Suka Memaafkan dan Mengampuni

0

Sifat pemaaf merupakan bagian akhlak yang luhur yang harus menyertai seorang muslim yang takwa. Nash-nash qur’an dan contoh-contoh perbuatan nabi saw banyak menekankan keutamaan sifat ini. Bahkan sifat pemaaf merupakan sifat  utama orang-orang muhsin yang dekat  dengan cinta dan keridhaan Allah.

“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan (muhsin).” (QS. Ali Imran 134).

Mereka, orang-orang muhsin,  bisa menahan amarahnya dan tidak dendam. Bahkan hatinya telah bebas dari perasaan dendam digantikannya dengan pemaaf, suka mengampuni, bersahabat dan penuh toleransi. Mereka memperoleh kebahagiaan dengan kebersihan  jiwa berikut kesucian dan keharumannya. Lebih dari itu, mereka menikmati kemenangan besar berupa cinta dan ridha Allah.

Suka memaafkan dan toleran merupakan bukti ketinggian budi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun kecuali oleh mereka yang telah mampu membuka selimut kegelapan dari hati mereka untuk menerima hidayah Islam. Pada jiwa mereka membekas karunia dari ijin Allah, berupa pahala dan kemuliaan. Itu semua dicapai karena apa yang terlintas dalam jiwa mereka, berupa suka menolong, teguh dan disiplin.

Qur’an suci telah memberikan jalan dengan metode cermat dalam rangka mengangkat jiwa kemanusiaann menuju puncak keindahan. Qur’an menetapkan bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diijinkan membela diri dan membalasnya. Kejahatan dibalas dengan kejahatan yang setimpal. Tetapi pembalasan itu hendaknya bukan atas dasar balas dendam. Juga, tidaklah wajib membalas perlakuan zalim itu. Cara yang lebih baik menurut islam adalah bila mau membalas melakukan pembalasan itu dengan penuh simpatik, sekedar membela diri. Bahkan dianjurkan untuk bisa menunjukkan keluhuran perangai, bersabar, memaafkan dan toleran. Demikian itu lebih terhormat dan mengundang simpati. Firman Allah:

“(Bagi) orang-orang yang apabila diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa  yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya  atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 39-40).

“Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal  yang diutamakan.” (QS. Asy- Syura: 41-43)

Sikap baik seseorang yang bisa dilakukan terhadap orang lain, baik kerabatnya atau bukan, tidak perlu sirna karena sikap jahat orang itu kepadanya. Hal ini pernah terjadi pada Abu Bakar RA ketika terjadi peristiwa “haditsul ifki” (berita bohong)  yang menimpa putrinya, Aisyah RA istri rasulullah. Abu Bakar sangat marah kepada para penyebar isu bohong tersebut, sehingga ia menghentikan seluruh santunan yang sudah biasa dia berikan kepada karib kerabatnya atau orang lain yang terlibat dalam penyebaran berita palsu tersebut. Sikap itu tidak disukai Allah. Allah lalu memberi teguran tegas melalui firman-Nya:

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, hendaklah  mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur:22).

Sesungguhnya orang-orang mukmin  itu dipersatukan bukan atas dasar kerja sama di antara mereka dalam hal saling berebut kekuasaan, perhitungan untung rugi, atau pun untuk mempertahankan prestise yang menyangkut materi atau harga diri, baik masalah kecil atau besar. Tetapi mereka bersatu atas dasar toleransi saling memaafkan, menahan amarah dan sabar dalam setiap urusan. Demikian Islam membimbing  orang-orang mukmin menjadi pribadi teladan. Allah berfirman:

“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah teman yang sangat setia. Sifat-sifat  yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang  besar.” (QS. Fushshilat: 34-35).

Kejahatan yang dihadapi dengan kejahatan, begitu seterusnya berbalasan, atau dengan dada sempit, akan dapat membangkitkan persengketaan dan dendam kesumat yang tak kunjung padam. Tetapi jika disambut dengan kebaikan, maka padamlah api permusuhan, damailah jiwa dan tercuci bersihlah dendam. Sekalipun dalam pertikaian gunakanlah kata-kata  yang baik, jauhi caci maki yang tidak terpuji. Sesungguhnya kemenangan adalah milik mereka yang mampu membalas kejahatan dengan kebaikan. Beruntunglah mereka yang demikian. Modal mereka adalah kesabaran. Allah berfirman:

“Maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)

Keharusan mewujudkan perangai manusia yang terpuji, pemaaf dan toleran, merupakan ciri asli dari orang-orang mukmin dan merupakan sifat rasulullah saw yang menjadi qudwah (pemimpin, teladan, panutan), iman sekaligus pendidik kaum mukmin itu. Aisyah  RA mengatakan:

“Rasulullah saw tidak pernah memukul siapa pun, tidak pula kepada istri dan pembantunya, kecuali dalam berperang pada jalan Allah. Dia tidak pernah membalas sedikitpun kepada  seseorang yang menyakitinya, kecuali dalam hal yang melanggar larangan Allah, maka dia membalasnya karena Allah semata.” (HR. Muslim)

Beliau, semoga shalawat dan salam dilimpahkan Allah atas beliau, selalu  berusaha taat dan memenuhi panggilan Allah.

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah manusia mengerjakan ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199).

