Syafa’at*

0

Syaikh Muhammad At-Tamimi

——————————————————————————–

*Syafa’at telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka: “Kami tidak memohon kepada mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan syafa’at kepada kami di sisi-Nya.” Maka dalam bab ini diuraikan bahwa syafa’at yang mereka harapkan ini adalah percuma, bahkan syirik; dan syafa’at hanyalah hak Allah semata, tiada yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan seizin-Nya bagi siapa yang mendapat ridha-Nya.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (artinya):
“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka (pada hari Kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun selain Allah; agar mereka bertakwa.” (Al-An’am: 51)

“Katakanlah: Hanya hak Allah-lah syafa’at itu semuanya.” (Az-Zumar: 44)

“Tiada seorangpun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan (untuk diberi syafa’at) bagi siapa yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” (An-Najm: 26)

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki kekuasaan seberat dzarrah pun di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah, kecuali bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu…” (Sabba’: 22-23)

Abul ‘Abbas (Taqiyyudin Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah: Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus-Salam bin Abdullah An Numairi Al Harrani Ad-Dimasyqi. Syaikh Al-Islam dan tokoh yang gigih sekali dalam gerakan dakwah Islamiyah. Dilahirkan di Harran th. 661 H (1263M) dan meninggal di Damaskus th. 728 H/1328M) mengatakan:

“Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain Diri-nya sendiri, dengan menyatakan bahwa tak seorang pun selain Allah mempunyai kekuasaan, atau sebagiannya, atau menjadi pembantu Allah. Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan Allah bahwa syafa’at ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah untuk memperolehnya, sebagaimana firman-Nya (artinya): “Dan tidaklah mereka dapat memberi syafa’at, kecuali bagi orang yang telah diridhai Allah.” (Al-Anbiya’: 28)

Syafa’at yang diperkirakan oleh kaum musyrikin inilah yang tidak ada pada hari Kiamat, sebagaimana dinyatakan demikian oleh Al-Qur’an. Dan diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pada hari Kiamat akan datang bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala puji kepada-Nya. Beliau tidak langsung dengan memberi syafa’at lebih dahulu. Setelah itu barulah dikatakan kepada beliau: “Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya akan didengar apa yang kamu katakan, mintalah niscaya akan diberi apa yang kamu minta, dan berilah syafa’at niscaya akan diterima syafa’at yang kamu berikan itu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah telah bertanya kepada beliau: “Siapakah orang paling beruntung dengan syafa’at engkau?” Beliau menjawab: “Ialah orang yang mengucapkan “Laa ilaha illa Allah” dengan ikhlas dari dalam hatinya.” (HR Imam Ahmad dan Al-Bukhari)

Syafa’at yang ditetapkan ini adalah syafa’at untuk Ahlul Ikhlas wa Tauhid (orang-orang yang mentauhidkan Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya), dengan seizin Allah; bukan untuk mereka yang berbuat syirik kepada-Nya. Dan pada hakekatnya, bahwa Allah-lah yang melimpahkan karunia-Nya kepada Ahlul Ikhlas wa Tauhid dengan memberikan maghfirah kepada mereka melalui do’a orang yang diizinkan Allah untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan orang ini dan menerimakan kepadanya Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan terpuji).

Jadi syafa’at yang dinyatakan tidak ada oleh Al-Qur’an adalah apabila ada sesuatu syirik didalamnya. Untuk itu Al-Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayat bahwa syafa’at adalah dengan izin dari Allah; dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa syafa’at hanyalah untuk Ahlul Tauhid wal Ikhlas.

Kandungan tulisan ini:

Tafsiran ayat tersebut di atas. Ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa syafa’at seluruhnya adalah hak khusus bagi Allah. Ayat ketiga menunjukkan bahwa syafa’at tidak diberikan kepada seseorang tanpa izin dari Allah. Ayat keempat menunjukkan bahwa syafa’at diberikan oleh orang yang diridhai Allah dengan izin dari-Nya, dengan demikian syafa’at adalah hak mutlak Allah, tidak dapat diminta kecuali dari-Nya; dan menunjukkan pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada malaikat, atau nabi dan orang-orang shaleh, untuk meminta syafa’at mereka. Ayat kelima mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin yang mereka itu menyeru selain Allah, seperti malaikat dan makhluk-makhluk lainnya, karena menganggap bahwa makhluk-makhluk itu mendatangkan manfaat atau menolak madharat; dan menunjukkan bahwa syafa’at tidak berguna bagi mereka, karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanya berguna bagi orang yang mengamalkan tauhid dan itu pun dengan seizin Allah.
Syafa’at yang dinyatakan tidak ada, adalah syafa’at yang terdapat didalamnya unsur syirik.
Syafa’at yang ditetapkan, ialah syafa’at untuk Ahlul Tauhid wal Ikhlas dengan izin dari Allah.
Disebutkan tentang syafa’at kubra, yaitu Al Maqam Al-Mahmud.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak memberi syafa’at, bahwa beliau tidak langsung memberi syafa’at terlebih dahulu, akan tetapi bersujud dan menghaturkan segala pepuji kepada Allah. Maka apabila telah diizinkan Allah, barulah beliau memberi syafa’at.
Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa’at beliau?
Syafa’at tidak diberikan kepada orang yang berbuat syirik kepada Allah.
Keterangan tentang hakekat syafa’at.
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad At-Tamimi.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

——————————————————————————–

Leave A Reply