Suka Bergaul Dengan Orang-orang Mulia

Beautiful sunset over sea with reflection in water, majestic clouds in the sky
0

Termasuk adab muslim adalah berhubungan dengan orang shalih, dekat dengan mereka dan memohon doa dari mereka. Firman Allah:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahf: 28).

Begitulah  islam mengatur umatnya dalam hal bergaul dengan orang-orang shalih, atas kebaikan, ketakwaan dan akhlak yang baik agar memperoleh tambahan ilmu, sehingga keshalihannya dapat diteladani.

Seorang penyair berkata:

‘Dekatnya kamu dengan orang-orang mulia, maka kemuliaan akan kamu peroleh dari mereka maka jangan ada niat buruk terhadap mereka.’

Nabi Musa as bersedia melakukan perjalanan jauh yang sangat melelahkan mengikuti seorang hamba Allah yang shalih (Nabi Khidir), untuk memperoleh ilmu darinya. Musa sangat menghormatinya, berkata dengan lemah lembut dan sopan santun.

Firman  Allah:

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahf: 66)

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (QS. Al-Kahf: 67)

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (QS. Al-Kahf: 70)

Sesungguhnya seorang muslim yang baik itu tidak  akan sembaranga bergaul, karena ia mengetahui dari petunjuk islam yang mengatakaan bahwa manusia itu ibarat barang tambang, darinya akan keluar sesuatu yang indah dan bisa juga  yang hina. Yang baik akan cocok dengan yang baik pula.

Sabda rasulullah saw:

Manusia itu ibarat barang tambang seperti logam emas dan perang, terpandangnya mereka ketika masa jahiliah akan terpandang juga ketika masa islamnya jika mereka telah memahami. Adapun ruh-ruh itu ibarat lascar tentara yang siap tempur, maka yang saling mengenal akan intim, sedangkan bagi yang tidak saling mengenal akan berceceran. (HR. Bukhori dari Asy-Syaikhoni).

Jika kita lihat dari segi agama, maka ada dua majelis manusia, yaitu majelis orang-orang shalih dan orang yang jahat. Majelis itu diibaratkan seperti penjual minyak wangi dan tukang peniup api.

Rasulullah bersabda:

Sebenarnya perumpamaan sahabat baik dan sahabat yang buruk (perangainya) bagaikan pembawa misk (minyak wangi) dan peniup  api. Maka pembawa parfum adakalanya akan memberimu parfum, setidaknya akan memberikan baunnya, sedangkan peniup api jika tidak membakar pakaianmmu maka engkau akan mendapat bau busuk darinya. (Muttafaq Alaih).

Termasuk kebiasaan dari para sahabat adalah mengunjungi orang-orang banyak mengingat Allah dan orang-orang yang menangis karena takut siksaan Allah. Dalam hal ini Anas bin Malik ra menceritakan perihal Abu Bakar ra yang menangis ketika rasulullah wafat.

Berkata  Abu Bakar ra kepada Umar setelah wafatnya nabi saw:

Mari kita silahturrahmi ke rumah Ummu Aiman, kita berkunjung kepadanya seperti rasulullah berkunjung kepadanya. Ketika mereka sampai di rumah Ummu Aiman, mereka mendapati wanita itu sedang menangis. Mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) bertanya, “Mengapa kamu menangis? Padahal kamu mengetahui bahwa rasulullah saw tak ada cacat cela di sisi Allah?” Ummu Aiman menjawab, “Sesungguhnya tidak ada yang kusedihkan, sebab aku tahu rasulullah akan bahagia di sisi Allah. Akan tetapi aku menangis karena Wahyu telah terputus dari langit.” Mendengar jawaban Ummu Aiman, Abu Bakar dan Umar menangis, akhirnya mereka bertiga bertangisan.” (HR. Muslim).

Orang yang shalih dan selalu menjaga perintah-Nya, akan selalu mendapat sambutan malaikat dan dinaungi oleh Allah ta’ala dengan rahmat-Nya yang dapat menambah kuat iman seseorang, membangkitkan semangat islam, membuka hati dan mensucikan jiwanya. Itulah yang menjadi sasaran islam yang mengarahkan manusia baik secara pribadi maupun kelompok ke arah kebenaran.

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

Leave A Reply