Siapakah Ulil Amri[1] (Waliyyul Amri)* Kaum Muslimin yang Wajib Ditaati?

0

 


Penulis                 : Syaikh Hamid bin Abdullah Al-Aly
Penerjemah          : Ust. Ahmad Salim
Ulil amri yang wajib ditaati adalah orang yang –mampu- memegang/mengatur/menjaga/memelihara urusan ‘agama’ kaum muslimin, sebab agama ini adalah urusan kaum muslimin dan bukan urusan selain agama mereka, dengan agama itulah mereka menjadi ummat yang satu, memiliki kepribadian dan berkedudukan tinggi lagi berperadaban serta  eksistensi politik ummat didapatkan.

Adapun orang yang berpaling kepada urusan yang lain-sebagaimana halnya berhukum dengan sistem perundang-undangan sekuler, dengan sistem demokrasi liberal Barat, pemikiran kebangsaan yg bersifat sosialis,atau selain itu yang berasal dari luar ‘sistem islam yang diambil dari syariat Alláh ta’álá ‘ – maka dia itu ulil amri mereka, bukan ulil amri kaum muslimin, dia tergolong dalam firman Alláh ta’álá:
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى  ويتبع غير سبيل المؤمنين  نوله ما تولى ونصله جهنم،وساءت مصيرا (النساء :١١٥(
“Barangsiapa menentang  Rasul setelah petunjuk itu jelas baginya,dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin,maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yg diikutinya;dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam,dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-nisá :115)
Maka bagaimana mungkin ia disebut ulil amri kaum muslimin, sedangkan ia berpegang kepada urusan lain (sistem/aturan/jalan di luar Islam )?
Oleh karena itu, telah disebutkan dalam nash-nash tentang kepemimpinan, ulil amri yang harus ditaati adalah dengan  syarat iqómatuddín[2](menegakkan agama/menerapkan hukum Allah)sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim :
 إِنْ أُمِّرَ عليكم عَبْدٌ مُجَدَّعٌ يَقُوْدُكُمْ بِكِتابِ اللّٰهِ فَاسْمَعُوْا لَهُ وأَطِيْعُوْا
(“Jika kalian diperintah  oleh seorang budak pesek  yang memimpin kalian dengan kitab Alláh, maka dengar dan taatlah”)
Hadits riwayat Bukhori:
إنَّ هذا الأَمْرَ فِيْ قُريشٍ، لا يُعادِيْهِمْ أَحَدٌ إلاّ كَبَّهُ اللّٰهُ في النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ،ما أَقامُوا الدِّيْنَ.
“Sesungguhnya urusan (kepemimpinan/imaroh/khilafah[3]) ini terletak di pundak orang-orang Quraisy-tidak ada yang memusuhi mereka kecuali Allah telungkupkan wajahnya ke dalam neraka- selama mereka menegakkan agama (iqómatuddín) “.
Telah disebutkan bahwa sesungguhnya berhukum itu adalah dengan kitabulláh,yakni melaksanakan syarí’ah, demikianlah iqómatuddín, ia merupakan syarat akan sah/benarnya pemerintahan mereka, ummat wajib taat kepada mereka.
Telah disebutkan dalam hadits-hadits yg menjelaskan-bahwa jika terjadi  seorang waliyyul amri[4]menzholimi rakyatnya, namun tidak sampai pada kekufuran yang nyata, yakni tidak sampai mengingkari syarí’ah, tidak melepas tahakum(berhukum)  kepadanya, tidak meninggalkan kewajiban iqómatuddín, dan ia zholim  hanya pada urusan dunia mereka-atau sebagaimana disebut dalam hadits-hadits “أثرة[5]-maka rakyat tidak boleh merebut kekuasaannya, agar tidak mengakibatkan runtuhnya persatuan ummat, karena persatuan ummat lebih utama dibanding menghentikan kezholiman penguasa.
Sebagaimana dalam Shohíh Muslim,dari hadits Junádah bin Abú Umayyah:
