Tidak Thuma’ninah Dalam Shalat

0

Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah saw bersabda:

“Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.” Mereka bertanya, “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Beliau menjawab.. “Ia tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.”[1]

Meninggalkan thuma’ninah,[2] tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku dan sujud, tidak  tegak ketika bangkit dari ruku serta ketika duduk di antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin.

Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjidpun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya. Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah saw bersabda:

“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku dan sujud.”[3]

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya. Abu Abdillah Al Asy’ari ra berkata, “Suatu ketika rasulullah saw shalat bersama sahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku lalu sujud dengan cara mematuk,[4] maka rasulullah bersabda:

“Apakah kalian menyaksikan orang ini? Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk daam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup/kenyang dengannya.”[5]

Zaid bin Wahb rahimahullah berkata, “Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya, ia lalu berkata, “Kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini), niscaya engkau mati di luat fitrah (islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad saw.”

Orang yang tidak thuma’ninah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu berdasarkan hadits:

“Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.”

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

[1] Hadits riwayat Imam Ahmad, 5/310 dan dalam shahihul jami hadits no. 997.

[2] Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan, para ulama  memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat fiqhus Sunnah, sayyid sabiq:  1/124 pent.s

[3] Hadits riwayat Abu  Daud 1/533, dalam shahihul jami hadits no. 7224.

[4] Sujud dengan cara mematuk maksudnya sujud dengan  cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas ra bahwasannya ia mendengar nabi  saw bersabda, “Jika seorang hamba sujud maka ia  sujud dengan tujuh anggota badannya,  wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya.” (HR. Jama’ah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus Sunnah sayyid sabiq 1/124.

[5] Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya 1/332. Lihat pula shifatus shalatin nabi, oleh al albani hal. 131.

Leave A Reply