Siapa Pembawa Islam Pertama Dan Dari Mana

0

Sekarang sampailah kita kepada suatu pertanyaan yang pelik, tetapi memerlukan pemikiran baru, yaitu siapa dan dari mana datangnya penyiar-penyiar Islam di hari-hari pertama itu ke Indonesia. Belanda mempunyai beberapa alasan, bahwa orang-orang pertama itu berasal dari Gujarat, India.
Alasan ini didasarkan, pertama atas adanya hubungan dagang antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Indonesia sebelum Islam, dan hubungan dagang ini diteruskan sesudah orang-orang Hindu itu memeluk agama Islam. Kedua, Gujarat adalah pelabuhan yang terpenting tempat bertolak saudagar-saudagar Hindu maupun Islam ke Indonesia. Ketiga, batu-batu nisan dari kuburan-kuburan terpenting di Indonesia adalah bikinan, mempunyai ukiran dan dimasukkan dari Gujarat. Keempat, nama-nama yang terkubur itu adalah raja-raja yang memakai gelaran syah dari Bahasa Persia atau nama lain yang mendekati nama-nama Persia atau India. Kelima penyesuaian adat istiadat dan kebiasaan antara Indonesia dan India yang sampai sekarang masih dapat dilihat dalam kehidupan bangsa kita. Keenam adanya paham aliran Syi’ah dan mazhab wihdatul wujud dalam ilmu tasawuf di Indonesia.
Alasan-alasan ini dapat diterima, tetapi tidak semuanya dapat saya benarkan, terutama tidak mengenai kesimpulan, bahwa semua penyiar-penyiar Islam di hari-hari pertama itu adalah saudagarsaudagar yang datang dari Gujarat, karena ada juga diantaranya muballig, sengaja datang untuk menyiarkan agama Islam, dan karena di antara penyiar Islam yang datang itu ada juga bangsa Arab, bahkan merekalah yang memainkan peranan penting dalam menyiarkan agama Islam dalam masa purba itu.
Adanya raja-raja Islam dan kerajaan Islam dalam beberapa negara di Indonesia menjadi bukti yang sah untuk membenarkan adanya orang-orang Arab dalam rombongan penyiar Islam pertama. Sultan itu memakai nama Arab dan nama suku Arab, dan menerangkan dalam silsilahnya bahwa mereka berasal dari keturunan Nabi Muhammad.
Kita sudah terangkan, bahwa adanya permusuhan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim, menyebabkan tindakan-tindakan yang kejam dari Mu’awiyah terhadap Alawiyin golongan keturunan Ali, yang kemudian lebih terkenal dengan nama golongan Syi’ah Al-Haddah dalam kitabnya yang sudah beberapa kali kita sebutkan namanya, menerangkan, bahwa banyak di antara orang-orang golongan Alawiyin ini menyingkir ke timur dan mencari tempat tinggal baru, sehingga mereka sampai kepada beberapa negeri yang terpenting di Timur Jauh dan pulau-pulau disekitarnya. Bacalah kembali kitab “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh.”
Dari pada kesimpulan-kesimpulan yang diambil oleh ahli ketimuran Belanda ternyata, bahwa mereka kurang memperhatikan bacaan-bacaan yang berasal dari orang Arab sendiri, kecuali Jbn Batuttah, karena karangan ini sudah banyak diterjemah orang dalam beberapa bahasa Eropah.
Kitab-kitab Al-Mas’udi, seperti “Murujuz Zahab”, Syaikhur Rabwah Ad-Dimsyiqi, seperti “Nukhbatut Dahr”, peta-peta karangan Al-Bairuni, uraian-uraian Ibn Khaldun, karangan Syihmabuddin Ahmad Abdul Wahhab, seperti “Nihayatul Arab” yang tebalnya 22 jilid, karangan Al Maqrizi, seperti “Al-Khutatul Maoriziyah” dan “Al Khutatul Misriyah”, karangan Yaqur Al-Hamawi “Al-Mu’jam”, karangan Anuari, seperti “Nihayatul Arab” dan lain-lain belum diterjemahkan kedalam bahasa Eropah, dan oleh karena itu belum banyak dijadikan sumber penyelidikan oleh ahliahli ketimuran zaman Belanda itu. Sedang di dalamnya dengan tidak langsung banyak sekali berisi cerita orang-orang Arab pergi ke Timur Jauh dalam masa sekitar pembunuhan Khalifah Usman itu. Hal ini dapat kita ketahui dari kitab karangan Dr. Nageeb Saleeby yang mengupas soal-soal itu kembali dalam karangan-karangannya, diantaranya “Studies in Moro’s religions” ia telah menceritakan tentang penyiar-penyiar Islam dikepulauan Filipina, begitu juga dalam kitabnya “Sejarah Magindanau” serba serbi tentang kedatangan orang-orang Arab Alawiyin di Timur Jauh.
Kitab-kitab tersebut di atas jika dipelajari oleh ahli ketimuran Belanda di masa yang telah lampau, akan pasti dapat mengubahkan pendirian dan kesimpulannya.
Sekarang bagi kita bangsa Indonesia yang mempunyai pengetahuan bahasa Arab ala kadarnya, di samping catatan-catatan yang ditinggalkan Belanda, dapat mengoreksi kesimpulan ahli ketimuran Belanda itu, asal kita kerjakan bersungguh-sungguh dan jujur, tidak dipengaruhi oleh sentimen, baik sentimen mazhab maupun sentiment daerah.
Sudah saya kemukakan beberapa nama penyiar Islam pertama itu, untuk menunjukkan bahwa jauh lebih dahulu dari Sultan Malikus Saleh, yang masa hidupnya sudah diketahui dari batu nisannya, sudah ada terdapat kuburan-kuburan yang berisi dengan orang-orang Islam.
H.M. Zainuddin dalam kitab “Tarikh Aceh” (Medan, 1961) telah mencatat sebagai orang Islam pertama datang ke Aceh Zahid, komandan dari suatu Armada Persia, yang terdiri dari 33 buah kapal, dalam perjalanan ke Tiongkok, singgah kepada beberapa negeri, seperti Malaya, Kedah, Siam, Kamboja, Annam, Jawa, Brunai, Makassar, Kalimantan, Maluku, dan beberapa buah dari pada kapal itu singgah di pesisir tanah Aceh (Andalas Utara) dalam abad yang pertama Islam (tahun 82 H = 717 M.).
Jika catatan Saudara H. Zainuddin itu dapat dikuatkan dengan bukti-bukti sejarah, sekurang-kurangnya dengan menyebutkan sumber pengambilannya, maka kita sudah maju dengan tahun masuk Islam ke Indonesia dalam abad Hijrah pertama, jika kita maksudkan dengan masuk Islam itu kedatangan orang Islam ke Indonesia. Jangan kita lupakan, bahwa tiap orang Islam adalah muballigh mengenai agamanya, menyampaikan sepatah atau dua patah kata tentang Islam harus menjadi kewajiban baginya. Ballighu ‘anni walau ayah — sampaikan ajaranku meskipun sekalimat, kata Nabi Muhammad.
Kemudian saya tertarik kepada daftar yang diperbuat oleh Tengku M. Yunus Jamil, yang dikemukakan sebagai prasaran dalam
Pekan Kebudayaan Aceh di Kutaraja tahun 1958, mengenai raja-raja Perlak, sebagai berikut :
Dalam tahun 420 H. = 1028 M. sebuah kapal orang Gujarat telah datang lagi ke Perlak, di utara Sumatera, yang ditumpangi oleh saudagar-saudagar Arab dan India : yang dijumpai di Perlak seorang Mohrat (Meurah), yaitu Maharja. Salah seorang Arab dari turunan Quraisy.suku Sayid telah dapat kawin dengan seorang puteri Perlak sampai memperoleh anak dan turunannya di situ.
Kira-kira 50 tahun kemudian dari itu, terdirilah sultanat Perlak pada tahun kurang lebih 470 H. = 1078 M, yaitu :
I.Sultan Alaiddin Syah (520 — 544 H. = 1161 — 1186 M.) Namanya Sayid Abdul Aziz, kaum Syi’ah, ibunya seorang Puteri dari Meurah/Raja Perlak.
II. Sultan Alaiddin Abdurrahim Syah ibnu Sayid Abdul Aziz (544- 568 H. = 1185 — 1201 M.)
III. Sultan Alaiddin Sayid Abbas Syah ibnu Sayid Abdurrahim Syah (568 — 594 H. = 1210 — 1236 M.).
IV. Sultan Alaiddin Mughayat Syah (594 — 597 H. = 1236 — 1239 M.), 2 tahun takhta kerajaan terluang karena perebutan kekuasaan dengan dinasti Meurah, kemudian baru ia menang dan dapat dinobatkan kembali.
V. Sultan Mahdum Alaiddin Abdul Kadir Syah, namanya orang Kaya Meurah Abdul Kadir (597 — 641 H. = 1239 – 1243 M.). Sultan ini dari dinasti Meurah Perlak asli yang telah 6 bulan merebut kekuasaan dari dinasti Abdul Aziz, dan dalam 6 bulan itu kerajaan tiada bersultan.
Sesudah pemerintah menyusun regim pemerintahan baru dengan mengadakan majelis kerajaan yang dipimpin oleh seorang Mufti Besar, mengadakan perbendaharaan dan Baitilmal dan mengadakan Jawatan Qadhi Besar.
VI. Sultan Makhdum Alaiddin Muhammad Amin Syah bin Malik Abdul Kadir (641 — 665 H. = 1243 — 1267 M.). Seorang Alim, sebelum ia dinobatkan membuka sekolah perguruan tinggi di Bayeuen (Aramiyah/Cotkala).
Sultan ini meluaskan kerajaan sampai ke batas Kuala Jambu-Air. Mengangkat Mangkubumi kerajaan Perlak Tun Perpatih Pandak dan mengangkat pahlawannya yang kuat bernama Benderang dan pada masa itu dibuka pelabuhan Basma negeri baru, antara Kuala Perlak dengan Kuala Jambu Air. Mengawinkan anaknya :
1. Puteri Gangang Sari dengan Sultan Malikus Saleh Pase, dan
2. Puteri Ratna Jemala/Kemala dengan Raja Iskandar Syah dari Singapura/Tumasik.
VIL Sultan Makhdum Abdul Malik Syah bin Muhammad Amin Syah (665 — 674 H. = 1267 — 1275 M.).
Dalam masa pemerintahannya terjadi huru-hara perebutan kekuasaan kembali dengan dinasti Sayid Aziziyah, pergolakan ini memakan beberapa tahun lamanya dan Sultanat kosong, akhirnya kerajaan ini pecah menjadi dua :
1. Kerajaan Perlak Baroh/Selatan yang berkedudukan di bandar lama (Bandar Kafilah) Aloee Meuih. Rajanya dinobatkan pada 3 Muharram tahun 678 H. = 1280 M., gelarnya Sultan Alaiddin Mahmud Syah. Pemerintahannya tidak lama, baginda mangkat pada bulan Zulhijjah tahun 691 H. = 1292 M.
2. Perlak Tunong/Utara yang berkedudukan di Biang Perak/ Kroeeng Tuan (Lubok Sigenap) merajakan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah. (678 — 695 H. = 1280 — 1296 M.).
Setelah Sultan ini mangkat kerajaan menjadi satu kembali, yang dikendalikan oleh Sultan Alaiddin Malik Ibrahim Syah.
Dikhabarkan selanjutnya bahwa Sriwijaya menyerang Perlak dalam tahun 670 H. atau 1271 M. Sultan Alaiddin Mahmud Syàh meninggal dunia pada hari Ahad akhir bulan Zulhijjah tahun 691 H. = 1276 M. Pimpinan kerajaan dipegang oleh Sultan Makhdum Malik Ibrahim, dan perang diteruskan. Pada tahun 673 H. = 1275 M. tentara Sriwijaya atas serangan Perlak meninggalkan kerajaan Malik Ibrahim itu dan menghadapi serangan Kertanegara. Dalam pemerintahan Makhdum Malik Ibrahim antara 678 = 695 H. =1280 — 1296 M. Perlak mengalami kemakmuran dan keamanan.
Dengan keringkasan isi uraian M. Yunus Jamil, yang dimuat kembali dalam kitabnya H. Zainuddin, menurut katanya sesudah dicocokkan uraian dengan batu-batu nisan kuburan raja-raja yang pernah diperiksanya.
Jika uraian ini dibuktikan dengan menyebut halaman sumber pengambilan, pasti catatan ini menjadi sangat berharga M. Yunus Jamil hanya menyebut nama-nama kitab pengambilan dalam bahasa Arab, yaitu Tajul Hindi, karangan Bahruri Syahriar, Mamlikil Absar fi Mamalikil Amsar, karangan Fadlullah Al-Umri, Tarikh Salatin Gujarat, karangan Miran Sayid Mahmud bin Munarul Muluk, Zubdatut Tawarikh, karangan Nurul Hak Al-Makhriqiyal Dahlawy, dan Idhahul Hak fi Mamlakatil Perlak, konon karangan Abu Ishak Al-Makarany. Kitab-kitab ini tidak terdapat dalam pasar buku dan belum pernah saya lihat M. Said dalam karangannya “Aceh sepanjang abad” menerangkan, bahwa ia telah pernah mendatangi M. Yunus untuk menyaksikan sumber tersebut tetapi tidak berhasil.
