Sholat Tahajud, Witir dan Tarawih

0

 

SHALAT TAHAJJUD

 

Maknanya

        

    Secara bahasa tahajjud berasal dari kata hajada-yahjudu-hujudan yang bermakna bangun tidur atau kebalikan dari kata tidur. Sedang secara istilah maknanya adalah shalat dilaksanakan di malam hari setelah bangun tidur.

            Imam al-Hasan al-Bashary berkata, “Yang dimaksud dengan shalat tahajjud adalah shalat yang dilakukan setelah shalat isya` atau yang dilakukan di malam hari”.

Hukumnya

            Hukum melaksanakan shalat tahajjud adalah sunnah mu`akkad (yang ditekankan), berdasarkan dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah as-Shahihah (hadits shahih).
Dalil-dalil dari al-Qur`an
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
            Artinya: “Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. al-Isra` [17]: 79)
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
            Artinya: “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka”. (QS. al-Furqan [25]: 64)
كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
            Artinya:“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; –  Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)”. (QS. adz-Dzariyat [51]: 17-18)
يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً
            Artinya: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), – bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), – (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, – atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil”. (QS. al-Muzammil [73]: 1-4)
Dalil-dalil dari as-Sunnah
عَنْ بِلاَلٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ؛ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ وَمَنْـهَاةٌ عَنِ اْلإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّـئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلـدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ “.
            Artinya: Dari Bilal Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam); karena sesungguhnya ia kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Ia juga merupakan amalan yang mendekatkan (seorang hamba) kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menebus segala kesalahan (dosa-dosa kecil) dan menghilangkan penyakit dalam tubuh”. (HR. at-Tirmidzi)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ “.
            Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shiyam (puasa) yang lebih utama setelah (shiyam) ramadlan adalah (shiyam di bulan) muharram, dan shalat yang lebih utama setelah shalat fardlu adalah shalat malam”. (HR. Muslim)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ. فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، فَصَلَّوْا مَعَهُ. فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ. فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ:” أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا “.
وَفِي رِوَيَةٍ : قَالَ :” قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ “؛ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ .
            Artinya: Dari `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah di tengah malam kemudian beliau melaksanakan shalat di masjid, lalu beberapa orang sahabat ikut shalat bersama beliau. Di pagi harinya orang-orang menceritakan hal itu, maka di malam harinya lebih banyak lagi jumlah orang yang ikut shalat bersama beliau. Di pagi hari selanjutnya orang-orang kembali menceritakan hal itu, maka pada malam hari yang ketiga lebih banyak lagi jumlah orang yang datang ke masjid, Rasulullah pun shalat (malam) bersama mereka. Namun pada malam yang keempat suasana masjid sangat sesak hingga tiba (waktu) shalat shubuh. Setelah beliau melaksanakan shalat shubuh (berjama`ah) maka beliau menghadap ke arah para sahabatnya, setelah membaca kalimat syahadat beliau bersabda, “Amma ba`du, sesungguhnya saya tidak khawatir atas kedatangan kalian (untuk shalat malam di masjid secara berjama`ah) akan tetapi saya khawatir (shalat malam) itu menjadikannya sebuah kewajiban lalu kalian merasa berat dengannya”. (HR. al-Bukhary)
            Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Saya telah memperhatikan apa yang telah kalian lakukan dan sebenarnya tidak ada halangan bagiku untuk melaksanakan (shalat malam berjama`ah) dengan kalian, hanya saja saya khawatir ia menjadi suatu kewajiban (baru) bagi kalian”. Hal itu terjadi di bulan ramadlan”.