Keistimewaan ayat di atas adalah bahwa ia menyatakan akhlak Rabbani. Manusia patut berakhlak agung seperti ini, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, justru harus menghadapinya dengan akhlak luhur. Dengan memaafkan, cara-cara yang baik, berpaling dari orang bodoh serta menolaknya dengan cara yang baik. Tentang ini Anas RA menceritakan:

“Ketika saya sedang berjalan bersama rasulullah saw, waktu itu beliau mengenakan selimut dari Najran yang tebal. Seorang Arab Badui mengetahui hal itu dan menariknya dengan kasar, maka saya memperhatikan bagaimana sifat pemaaf nabi saw itu. Ketika itu saya berusaha (tergerak) untuk mempertahankan selimut itu dari tarikan orang tersebut kemudian orang itu berkata, “Hai Muhammad! Serahkan harta Allah yang engkau miliki.” Maka rasulullah melirik kepadanya dan tersenyum, kemudian beliau mengabulkan permintaan orang itu.”’ (Mutafaq Alaih).

Jika kita kembali kepada ayat 39-40 surat Asy-Syuro di atas tadi, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa di dalamnya mengandung dua sikap dalam menghadapi perbuatan keji (zalim) jika menimpa kita, yaitu:

  1. Memaafkan kesalahan bagi yang terlanjur berbuat dosa (faman afaa wa ashlaha fa ajruhuu alallah).
  2. Bagi yang bersalah dihukum setimpal dengan kesalahan atau dosa yang diperbuatnya. (wa jazaau sayyi atin sayyiatun mitsluha).

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya “Khuluqul Muslim” memberi komentar terhadap  ayat tersebut, sebagai berikut:

“Hukuman yang lebih berat pun dimungkinkan, seperti qishash untuk melemahkan kekuatan pelakunya dan jera terhadap perbuatannya, sehingga diharapkan dapat muncul sifat kemuliaannya setelah menerima hukuman tadi.

Keutamaan bisa berubah menjadi kehinaan apabila seseorang meremehkan ajaran-ajaran Islam, disamping bisa menambah kemudahan bagi yang menaatinya.

Memaafkan orang yang ada  di bawah pengaruhnya adalah bersikap mendidik. Namun demikian seorang muslim dituntut juga untuk menampakkan keberaniannya dan kekuatannya, agar disegani atau ditakuti oleh orang-orang yang hendak menjatuhkan martabatnya.

Dalam kedudukannya yang tinggi, ia diberi hak untuk memaafkan dengan tujuan semata-mata untuk mendidik bagi para pelanggarnya, sehingga bawahannya itu jera melakukan pelanggaran,  bukan semata-mata takut kepada atasannya, akan tetapi karena segan dan malu. Munculnya sifat malu inilah yang sangat diharapkan bagi setiap mukmin.

Suatu  ketika rasulullah saw diberi hidangan oleh seorang perempuan Yahudi berupa masakan daging kambing yang dibubuhi racun. Rasulullah saw bersama para sahabatnya saat itu tidak menaruh curiga sedikitpun. Karena ilham Allah-lah beliau tahu bahwa daging itu mengandung racun. Ketika para sahabat yang mendampingi beliau hendak memakan masakan itu, beliau mencegahnya sambil berkata, “Hentikan! Masakan itu beracun.” Maka perempuan itu dihadapkan kepada rasulullh, seraya ditanya mengenai  makanan itu, “Apa yang engkau bubuhkan  masakan itu dan mengapa engkau melakukannya?” perempuan itu menjawab, “Aku ingin membuktikan mukjizat kenabianmu, sebab jika engkau benar pasti Allah akan menyelamatkanmu.” Para sahabat bertanya kepada rasulullah saw, “Mengapa tidak dibunuh?” Rasulullah menjawab, “Jangan!” Beliau telah memaafkan perempuan itu.

Pernah pula seseorang dari suku Daus melakukan maksiat dan menolah perintah Allah dan rasul secara terang-terangan. Datanglah Tufail bin Amru Ad-Dausi RA kepada nabi saw dan berkata, “Sesungguhnya orang Daus ini benar-benar telah berbuat maksiat dan menolak perintah Allah, maka doaklah mereka kepada Allah.” Maka rasul segera menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya. Maka, berkatalah seseorang, “Celakalah mereka.” Padahal sebenarnya  rasulullah tidak medoakan kecelakaan atau azab, bahkan beliau berdoa, “Allahummahdi Dausan wati bihimm.” Diulanginya tiga kali (Ya Allah, berilah petunjuk kepada orang Daus itu dan datangkanlah mereka kepadaku). (HR. Asy-Syaikhan).

Dari nash-nash di atas, maka jelaslah bahwa  sepatutnya di dalam jiwa kaum muslimin bersemayam kemuliaan perangai, sifat pemaaf dan toleran. Kalaupun terpaksa berpaling atau melawan kezaliman, haruslah dalam rangka mendidik, dengan harapan mereka mau mengurangi cara-cara kekerasan, kekasaran dan kebrutalan mereka. Terakhir, satu lagi kami sajikan untuk kita simak, suatu riwayat dari Uqbah bin Amir,

“Wahai rasulullah, beritahukan kepadaku keutamaan-keutamaan amal seseorang.” Rasulullah menjawab, “Wahai Uqbah hubungkan kembali tali persaudaraan kepada siapa yang telah memutuskan hubungan denganmu, berilah Sesuatu kepada orang yang menampik pemberiamu, berpalinglah dari orang yang menzalimimu.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

Leave A Reply