Sifat Malu

0

Rasa malu  merupakan  bagian akhlak nabi saw yang harus dijadikan teladan bagi kaum muslimin. Tentang sifat  malu  nabi saw, seorang sahabat besar bernama Abu Said Al-Khudri ra menceriitakan:

“Rasulullah saw sangat  tinggi rasa malunya, lebih malu daripada gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami dapat mengetahuinya dari wajah beliau.” (HR. Muslim)

Sifat pemalu, menurut pengertian para ulama, selalu brontak kepada sifat-sifat tercela, pantang menolak kebenaran dan takut mengkebiri hak-hak orang lain. Ia  selalu cenderung mengikuti seruan petunjuk nabi yang  dipahami dari hadits-haditsnya, selalu melakukan kebaikan dan menghargai pelaku  kebaikan ia menuntun kepada sikap tindakan yang berguna di dalam masyarakatnya.

Umron bin Hashin ra mengatakan bahwa rasulullah saw bersabda:

“Sifat pemalu itu tidak mendatangkan sesuatu apapun kecuali kebaikan.” (Muttafaq Alaih)

Dalam riwayat muslim, dengan ucapan yang sedikit berbeda:

“Sifat pemalu itu seluruhnya mengandung kebaikan.”

Dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda:

“Iman itu ada 71 atau 61 cabang dan yang paling utamanya adalah mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan kecuali Allah) dan serendah-rendahnya adalah menyingkirkan duri (gangguan dari jalan). Sifat pemalu merupakan satu bagian dari iman.” (HR. Muttafaq Alaih)

Seorang muslim yang benar/jujur selalu mengisi hidupnya dengan cara terdidik, halus perasaan, tak terbetik dalam hatinya niat untuk melakukan perbuatan tercela yang dapat mengganggu orang lain dan tidak pula mengkebiri hak orang lain.

Yang demikian itu bahwa semua sifat tercela itu dapat terkubur oleh sifat pemalu. Tidak cukup rasa malu itu hanya tertuju kepada manusia, tetapi bahkan lebih besar di hadapan Allah. Karena sifat malu itu, dia tidak berkenan mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman. Di sinilah  jelas  bahwa sifat pemalu merupakan cabang dari iman.

Ikatan moral yang berlandaskan iman kepada Allah dan  hari akhir memungkinkan insan muslim dapat berlaku ikhlas secara mendalam terhadap yang lain. Keteguhan akhlak inilah yang  pada gilirannya di kemudian hari dapat merubah keadaan.

Malu terhadap Allah terpancar dalam rahasia hatinya, sebelum muncul rasa malunya terhadap sesama manusia secara lahiriah. Sifat pemalu terhadap Allah inilah yang membedakan dan sekaligus merupakan garis demarkasi antara akhlak seorang muslim  dan moral non muslim.

Dikutip dari; Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply