Si ‘kecil’ yang terlupa

0
Hal kecil sering kali dilupa, bahkan mengganggap itu seolah olah tiada. Namun, jikalau kita sadar, terkadang kita jatuh akibat hal-hal kecil. Ya, sesuatu yang kecil, yang jangkauan mata tak lagi memperhatikan. Coba perhatikan jika kita sering terjatuh dijalan, terkadang bukan karena hal2 besar, bukan karena tersandung tembok maupun pagar, tapi karena hal-hal sepele, kulit pisang, atau kerikil yang menghadang dijalan,
Begitulah pandangan dan perspektif manusia tehadap dosa kecil, tak terlalu dihiraukan, dan diperhatikan, tapi pada dasarnya dosa itu membinasakan. Karena boleh jadi yang kecil menjadi besar jikalau dilakukan secara terus menerus, menjadi besar akan akumulatif dari dosa kecil, sehingga dosa itu lebih mudah untuk menjadi kebiasaan tanpa ada perasaan bersalah, menjadi remeh dipandang dengan mengganggap bahwa dosa kecil akan lebih mudah diampuni.
jikalau kita sejenak melihat kepada para salaf, bagaimana mereka menganggap begitu sangat berbahayanya dosa kecil, karena sekecil apapun dosa itu, akan menjadi beban yang berat kelak dikala menghadap Allah taa’la. Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المُوبِقَاتِ
Sesungguhnya kalian melakukan suatu perbuatan yang lebih halus di mata kalian dibandingkan sehelai rambut, namun kami menilainya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam dosa yang membinasakan.” (HR. Bukhari no. 6492).
Inilah seharusnya yang dilakukan oleh seorang yang beriman. Yaitu, merasa khawatir terhadap dosa yang dikerjakan, dan senantiasa takut terhadap dosa yang ditorehkan, dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, menganggap besar dosa (kecil) yang dilakukan dan lari (menjauh) darinya sejauh mungkin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” (HR. Bukhari no. 6308).
Ada kisah menarik, terdapat hikmah yang bias kita jadikan bahan renungan.
“Ada dua orang yang mendatangi seorang yang `alim mengadukan apa yang telah mereka lakukan, yang satu mengeluh karena dia telah melakukan dosa besar dan benar benar menyesal ingin menyudahi semua dosa yang dilakukan, 
Dan yang satu lagi tanpa merasa bersalah mengatakan, `kalau dirinya tidak merasa melakukan dosa, hanya dosa kecil, merasa biasa dan aman dari siksa`
Kepada pelaku dosa kecil pun sama, `ambillah kerikil2 kecil hingga berat satu kilo`
Dia menjawab, “sudah wahai syaikh, tepat saya kembalikan ke tempat seperti sebelumnya”.
Sejenak si `alim berfikir kemudian berkata kepada pelaku dosa besar, `ambillah batu besar dengan berat sekilo`
Tanpa banyak tanya dan bicara, perintah itu mereka lakukan, selesai mendapatkan apa yang dicari, kembalilah mereka kepada si `alim, namun betapa kagetnya mereka ketika baru sampai kepadanya, orang `alim itu memerintahkan mereka berdua untuk mengembalikan benda yang mereka bawa tepat ke tempatnya semula, tanpa pindah sedikitpun
Dia yang hanya membawa batu besar dengan mudahnya meletakkan kembali ketempatnya semula, namun beda dengan yang satunya lagi, karena begitu banyak kerikil yang dia ambil, dia lupa dengan tempatnya satu persatu,
Setelah selesai, mereka kembali lagi ke tempat si `alim berada, sesampainya disana orang `alim itu bertanya kepada mereka masing-masing,
Kepada pelaku dosa orang `alim itu bertanya, “tadi kamu membawa batu besar, dan saya menyuruhmu untuk mengembalikan ke tempatnya, sudahkah kamu lakukan??”
Kepada pelaku dosa kecil ditanyakan hal yang sama, namun dia menjawab, ” ma`af syaikh, sebenarnya semua saya sudah kembalikan, tapi kayaknya tidak semuanya tepat pada tempat semula, ada beberapa yang saya lupa tempatnya”.
Dengan bijak si `alim berkata, “berhati hatilah kamu dengan dosa kecil yang sering kamu lupakan, bahkan engkau menganggapnya remeh, tapi boleh jadi berat dosa itu sama dengan dosa besar yang dikerjakan saudaramu,”
Tak sadar, si ‘kecil’ yang diremehkan, si ‘kecil’ yang terlupakan, si ‘kecil’ yang minim perhatian, bahwa itulah yang selama ini menjadi batu gangguan yang sering membuat kita terjatuh, bahkan ada yang sudah jatuh , namun tidak merasa terjatuh. Beda dengan dosa besar, yang kebanyakan nampak dipandang mata, teringat dijangkau rasa, penuh perhatian dan penyesalan.
Kalaupun salaf sangat takut dengan perilaku mereka yang menyebabkan dosa, bahkan ketakutan mereka hadir ketika kebimbangan menyapa mereka serasa mengiang2 dikepala, jikalau Allah tidak mengampuni dosa2nya. lantas, bagaimana dengan diri kita???
“Jikalau saya mendengar seruan dari langit yang mengatakan bahwa seluruh penduduk bumi diampuni dosanya kecuali satu orang, maka sungguh saya benar2 khawatir kalau orang itu adalah aku” 
(Umar bin Khottab)
Semoga bermanfaat, barakallahu fikum
By : Abu Rabi’ah zayn Ar Ra’yi

Leave A Reply