke rumah, karena dia berdiri disamping ibu. Sedangkan ayah cenderung memilih kakek kesuksesan, “Menurut saya, lebih baik kakek kesuksesan yang masuk ke dalam rumah kita.” Akan tetapi si Ella lebih suka memilih kakek yang tertua, “Ayah ibu, saya ingin kakek Kasih Sayang saja yang masuk ke rumah kita.”
Akhirnya mereka memutuskan mengikuti keinginan Ella. Ayah mempersilakan kakek Kasih Sayang untuk masuk ke rumah. Ketika kakek Kasih Sayang masuk kedalam rumah, kedua kakek lainnya juga ikut masuk. Ibu pun bertanya keheranan, “Lho, mengapa kalian bertiga jadi masuk bersamaan?”
Kakek Kekayaan berkata, “Jika kalian mengundang Kekayaan atau Kesuksesan, yang lainnya tentu tidak akan ikut masuk.” Si kakek Kesuksesan menyambung, ”Akan tetapi kalau kalian mengundang Kasih Sayang, kemanapun dia pergi, kami selalu akan mengikutinya.” Si kakek Kasih Sayang dengan bijak mengakhiri, “Karena dimana ada Kasih Sayang maka disana pasti ada Kekayaan dan Keberhasilan.”
Sebuah pesan bijak, bahwa apabila dihati selalu ada kasih sayang, maka kekayaan dan keberhasilan akan selalu menyertainya. (disadur dari : Cerita anak sekolah Minghui/ntdtv/ing) (Erabaru.or.id)
Membantu orang lain – membantu diri sendiri
Ada kisah tentang seorang laki-laki yang melakukan pendakian gunung. Dia dikejutkan oleh badai salju yang datang tiba-tiba dan dengan cepat kehilangan jalan. Dia tahu bahwa dia memerlukan perlindungan dengan cepat kalau tidak dia akan mati membeku. Walaupun sudah melakukan banyak usaha tapi tangan dan kakinya dengan cepat sudah menjadi mati rasa.
Dalam pengembaraannya, secara tidak sengaja dirinya tersandung tubuh laki-laki lain yang sudah hampir beku. Pendaki ini harus membuat keputusan. Apakah dia akan menolong laki-laki itu ataukan dia harus meneruskan perjalanannya dengan harapan bisa menyelamatka diri sendiri?
Dalam waktu sesaat dia mengambil keputusan dan melepas sarung tangannya yang basah. Dia berlutut di samping tubuh laki-laki itu dan membantu mengurut tangan dan kakinya. Setelah pendaki ini bekerja selama beberapa menit, laki-laki itu mulai memberikan tanggapan dan segera bisa berdiri. Bersama-sama kedua laki-laki ini yang saling membantu, mendapatkan pertolongan. Di kemudian hari, pendaki ini diberitahu bahwa dengan menolong orang lain, dia juga menolong dirinya sendiri. Mati rasanya hilang ketika dia membantu mengurut tangan dan kaki orang asin itu. Kegiatannya yang semakin banyak membantu memperlancar peredaran daranya serta mendatangkan kehangatan pada tangan dan kakinya sendiri.
Merupakan hal yang ironis tetapi tidak mengherankan bahwa ketika dia kehilangan perhatian atas dirinya sendiri dan kesulitannya dan berfokus pada orang lainnya maka dia telah memecahkan masalah bagi dirinya. Satu-satunya cara untuk mencapai puncak gunung kehidupan adalah melupakan sifat egois kita dan mau menmbantu orang lain untuk mencapai keberhasilan yang lebih tinggi.

Dikutip dari http://jowo.jw.lt

Leave A Reply