Sifat Kasih Sayang

0

Seorang muslim yang memelihara hukum-hukum agamanya selalu bersikap toleran karena ilmunya, menyebarkan kasih  sayang dan memancarkan sumber kasih sayang dari hatinya. Ia sadar bahwa kasih sayang seorang hamba di bumi menjadi sebab datangnya rahmat dari langit. Rasulullah bersabda:

“Bersikap belas kasihlah kamu terhadap siapa saja yang berada di atas bumi, pasti yang di langit (malaikat) akan  merahmatimu.” (HR. Tabrani).

Seorang muslim hendaknya mengetahui petunjuk Islam yang menyatakan;

“Barangsiapa tidak menaruh belas kasih terhadap sesama manusia, Allah pasti tidak akan menaruh belas kasih kepadanya. (HR. Bukhari).

“Tidak dicabut rahmat Allah kecuali dari orang yang durhaka.” (HR. Bukhari).

Seorang muslim bahkan dituntut menyebarkan kasih sayang itu kepada kelompok yang lebih luas. Tidak terbatas kepada keluarga anak cucu, karib kerabat atau kawan-kawan saja. Bahkan mencakup segenap umat manusia. Petunjuk Allah dan bimbingan nabi sendiri adalah rahmat bagi seluruh alam. Abu Musa Al-Asy’ari  meriwayatkan:

 “Nabi saw bersabda: tidaklah sempurna iman kalian sehingga kalian saling berkasih sayang kepada sesama kalian. Mereka (para sahabat) berkata: wahai rasulullah, kami semua menaruh kasih sayang. Nabi saw bersabda: kasih sayang yang dimaksud bukan sekedar ditujukan kepada salah seorang sahabatnya, dalam lingkup terbatas, tetapi rasa kasih sayang itu hendaknlah bersifat menyeluruh.” (HR. Tabrani).

Rahmat bersifat menyeluruh, berlaku bagi seluruh umat manusia, ia telah bersemayam, memancar di dalam dan dari hati setiap muslim. Ia adalah bekal hidup bermasyarakat untuk saling mengasihi,  bersahabat dengan  penuh cinta kasih, menasihati secara ikhlas, lemah-lembut secara mendalam.

Nabi saw merupakan contoh terbaik dalam mempraktekkan akhlak kasih sayang. Suatu ketika beliau  mendengar tangisan seorang bayi, padahal beliau sedang mengerjakan shalat.  Maka,  beliau mempersingkat shalatnya. Hal ini diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan (Bukhari-Muslim) dari Anas ra, bahwasannya telah berkata nabi saw:

“Sesungguhnya aku hendak memasuki (menunaikan) shalat, aku ingin memperpanjangnya. Tiba-tiba aku mendengar tangis seorang bayi, maka aku mempercepat shalatku, mengingat betapa gelisahnya si ibu karena tangis bayinya itu.”

Dalam sebuah  hadits lain Abu Hurairah menceritakan:

“Rasulullah saw mencium pipi Hasan dan Husein, kedua putera Ali ra. Di dekat beliau ada Aqra bin Habis, orang bani Tamim. Berkata Aqra: saya mempunyai sepuluh orang anak, seorang pun belum pernah saya cium. Maka rasulullah berkata kepada Aqra: siapa  yang tidak pernah mengasihi orang lain, tidak akan dikasihi Allah.” (HR. Bukhari).

Ketika Umar bin Khattab ra hendak mengangkat seseorang sebagai pemimpin kaum muslimin Aqra  bin Habis yang mendengar berita pengangkatan itu berkata kepada Umar: Sesungguhnya dia tidak memperhatikan anak-anaknya. Maka Umar menunda rencananya seraya berkata: jika dirimu belum mampu berbuat kasih terhadap anak-anakmu, bagaimana mungkin engkau bisa mengasihi orang lain yang banyak? Demi Allah, aku tidak akan mengangkatmu sebagai pemimpin selama-lamanya.

Bukan terbatas manusia, sifat kasih sayang yang diajarkan Islam dan dicontohkan nabi saw juga berlaku terhadap hewan maupun tumbuhan. Abu  Hurairah ra bercerita:

“Tatkala aku berjalan bersama seseorang, kami merasa sangat haus. Kami beruntung mendapatkan sumur, lalu kami pun turun untuk minum. Ketika keluar, terlihat oleh kami seekor anjing menyalak-nyalak, menjulurkan lidah tanda haus. Maka orang itu berkata: benar-benar anjing itu merasa haus seperti yang baru saja aku alami. Segera  orang itu turun kembali ke sumur, mengambil air dengan sepatunya hingga penuh, kemudian air itu diberikannya kepada anjing itu. Segeralah anjing itu minum. Allah pun mensyukurinya dan mengampuninya. Para sahabat bertanya kepada  nabi saw: wahai rasulullah, apakah dalam menyantuni binatang terdapat pahala bagi kami? Rasulullah menjawab: pada setiap lembar rumput hijau terdapat pahala!” (HR. Syaikhoni).

 Asy-Syaikhoni juga meriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa telah bersabda rasulullah saw:

“Seorang wanita disiksa dan dimasukkan ke dalam neraka disebabkan mengurung kucing hingga mati. Kucing itu tidak diberi makan dan minum selama dalam kurungan dan tidak pula dilepaskannya agar bisa mencari makan sendiri berupa rerumputan yang tumbuh di bumi.” (HR. Muslim).

Dikutip dari; Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply