Tentang Allah dekat

Allah berfirman:

Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka  (jawa­blah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku  mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku…(QS Al-Baqarah: 186).

Para ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, memberlakukan nash ini menurut dhahirnya dan hakekat maknanya yang layak bagi  Allah Azza wa Jalla, tanpa takyif (bagaimana caranya) dan tanpa tamtsil (permisalan).

Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah dalam komentarnya  atas  hadits nuzul  (turunnya Allah ke langit dunia/  terendah),  mengatakan: “Adapun mendekatnya Allah kepada sebagian hamba-Nya maka hal  ini ditetapkan oleh mereka yang menetapkan datangnya Allah pada  hari kiamat,  turunnya  Allah ke langit terendah, dan  bersemayamnya Allah  di  atas ‘arsy. Inilah madzhab Salaf,  madzhab  para imam Islam  yang  terkenal dan Madzhab Ahlul Hadits.  Dan  pemberitaan mengenai  hal ini dari mereka adalah mutawatir.” (Majmu’  Fatawa, jilid 5, halaman 466).

Jika  demikian halnya, lalu apakah halangannya bila  dikatakan bahwa  Allah mendekat  kepada hamba-Nya yang  Dia  kehendaki  di samping  Dia  berada di atas ‘Arsy. Dan apakah  halangannya  bila dikatakan  Dia menurut yang Dia kehendaki tanpa takyif dan  tanpa tamsil?

Bukankah  ini merupakan kesempurnaan Allah, jika  Dia  berbuat apa  yang dikehendaki-Nya menurut pengertian yang  sesuai  dengan keagungan dan kemuliaan-Nya?

Perpaduan antara ma’iyah (kebersamaan) dan ‘uluw (keberadaan di atas) bisa terjadi pada makhluk. Soalnya, dikatakan: “Kami  masih meneruskan  perjalanan dan rembulan pun bersama kami”. Ini  tidak dianggap bertentangan, padahal sudah barang tentu bahwa orang yang melakukan perjalanan itu berada di bumi sedangkan rembulan berada di langit. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagaimana pikiran Anda dengan Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu?

Bagi Allah yang demikian itu hal-Nya, apakah tidak bisa dikatakan  bahwa  Dia bersama Makhluk-Nya di  samping  Dia  Maha Tinggi berada di atas mereka, terpisah dari mereka, bersemayam di atas ‘arsy-Nya.” (Kaidah-kaidah Utama…, hal. 156).

Maka lemahlah alasan-alasan orang shufi dan pendukungnya  yang menganggap bahwa  ayat-ayat dan hadits-hadits  tersebut  sebagai landasan tasawwuf.

Syeikh  ‘Utsaimin menegaskan, ayat …Dan Dia bersama kamu  di manapun kamu berada.” (QS 57:4); ma’iyah (kebersamaan) ini  tidak berarti  Allah SWT bercampur dengan makhluk atau tinggal  bersama di  tempat mereka. Sama sekali tidak menunjukkan pengertian  ini.

Karena  ini adalah makna bathil yang mustahil bagi Allah Azza  wa Jalla, padahal tidak mungkin makna dari firman Allah  dan  sabda Rasul-Nya adalah sesuatu yang mustahil lagi bathil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-‘Aqidah Al-Waasithiyah (hal. 115, cetakan ketiga, komentar Muhammad Khalil  Al-Harras), mengatakan:

“Dan  pengertian  dari  firman-Nya: “Dan  Dia  bersama  kamu”, bukanlah  berarti bahwa Allah itu bercampur  dengan  makhluk-Nya karena hal ini tidak dibenarkan oleh bahasa. Bahkan, bulan  seba­gai  satu tanda dari tanda-tanda (kemahatinggian dan  kebesaran) Ilahi,  yang  termasuk di antara makhluk-Nya  yang  terkecil  dan terletak di langit itu, tetapi dia dikatakan bersama musafir  dan yang bukan musafir di mana saja berada.”

Komentar  Syeikh ‘Utsaimin: Tidak ada orang  yang  berpendapat dengan makna bathil (Allah bercampur dengan makhluk atau  tinggal bersama di tempat mereka) ini kecuali Al-Hululiyah (Pantheisme) seperti orang-orang  terdahulu dari Jahmiyah dan  selain  mereka yang  mengatakan  bahwa Allah dengan dzat-Nya  berada  di setiap tempat.  Maha  suci Allah dari perkataan mereka  dan  amat  besar dosanya ucapan  yang keluar dari mulut mereka. Apa  yang  mereka katakan tiada lain adalah kebatilan.

Perkataan mereka ini telah dibantah oleh para ulama Salaf  dan imam  yang sempat menjumpainya, karena perkataan tersebut  menim­bulkan  beberapa  konsekwensi yang tidak  dapat  dibenarkan  yang menunjukkan  bahwa  Allah mempunyai  sifat-sifat  kekurangan  dan mengingkari keberadaan Allah di atas makhluk-Nya.

Bagaimana  seseorang bisa mengatakan bahwa dzat  Allah  berada pada setiap tempat, atau Allah bercampur dengan makhluk,  padahal Allah SWT itu “KursiNya meliputi langit dan bumi” (QS 2:255), dan “Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan  langit digulung  dengan  tangan kanan-Nya”  (QS 39:67)?  (Kaidah-kaidah Utama… (hal.152).

Kebatilan dalih  kaum  shufi dan  pendukungnya  telah  nyata. Masihkah akan diikuti, didukung, dan dipertahankan?

Tasawuf Belitan Iblis; H. Hatono Ahmad Jaiz; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

Comments are closed.