Bagaimanapun juga uraian M. Yunus Jamil itu lebih mendekati kupasan ilmiyah dari pada dongeng Syeikh Ismail beserta Fakir Muhammad yang disebut oleh Abdullah Munsyi dalam “Sejarah Melayu”, yang dalam pertenganan abad ke XIII telah berangkat dari Mekkah dengan perintah Syarif Mekkah, untuk meng-Islamkan Samudra.
Setelah berlayar ke Barus dahulu, kemudian kembali ke Lamuri dan baru terus Samudra, mereka dapat meng-Islamkan Marah Selu dengan kedua pembesarnya Seri Kaya dan Bawa Kaya, yang sesudah masuk Islam, masing-masing bernama Sidi Ali Khiatuddin dan Sidi Ali Hasanuddin. Marah Selu masuk Islam karena bermimpi diludah ke dalam mulutnya oleh Rasulullah. Sesudah masuk Islam, ia bernama Sultan Malikus Saleh dan memerintah negeri Samudra Pase.
Sebagai petunjuk pertama dapat kita pergunakan dongeng itu, tetapi untuk membuktikan sejarah harus kita kuatkan dengan bahanbahan yang lain lagi.
Salah satu bahan sejarah yang masih banyak terdapat di Aceh ialah kuburan-kuburan. Dan untuk memeriksa kuburan-kuburan ini perlu lengkap :
1. pengetahuan bahasa Arab, dengan segala macam dialeknya, yang dapat menunjukkan daerah asal pengarang nisannya.
2. ahli dalam bermacam-macam huruf Arab dengan sejarah zaman terciptanya dan pemakaiannya.
3, ahli dalam mazhad-mazhab Islam, karena baik ayat-ayat Qur’an maupun lafad-lafad yang turut terukir pada batu nisan itu berbicara tentang mazhab orang yang dikuburkan itu.
4, ahli dalam ilmu bangsa dan tanah, adat istiadat dan hubungan negeri-negeri satu sama lain, yang terletak dalam perpindahan bangsa.
5, ahli dalam beberapa bahasa, terutama dalam bahasa Arab, Belanda, Inggris dll. untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
6, ilmu yang lain-lain, seperti ilmu praehistori, ilmu tengkorak manusia dsb. Tentu saja sekian banyak ilmu itu tidak dapat dimiliki sekaligus dalam satu pribadi, maka oleh karena itu harus diciptakan kerjasama dalam penyelidikan kuburan-kuburan itu.
Saya girang melihat inisiatif pribadi sudah ada dalam pemeriksaan kuburan-kuburan di Aceh itu, meskipun belum sempurna, karena harus dibicarakan dalam perbandingan dengan literatur yang terdapat
dalam kitab-kitab sejarah dan kissah-kissah pelajaran dan perjalanan kuno, dan ini terdapat dalam bermacam bahasa, di antaranya Belanda, Arab dan Inggris. Dalam kitab “Tarikh Aceh” karangan H.M. Zainuddin saya baca beberapa penulisan tentang kuburan di Aceh. Ada yang diselidiki oleh ahli ketimuran Belanda, seperti Makam Raja Samudra Pase Malikus Saleh (m. 690 H. = 1297 M.) Makam anaknya Sultan Muhammad yang terletak di sampingnya (m 1326 M), semuanya terdapat di Sungai Pase, kuburan di Biang Mei dari seorang raja perempuan Ratu Nahrisah, puteri Sultan Haidar bin Said ibnu Sultan Zainal Abidin bin Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad bin Malikus Saleh, meninggal 17 Zulhijjah 832 H. = 1428 M. dll., dan ada yang dikemukakan dari usaha sendiri.
Pemeriksaan oleh Controleur Lho Seumawe Scheffer bersama dengan Syeikh Muhammad Al-Katali juga menunjukkan hasil-hasil yang baru. Di antaranya terdapat sebuah kuburan dari Ya’cub, di kala hidupnya berpangkat Qaid (komandan), meninggal dalam bulan Muharram tahun 630 H. = 1232 M, begitu juga kuburan Abdurrahman, yang disebut seorang raja dari Pase, meninggal hari Rebo bulan Zulka’idah tahun 610 H. = 1213 M. Dalam kumpulan makam ini terdapat kuburan Naina Hisamuddin ibnu Naina (tidak dapat dibaca), mangkat pada bulan Syawal tahun 622 H. = 1225 M. dan banyak yang lain-lain yang termuat dalam buku H.M. Zainuddin itu.
Sayang tidak berapa dari tulisan bahasa Arab pada kuburan itu yang dimuat lafadnya, sehingga kita tidak dapat menerka kembali apa yang dimaksudkan dengan kata-kata yang tersebut pada penulisan itu dengan pendapat kita sendiri.
Dengan mengemukakan huruf Arab mengenai kuburan Nahrisah dalam kitab Tarikh Aceh, saya sesudah membaca teks itu, sudah berani menyatakan pendapat lain dari pada pendapat H.M. Zainuddin, yaitu mengenai khadiyu, yang dikatakan diyu-diyu atau dewa-dewa.
Apakah tidak mungkin khadiyu itu berasal dari al-khudawi, nama suku Turki keturunan Arab, yang diaku sudah sejak zaman Rasulullah. Ini hanya sebagai contoh. Oleh karena itu saya rasa ada baiknya tulisan Arab sebagaimana yang terdapat disalin saja seluruhnya, sebelum dikomentar atau diterjemah, seperti yang terdapat dalam kitab Tarikh Aceh tersebut.
Aceh dan daerah-daerah yang dahulu pernah termasuk Aceh masih terlalu kaya dengan kuburan-kuburan dan nisan bertulis yang mengandung bahan sejarah dan perlu diselidiki.
Kita dapati nisan-nisan itu bertimbun-timbun dan bekas istana atau candi terserakserak, misalnya di daerah Tungkob XXVI mukim Aceh Besar, daerah Kroeeng Raja, Pante Raja, di Lam Bhu’ Kutaraja, di Kraton Gupernuran, Kuta Alam, makam di Bitai dengan kuburan Sultan Salahuddin (m. 1548 M.), makam Sultan Jamalul Alam di Gang Air Wangi, Kutaraja, makam Alaiddin Mahmud Syah (m. 1874 M.) di Cot Bada, kuburan-kuburan di Biluy, di antaranya Sultan Muzaffar Syah (m. 901 H.), makam meurah-meurah di Ulee Lung, sekitar Indrapuri dengan kuburan Abdullah Arif, di Pidie, di Sigli, di Sanggeue, di kampung Pande, dekat kampung Jawa, Kutaraja, di Kuala Unga di Daya, Kuala Aceh, Lam Dingen, dll. yang masih banyak belum dibaca orang dan dibicarakan dalam hubungan sejarah, dan yang sudah dibuka pintu dalam kitab H.M. Zainuddin Tarikh Aceh.
Begitu juga di luar Aceh, di daerah-daerah yang dahulu pernah masuk wilayah pemerintahannya, seperti di Singkel dan Barus, yang sejak hari-hari pertama juga sudah dikunjungi oleh pelajar-pelajar Arab karena masyhur hasil hutannya (Barus was reeds bij de Arabsche zeevaarders onder de naam van Fansur als het kanferland bij uitnemendheid, sebagai kata V.d. Lith et Devic dalam Marveilles des Indes, hal. 234 vlb.), yang pernah berkembang Islamnya di bawah pimpinan Aceh sampai th. 1668, oleh Belanda tahun 1668, dan kembali ke dalam wilayah Aceh tahun 1778, semuanya adalah bahan pemeriksaan yan akan sangat menarik.
Selanjutnya di Minangkabau, di Aru, di Tamiang, di Jazirah Malaya banyak terdapat juga kuburan-kuburan yang ada sangkut pautnya dengan berita-berita dari Pase dan Perlak itu.
Kita hanya mengharapkan perhatian generasi muda kita untuk pemeriksaan sejarah ini, sebagaimana sudah dimulai oleh Dr. Tujimah dengan diss, mengenai Ar-Raniri atau oleh Mohammad Said dengan kitabnya Aceh Sepanjang Abad.
Bahan-bahan yang berasal dari penulis-penulis Belanda tidak kita tolak atau singkirkan begitu saja, tetapi kita isi dan perbaiki dengan bahan-bahan penyelidikan kita sendiri dan kitab-kitab berbahasa Arab yang belum dirembet oleh ahli ketimuran Belanda, tidak dengan tergesa-gesa atau sentiment disingkirkan, tetapi berusaha dengan penuh keikhlasan dan kejujuran untuk mencari kebenaran. Mengabui sejarah adalah dosa besar, karena yang demikian itu berarti menipu kita sendiri dan tidak dapat menjadi cermin kehidupan di masa yang akan datang. Ilmu pengetahuan yang sudah dipengariii oleh sentimen bukan ilmu pengetahuan lagi. Sekian.
Memang tidak mudah menentukan siapa-siapa penyiar Islam di hari-hari pertama dan dari mana negeri asalnya. Kita hanya dapat menerka dari namanya, dari macam huruf dan bacaan Arab yang tertulis pada nisannya, dari ukiran-ukiran dan bentuk batu-batu nisan itu, yang biasanya tidak saja dapat menentukan daerah asal kedatangan, tetapi juga dapat menentukan aliran sesuatu mazhab dalam Islam yang dianutnya.
Kuburan Na’ina Husam ad-Din bin Na’ina Amin, yang terdapat di Pase dan yang pada batu nisannya tertulis tanggal wafatnya bulan Syawal 823 H. (Oktober/Nopember tahun 1420 M.), dengan segera dapat diketahui, bahwa ia berasal dari Persia, karena tidak saja huruf dan nisan mempunyai bentuk yang tertentu, tetapi dari sya’ir yang tertulis sekitar nisan itu, sudah dapat diketahui berasal dari seorang penyiar Persia Sheikh Muslih Ad-Din Sa’idi (A.D. 1193 — 1292), yang tentu tidak akan terpilih jika tidak ada hubungan peradaban.
Penemuan ini yang dibicarakan oleh Dr. H.K.J. Cowan dalam karangannya “A Persian Inscription in North Sumatra” (T.T.L. dl. LXXX, 1940), dibenarkan kemudian oleh Dr. S. Moustapha Thabthaba’i, seorang ahli sejarah dari Persia, yang membicarakan hal itu dalam suatu brosur “Hubungan Kebudayaan Indonesia – Iran” (Bandung, 1960). dalam brosurnya itu ia menetapkan juga adanya kuburan seorang ulama Iran terbesar yang bernama Hasan Khair bin Al-Amir Ali Istrabadi, yang meninggal 12 Rabiul Awwal 833 H., sebagaimana mudah baginya menentukan kuburan Sayid Imaduddin Al Husaini, Jamhur Ali, dan Amir Muhammad bin Abdul Qadi AlAbbasi (mgl. 882 H.)
Bagi pengarang Persi pemeriksaan kuburan-kuburan orang Persi itu memudahkan, karena tidak sukar baginya mengetahui kebudayaannya sendiri dan silsilah suku-suku Persi yang sudah dikenal di tanah airnya, lebih mudah dari pada seorang ahli ketimuran barat atau kita sendiri, yang tidak mehgetahui seluk-beluk hubungan kebudayaan tersebut.
Sebuah kuburan, yang misalnya di samping ayat-ayat Qur’an, terdapat semboyan-semboyan keyakinan syi’ah, seperti “tidak ada pemuda perkasa selain Ali, tidak ada pedagang selain ZulFiqar” (La fata ilia Ali, la saifa ilia Zulfiqar) sudah sangat dekat kepada kebenaran, untuk menerka, bahwa yang terkubur itu adalah seorang Syi’ah.
Dhiya Shahab, seorang yang pada waktu ini ahli dalam Bahasa dan huruf Arab (ilmu chat calligrafi), begitu juga ahli dalam ilmu suku-suku bangsa Arab dan sejarah Islam, anggota Lembaga Penyelidikan Islam di Jakarta, menyimpan berpuluh-puluh, bahkan beratusratus gambar tulisan nisan, kuburan dari Aceh, yang membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Diantaranya terdapat Ali bin Sayyid Izzuddin Ishaq Al-Hasani (Al-Husaini ?), meninggal 1 Muharram 857 H. di Aceh, dan juga kuburan Amhar Syah Khojah Al-Sultan Al-Adil Ahmad (mgl. 27 Rajab 864 H).
Prof. Dr. Snouck Hurgronye menerangkan, bahwa di Pase terdapat sebuah kuburan dari Abdullah (meninggal 1407 M.), yang dengan pemeriksaan diketahui, bahwa ia cucu Khalifah Al-Mutasir, yang meninggalkan Baghdad untuk menyelamatkan dirinya dari pada penyembelihan bangsa Mongol (Dr. Snouck Hurgronye, Revue de l’Histoire des Religions 29eme année 1908). Berita inipun dibenarkan oleh Dr. Thabthaba’i, ahli sejarah dari Iran itu.

Dikutip dari: Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia; Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh; Ramadhani-Solo.

Leave A Reply