Thiyarah

0

Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja. Allah ta’ala berfirman:

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Al-A’raf:; 131)

Dahulu kala di antara tradisi bangsa arab adalah; jika salah seorang dari mereka hendak melakukan suatu pekerjaan, berpergian misalnya, maka mereka meramal keberuntungannya dengan burung. Salah seorang dari mereka memegang burung lalu melepaskannya. Jika burung tersebut terbang kearah kanan, maka  ia optimis sehingga melangsungkan pekerjaannya, sebaliknya, jika burung tersebut terbang ke arah kiri maka ia merasa bernasib sial dan mengurungkan pekerjaan yang diinginkannya.

Oleh nabi  saw hukum perbuatan  tersebut diterangkan dalam sabdanya:

Thiyarah  adalah  syirik.[1]

Termasuk dalam kepercayaan yang diharamkan, yang juga menghilangkan kesempurnaan tauhid adalah merasa bernasib sial dengan bulan-bulan tertentu. Seperti tidak mau  melakukan pernikahan pada bulan Shafar. Juga kepercayaan bahwa hari Rabu yang  jatuh pada akhir setiap bulan membawa kemalangan terus-menerus.

Termasuk juga merasa sial dengan angka 13, nama-nama tertentu atau orang cacat. Misalnya, jika ia pergi membuka tokoya lalu di jalan ia melihat orang buta sebelah matanya,, serta-merta ia merasa bernasib sial sehingga mengurungkan niat untuk membuka tokonya. Juga berbagai  kepercayaan yang semisalnya.

Semua hal di atas hukumnya haram dan termasuk syirik. Rasulullah saw berlepas diri dari mereka. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imran bin Hushain ra:

Tidak termasuk golongan kami  orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau  meminta diramalkan (dan saya kira juga beliau bersabda): dan yang menyihir atau yang meminta disihirkan.[2]

Orang yang terjerumus melakukan hal-hal di atas, hendaknya ia membayar kaffarat (denda) sebagaimana yang dituntunkan nabi saw;

Barangsiapa yang (kepercayaan) thiyarahnya mengurungkan hajat (yang hendak dilakukannya), maka ia telah melakukan syirik.” Mereka bertanya, “Wahai rasulullah, apa kaffarat (tebusan), daripadanya?” Beliau bersabda, “Hendaklah salah seorang dari mereka mengatakan, “”Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiada kesialan kecuali kesialan dari  Engkau dan tidak ada sembahan yang hak selain Engkau.”[3]

Merasa pesimis atau  bernasib sial termasuk salah satu tabiat jiwa manusia. Suatu saat, perasaan itu menekan begitu kuat dan pada saat yang lain melemah.

Penawarnya yang paling ampuh adalah tawakal kepada Allah ta’ala. Ibnu Masud ra berkata:

Tiada seorang pun di antara kita kecuali telah terjadi dalam jiwanya sesuatu dari hal ini, hanya saja Allah ta’ala menghilangkannya dengan tawakkal (kepada-Nya).”[4]

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

[1] Hadits riwayat Ahmad 1/389, dalam riwayata shahihul jami no. 3955

[2][2] Hadits riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 18/162, lihat; shahihul jami no. 5435.

[3] Hadits riwayat Ahmad 2/220, silsilah as-shahihah; no. 1065. (hadits ini lemah, sebaiknya disebutkan dengan menjelaskan kelemahannya, Bin Baz rahimahullah).

[4] Hadits riwayat Abu Daud; no. 3910, dalam silsilah shahihah; no. 430.

Leave A Reply