  Kami masuk menemui ‘Ubádah bin Shámit sedangkan ia dalam kondisi sakit,lalu kami berkata: ‘ ceritakan kepada kami- semoga Allah memperbaiki urusanmu -mengenai sebuah hadits yang dengannya Allah memberi manfaat,yang engkau dengar dari Rasúlulláh صلى اللّٰه عليه وسلم ‘ .’Ubadah menjawab: ‘Rasulullah صلى اللّٰه عليه وسلم memanggil kami, lalu kami bersumpah-setia(berbai’ah) kepada beliau,yang mana diantara sifat sumpah-setia yang diambil atas kami adalah agar kami bersumpah-setia untuk mendengar dan taat,baik dalam kondisi suka ataupun benci,dalam kesulitan ataupun kemudahan, meskipun mengalahkan ego/kepentingan kami, kami tidak akan merebut kekuasaan dari pemiliknya’ ;kemudian Rasul berkata: ‘kecuali kalian melihat kekufuran yang nyata, dengan itu kalian memiliki alasan yang kuat di hadapan Allah ‘  
Jika pada sebuah otoritas kekuasaan telah nampak kekufuran yang nyata, maka ia merupakan otoritas kafir,tidak ada ketaatan kepadanya, wajib dihentikan dengan kekuatan; jika kaum muslimin dalam kondisi tidak mampu,maka wajib melakukan persiapan(i’dád). Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam qs.at-taubah:46  :
ولو أرادوا الخروج لأعدوا له عدة..
(“Jika mereka hendak keluar [berjihad],pasti mereka melakukan persiapan..” ).
Diantara bentuk persiapan (إعداد) adalah: mengembalikan kaum muslimin kepada agamanya dengan da’wah islamiyyah, menyiapkan bibit kepemimpinan Islam yang akan mengurus ummat hingga menghasilkan  eksistensi ummat secara politis  yang dengannya bisa merealisasikan kemenangan agamanya di muka bumi, menegakkan syariat Islam, membawa eksistensi ummat  kepada dunia internasional  dengan jihad. Diantara bentuk persiapan adalah mengarahkan ummat ke medan-medan jihad, dimana Allah memberikan celupan kepada para tentara-Nya dengan celupan al-haq disertai kekuatan yang dengan mereka musuh-musuh ummat dipukul mundur, manakala tentara-tentara Islam dikonsentrasikan dan dikerahkan.
Adapun hukum-hukum dan perundang-undangan yang ada yang dengan itu diperoleh kamaslahatan jamaah, yakni jamaah kaum muslimin,tetapi perundang-undangan  itu mengharuskan kepatuhan jamaah kepadanya -hingga- walaupun sang penguasa itu kafir, demi memperoleh kemaslahatan jama’ah dan terbiasa memanfaatkan hal itu (dengan anggapan) bukan karena mentaati orang kafir; maka mereka tidak boleh taat kepadanya, menghormatinya, ataupun memuliakannya;akan tetapi harus ditegakkan pedang terhadapnya jika mampu. Hal itu sebagaimana telah disebut oleh para ulama bahwa sesungguhnya kaum muslimin yang berada di bawah kekuasaan kaum kuffár, mereka berbalik menjadi qodhi yang memutuskan perkara kaum muslimin,menjadi wakil jamaah,bukan menjadi wakil penguasa.
Adapun aturan-aturan yang khusus,maka setiap orang hendaknya memperhatikan kemaslahatan untuk dirinya sendiri, ia tidak wajib taat kepada penguasa kafir, akan tetapi wajib bagi seorang muslim untuk berlepas diri(baráah) dan dari ketaatan kepadanya ,sebab beri’tikad[6]taat kepadanya karena dia adalah penguasanya adalah kesalahan, beragama dengan cara demikian terkadang menyebabkan kufur. Walláhu a’lam.
***
Adapun mengenai hadits Hudzaifah, jika berbagai riwayat dikumpulkan maka akan menjadi jelas maknanya, bahwa akan tiba masanya zaman perpecahan,kejelasan sifat-sifat mereka dengan sifat-sifat yang disebut-sebut antar umat Islam; lalu Hudzaifah bertanya pada Rasul: “Jika saya mengalami jaman perpecahan ini,apa yang harus saya lakukan?” Beliau menjawab:”Berpegang erat terhadap imam kaum muslimin”,sebagaimana dalam riwayat lain:”Tetap pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka” ,lalu saya berkata:”Jika tidak kudapati jamaah kaum muslimin dan imamnya?” , beliau berkata:”Tinggalkan semua firqoh/golongan walaupun kamu sampai harus menggigit akar pohon sampai maut menjemputmu dan engkau tetap dalam kondisi demikian”.
Maka ini menafsirkan hal di atas dan memperjelas maknanya.
