Tahun-tahun Terakhir Dinasti Jepara

0

 

 
Pada tahun 1579, Pakuwan Pajajaran – kota dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat yang belum masuk Islam itu – ditaklukkan oleh tentara Islam raja Banten. Mengenai kejadian ini buku-buku sejarah di Banten, misalnya Sadjarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, memuat keterangan yang cukup. Pangeran Jepara, anak Hasanuddin dari Banten, ternyata tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pajajaran, dan Ratu Kalinyamat juga tidak disebut. Ada kemungkinan bahwa pada tahun 1579 Ratu Jepara baru saja meninggal dan bahwa keponakannya, sekaligus anak angkatnya, Pangeran Jepara, telah menggantikannya sebagai raja.

Pada tahun 1580, Molana Yusup, raja Banten dan pahlawan yang merebut Pajajaran, meninggal. la meninggalkan hanya seorang anak laki-laki yang masih di bawah umur. Menurut para penulis sejarah di Banten, Pangeran Jepara – saudara raja yang telah meninggal itu – telah menuntut haknya atas tahta Kerajaan Banten. la bersama Demang Laksamana, panglima armada, pergi dari Jepara ke Banten. Tetapi di Banten, Laksamana (sama orangnya dengan yang pada tahun 1574 bertempur melawan Malaka?) menemui ajalnya dalam perkelahian melawan perdana menteri Banten, dan Pangeran Jepara terpaksa kembali ke kerajaannya sendiri. Dengan peristiwa itu berakhirlah pengaruh pemerintahan Jepara di Jawa Barat. Sejak itu kerajaan-kerajaan Jawa Barat – Banten dan Cirebon – menempuh jalan sejarahnya masing-masing.
Tahun 1588, yang membuka jalan bagi Senapati Mataram untuk memperluas kekuasaannya di Jawa Tengah setelah meninggalnya Sultan Pajang, mungkin merupakan tahun sial bagi raja-raja terakhir di Demak dan di Kudus. Tetapi agaknya masih beberapa tahun berlalu sebelum prajurit-prajurit Mataram dari pedalaman Jawa Tengah muncul di Kota Jepara. Mungkin mereka masih merasa gentar melihat benteng yang mengelilingi kota dan benteng yang di Gunung Danareja. Pada akhir abad ke-16, menurut pelaut-pelaut Belanda (Eerste Schipvaert, jil.I, hal. 103), kebanyakan kota pelabuhan di Jawa dikelilingi tembok batu atau kayu, pada sisi yang menghadap daerah pedalaman.
Pada dasawarsa terakhir abad ke-16, kekuasaan raja Jepara di laut masih dihormati. Pada tahun 1593 ia telah memerintahkan menduduki Pulau Bawean di Laut Jawa dengan armadanya. Pada tahun 1598 ia menimbulkan kesan pada orang Belanda seakan-akan memiliki sarana kekuasaan yang luar biasa (Eerste Schipvaert, jil. I, hal. 103).
Ada kemungkinan, serangan laskar Mataram yang sudah diperkirakan itu datang pada tahun 1599; dan berakhirlah pemerintahan Pangeran Jepara. Dalam suatu surat berbahasa Belanda pada tahun 1615 (Colenbrander, Coen, jil. VII, hal. 45) terdapat kata-kata tentang destructie ‘penghancuran’ kota Jepara. Serangan Mataram dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan Pasisir yang makmur itu telah mengakibatkan kerusakan yang berat. Tidak mustahil, Jepara juga menjadi korban amukan gerombolan itu. Mungkin pada kesempatan tersebut istana Kalinyamat juga dihancurkan.
Tidak ada kabar tentang nasib keluarga raja Jepara. Dalam pemerintahan raja-raja Mataram, kota pelabuhan itu – yang diperintah oleh seorang bupati yang diangkat oleh raja- pada abad ke-17 masih agak lama berfungsi sebagai tempat pertemuan antara pihak Jawa dan pihak Belanda dari Jakarta. Akhirnya peranan itu diambil alih oleh Semarang.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply