THARIQUL IMAN

0


Apa sih yang menyebabkan Bilal bin Rabbah rela terpanggang di terik matahari dibawah tindihan batu besar, dengan siksaan yang demikian hebatnya, padahal siksaan tersebut akan berhenti bila dia mau mengucapkan hanya beberapa kata. Atau apa sih yang menyebabkan Mush’ab bin Umair, seorang pemuda tampan dan kaya, mau meninggalkan segala kemewahan hidupnya, apapula yang menyebabkan seorang Utsman bin Affan yang kaya raya serta seorang Abu Bakar yang disegani masyarakat mau mengabdikan hidupnya, atau apa yang menyebabkan seorang Umar yang terkenal sebagai singa padang pasir meleleh hatinya. Apapula yang menyebabkan ribuan bahkan jutaan orang rela menghadapi kematian dalam suatu peperangan dengan wajah yang tersenyum bahagia, dan apa yang menyebabkan saudara-saudaranya yang ditinggal malah iri melihat kematiannya itu.

Mungkin terlalu mengherankan bagi orang awam kali yee, kalau ternyata jawabannya adalah untuk sebuah kalimat “Laailahaillallah” tiada tuhan selain Allah.  Kalimat yang menjadi landasan jiwa orang-orang yang mengaku dirinya muslim.
Nah, inilah Aqidah Islamiyah. Aqidah yang kokoh kebenarannya, dan cemerlang dan meyakinkan, satu-satunya ajaran yang benar dan dapat diterima secara jernih oleh pikiran.
Inilah yang membuat orang rela mati dalam memperjuangkannya, inilah yang menyebabkan sebuah masyarakat terasing menjadi masyarakat berperadaban paling tinggi, inilah yang menyebabkan orang yang hina menjadi mulia, dan inilah yang membuat seseorang ditentukan selamat atau tidak dirinya di hari akhir nanti.
Apa sih aqidah islamiyah itu? Sudahkah kita mengenal Allah dengan baik Mungkin kedengerannya pertanyaan itu udah usang kita dengar bersama, tapi sudahkah kita coba tuk memahaminya, kalo antum udah baligh (jelas dong, udah SMU kok) tapi belum memahami yang namanya aqidah jelas rugi banget-banget deh, gak tanggung-tanggung ruginya, dunia akhirat. Padahal kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (baligh) adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah SWT. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu. Artinya kewajiban pertama kita ialah memahami yang namanya Aqidah dan mengenal Sang Pencipta kita, Allah SWT.
So, gimana caranya kita mengenal Allah padahal kita tak dapat menginderanya. Nah, orang Badui pernah juga ditanya yang begituan dan apa jawabnya “Tahi onta menunjukkan adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan”
Terkesan meulu-ulu kali ya, tapi benar kok, sebenarnya kita dapat mengenal Allah dari ciptaannya, mulai dari yang paling sepele, sampai yang paling dahsyat sekalipun, disana kita akan menemukan kebesaran dan keagungan Allah, coba deh tengok ke sekelilingmu, alam yang demikian luasnya, begitu sempurnanya, makhluk hidup yang beraneka ragam, kalo bukan Allah siapa lagi yang menciptanya
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam dan siang. Berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langitberupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya. Dan ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Dan pengisaran air dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya (semua itu) terdapat tanda-tanda ( Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”( QS Al Baqarah:164)
Banyak lagi ayat serupa lainnya yang mengajak manusia untuk memperhatikan benda-benda alam sekelilingnya ataupun yang berhubungan dengan dirinya untuk dijadikan petunjuk akan adanya Pencipta Yang Maha Pengatur sehingga imannya menjadi mantap, berakar pada akal dan bukti yang nyata ( buka tuh QS AlImran 190, QS ArRum 22, QS AlGhasiyah 17-20, QS AtThariq 5-7, dsb)
Bukti bahwa segala sesuatu mengharuskan adanya pencipta yang menciptakannya sebenarnya dapat diterangkan sebagai berikut: bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau akal terbagi 3 unsur yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang, serta saling membutuhkan antara satu dengan yang lain.
Contohnya manusia. Manusia terbatas sifatnya karena ia tumbuh dan berkembang sampai batas tertentu yang tidak dapat dilampauinya lagi (ngaku nggak). Begitu pula halnya dengan hidup(nyawa/biotik) penampakannya bersifat individual semata. Juga alam semesta yang merupakan himpunan dari benda-benda angkasa yang setiap bendanya memiliki keterbatasan.
Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas akan kita simpulkan bahwa semuanya tidak azali(berawal dan berakhir). Dengan demikian jelas bahwa segala yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”. Inilah yang disebut AlKhaliq. Dialah yang menciptakan manusia, hidup, dan alam semesta