Adapun orang-orang yang mengatakan kepada kaum muslimin agar pasrah saja dan tunduk kepada setiap orang yang menguasai mereka -hingga- meskipun syetan berjasad manusia, sesungguhnya yang mereka kehendaki adalah semata-mata hancurnya Islam secara total. Sungguh mereka telah membuat kesalahan dalam memahami suatu hadits, namun meninggalkan dalil-dalil qoth’i dengan banyak nash[7]dan  tak terhitung jumlahnya, sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan ummat ini agar membentuk imamah(kepemimpinan Islam) yang berhukum dengan syarí’ah dan berjihad meninggikan kalimat Allah ta’ala; maka bagaimana mungkin diperintah untuk mentaati para syetan?
Sesungguhnya imamah[8]itu menjadikan ummat Islam sebagai ummat terbaik yang ditampilkan untuk manusia karena mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad; itu semua bisa dijalankan (secara sempurna) hanya  dalam sistem imamah[9]yang syar’i yang dengannya didapatkan ummat dengan kepribadian yang beradab dan membimbing ummat menuju kebahagiaan dan kemanusiaan.
Kami katakan inilah sebaik-baik persangkaan  kepada mereka,  ini semua mereka dendangkan pada hari-hari ini, seputar: kerelaan terhadap penguasa thághút[10],melemahkan manusia dengan mengatakan bahwa ridha terhadap thaghut[11]merupakan dinul[12]Islam, hingga menyeru agar tunduk patuh  kepada penguasa Salibis (si Paul) Bremer di Irak (semoga Allah memerangi mereka), berdasarkan aturan Amerika salibis  di wilayah kita, semoga Allah menghinakan mereka. Saya katakan ini sebaik-baik persangkaan kepada mereka,jika tidak -maka tidak ada kecurigaan terhadap mereka kecuali mereka keluar sebagai lengan intelejen Amerika; Sebagaimana mereka membuat malapetaka dengan memainkan gaya Qodiyaniah/Ahmadiyah pada masa penjajahan Inggris(di India).
Diantara hadits-hadits  yang jelas menunjukkan bahwa kekuasaan penguasa dalam Islam itu mengandung syarat yaitu hadits:
“Para pemimpin itu dari Quraisy, penuhilah hak mereka, maka untuk kalian hak lalian;(karakter mereka:) jika ada yang minta dikasihi-mereka mengasihi, jika mereka memutuskan perkara-mereka berlaku adil, jika mereka  berjanji- mereka menepati; Barangsiapa tidak melaksanakan hal itu maka kepadanya akan datang laknat Allah,malaikat dan manusia semuanya;Tidak akan diterima jaminan dan tebusan darinya.” (HR Ahmad dan Nasáí dari Anas rodhiyalláhu ‘anhu).
Dan hadits dari Ibnu Mas’úd rodhyalláhu ‘anhu : “Akan ada sekelompok orang yg mengatur urusan kalian, mereka memadamkan assunnah,mengamalkan bid’ah dan mengakhirkan sholat”. saya berkata: “Ya Rasúlalláh, apa yg harus saya lakukan jika mendapati mereka?”. Beliau berkata: “Engkau bertanya padaku   apa yang harus kamu lakukan wahai Ibnu Ummi Abd?!  TIDAK BOLEH TAAT KEPADA ORANG YANG BERMAKSIAT KEPADA ALLAH”  “‘. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Baihaqi dan Thabrani dalam Al-kabír, dengan syarat Muslim).
Walláhu a’lam.
*lafazh  ulúl amri(أولو الآمر) ketika rofa’ ,atau ulíl amri (أولي الأمر) ketika nashab atau jar.
terkadang ada yang memakai kata: wulátul amri (ولاة الأمر). Adapun orang Indonesia biasa dengan sebutan ulil amri.
 *lafazh ulú (أولو) atau ulí (أولي) adalah bentuk jama'(banyak) yang tidak ada bentuk mufrod(tunggalnya). Dalam konteks ulil amri,bentuk tunggal yang dipakai umumnya adalah: waliyyul amri (ولي الأمر), sedangkan bentuk jama’ dari  waliyy(ولي) adalah awliyá(أولياء), tapi jarang (mungkin tidak ada) ulama yang menyebut awliyául amri (أولياء الأمر).  (-pent).


[1]Pemimpin.
[2]menegakkan agama/menerapkan hukum Allah.
[3]Kepemimpinan yang satu.
[4]Pemimpin/pemegang tampuk kepemimpinan.
[5]Teks/nash.
[6]Berniat.
[7]Teks hadits.
[8] Satu kepemimpinan.
[9]Ibid.
[10]Tirani.
[11]Ibid.
[12]Agama.

 

Leave A Reply