Dalam menentukan keberadaan Pencipta kita dapati tiga kemungkinan
1.          Ia diciptakan yang lain, adalah kemungkinan yang bathil, tidak dapat diterima akal. Sebab bila benar, pasti dia bersifat terbatas, ada yang menentukan awalnya
2.          Ia menciptakan dirinya sendiri, juga bathil. Sebab bila demikian berarti dia sebagai makhluk dan khalik pada saat bersamaan, suat yang tak dapat diterima
3.          Ia Wajibul Wujud dan azali inilah yang benar dan dapat diterima akal. AlKhalik tidak berawal dan berakhir. Dialah Allah SWT.
Memang benar iman kepada adanya Pencipta ini merupakan hal yang fithri pada manusia tapi kebanyakan hanya muncul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka. Cara seperti ini bila dibiarkan begitu saja, tanpa dikaitkan dengan akal sangatlah gawat akibatnya. Dalam kenyataan perasaan tersebut sering menambah-nambah apa yang diimani, dengan sesuatu yang tiada hakikatnya, bahkan ada yang mengkhayalkannya dengan sifat-sifat tertentu yang dianggap lumrah terhadap apa yang ia imani. Tanpa sadar cara tersebut justru menjerumuskannya ke arah kekufuran dan kesesatan.
Penyembahan berhala, khurafat (cerita bohong) tidak lain merupakan akibat salahnya reaksi hati ini. Oleh karena itu Islam menegaskan agar senantiasa menggunakan akal disamping adanya perasaan hati. Islam mewajibkan umatnya untuk menggunakan akal dalam beriman kepada Allah SW, serta melarang bertaqlid (ikut-ikutan secara buta) dalam masalah aqidah. Dengan demikian setiap muslim wajib menjadikan imannya betul-betul muncul dari proses berfikir. Disamping itu juga umat islam diperingatkan gar tidak mengambil jalan yang ditempuh nenek moyangnya tanpa meneliti dan menguji kembali sejauh mana kebenarannya.
Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya, namun ia tidak mungkin menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Sebab sifat dan kemampuan akal terbatas. Maka dari itu perlu diingatbahwa akal tidak mampu menjangkau Dzat Allahdan hakekatnya. Tetapi perlu dicatat bahwa bukan lantas dikatakan “Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah, sedang akalnya tidak memahami Dzat Allah?” Tentu tidak demikian karena iman pada Allah hakikatnya adalah percaya terhadap keberadaan Allah
Nah, lalu mari kita berpikir jernih, tentang bukti kebenaran kitab yang diturunkan Allah, yaitu AlQur’an. AlQur’an itu datang dari Allah SWT dapat dilihat dari kenyataan bahwa AlQur’an adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Karena AlQur’an jelas adalah khas Arab baik segi bahasa maupun gayanya maka hanya ada 3 kemungkinan:
1.          AlQur’an karangan orang Arab. Kemungkinan itu tertolak sebab AlQur’an sendiri menantang orang Arab membuat karya serupa AlQur’an (QS AlBaqarah 23) dan orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya tapi tidak berhasil.
2.          AlQur’an karangan Muhammad. Juga tidak dapat diterima akal. Sebab Muhammad adalah orang Arab juga, bagaimanapun jeniusnya, tetaplah ia seorang manusia yang menjadi salah satu anggota masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya serupa AlQur’an maka Muhammad juga tidak bisa. Terlebih lagi dengan adanya banyak hadis-hadis sahih bahkan mutawatir dari Muhammad yang bila dibandingkan dengan ayat manapun dalam AlQur’an tidak ada kemiripan dari segi bahasnya padahal keduanya berasal dari mulut yang sama. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang mengubah gaya bahasnya tetap akan ada kemiripan. Maka yakinlah bahwa AlQur’an bukan perkataan Nabi.
3.           Bila kemungkinan-kemungkinan diatas pasti salah maka tinggal satu kemungkinan bahwa AlQur’an merupakan firman Allah
Dari AlQur’an inilah kita wajib beriman kepada hari kebangkitan, pengumpulan di padang mahsyar, surga, neraka, hisab, siksa, juga adanya malaikat, jin setan serta apa yang telah diterangkan oleh AlQur’an dan hadits qath’i
Inilah iman yang diserukan oleh islam. Iman semacam ini bukanlah seperti yang dikatakan orang sebagai imannya orang-orang lemah. Melainkan iman yang berlandaskan pemikiran cemerlang dan meyakinkan. Dan  perlu diketahui bahwa iman tersebut tidak cukup dilandaskan pada akal semata tetapi harus juga disertai sikap penyerahan total dan penerimaan mutlak terhadap segala yang datang dari sisiNya.
Maka itulah hendaknya kita betul-betul beriman kepadaNya disertai dengan penyerahan total diri kita terhadap apa yang diperintahkanNya serta menjauhi laranganNya, jangan seperti kebanyakan manusia, mengaku beraqidah islam tetapi tidak memahamidengan benar aqidah tersebut.

 

Leave A Reply