Waktu yang Utama untuk Melaksanakannya

            Waktu pelaksanaannya setelah shalat isya`, boleh di awal, pertengahan atau di akhir malam. Akan tetapi diantara semua waktu tersebut yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ، فَيَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “.
            Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap malam Allah turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir; lalu Allah befirman, “Barangsiapa yang memohon kepadaKu niscaya akan Kukabulkan, barangsiapa meminta kepadaKu niscaya akan Kuberi dan barangsiapa yang memohon ampun kepadaKu niscaya akan Kuampuni (segala dosanya)”.      (HR. al-Bukhary dan Muslim)
عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :” أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ “.
            Artinya: Dari `Amru bin `Abasah Radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saat yang paling dekat antara Allah dengan hamba adalah di sepertiga malam terakhir; jika kalian mampu menjadi salah seorang yang berdzikir kepada Allah saat itu maka lakukanlah”. (HR. at-Tirmidzi)

Jumlah raka`atnya

            Tidak ada batasan jumlah raka`at dalam shalat tahajjud. Dapat dikatakan shalat tahajjud walau hanya mengerjakannya satu raka`at, tentunya setelah (melaksanakan) shalat isya`.
            Namun jumlah raka`at yang paling utama adalah 11 atau 13 raka`at. Boleh dilaksanakan seluruhnya langsung atau dilanjutkan setelah tidur kembali.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya (datang) seorang laki-laki pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya tentang shalat malam, beliau pun bersabda, “Shalat malam (dikerjakan) dua raka`at-dua raka`at. Jika salah seorang diantara kamu khawatir (waktu) shalat shubuh telah tiba, laksanakanlah satu raka`at witir sebagai penutup shalat (malam)”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ بَاتَ لَيْلَةً عِنْدَ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ خَالَتُهُ، فَاضْطَجَعْتُ فِي عَرْضِ الْوِسَادَةِ وَاضْطَجَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَهْلُهُ فِي طُولِهَا، فَنَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ أَوْ قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ أَوْ بَعْدَهُ بِقَلِيلٍ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ اْلآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهَا فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ، فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي الْيُمْنَى يَفْتِلُهَا، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى أَتَاهُ الْمُؤَذِّنُ، فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ia bermalam di rumah Maimunah, bibinya; istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dia berkata), “saya tidur di tengah bantal (antara Rasulullah dan istrinya) sedang Rasulullah tidur di ujungnya. Rasulullah tidur hingga saat pertengahan malam; sebelumnya atau sesudahnya sedikit lalu beliau bangun. Setelah itu beliau mengusap wajahnya, lalu membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali `Imran. Kemudian beliau berdiri dan menuju tempat air (yang terbuat dari kulit kering) yang tergantung. Beliau pun berwudlu dengan sempurna lalu melaksanakan shalat (malam). Abdullah bin Abbas berkata, lalu aku bangun dan melakukan apa yang dilakukan Rasulullah tadi, setelah itu aku berdiri di samping (kiri) beliau. Tiba-tiba beliau meletakkan tangan kanannya ke atas kepalaku lalu menarik telinga kananku dan memalingkanku (ke sebelah kanan beliau). Beliau shalat dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu shalat witir satu raka`at. Setelah itu beliau tidur-tiduran (leyeh-leyeh) hingga muadzin (mengumandangkan adzan shubuh). Kemudian beliau berdiri lalu shalat dua raka`at ringan (shalat fajar), setelah itu beliau keluar untuk melaksanakan shalat shubuh”. (HR. al-Bukhary)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، فَإِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ اْلأَيْمَنِ حَتَّى يَجِيءَ الْمُؤَذِّنُ فَيُؤْذِنَهُ “.
            Artinya: Dari `Asiyah Radhiyallahu ‘anha, “bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sebanyak 11 raka`at. Jika fajar terbit (waktu shubuh tiba) beliau shalat dua raka`at ringan (shalat fajar), lalu beliau berbaring (leyeh-leyeh) dengan posisi miring ke sebelah kanan badannya hingga muadzin mengumandangkan adzan”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)

Cara pelaksanaannya

            Adapun cara melaksanakan shalat tahajjud ada beberapa cara, yaitu:
  1. Dilaksanakan dua raka`at-dua raka`at.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا رَأَيْتَ أَنَّ الصُّـبْحَ يُـدْرِكُكَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ “، فَقِيلَ لاِبْنِ عُمَرَ : مَا مَثْنَـى مَثْنَـى؟ قَالَ : أَنْ تُسَلِّمَ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ .
            Artinya: Dari Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat malam (dikerjakan) dua raka`at-dua raka`at. Jika kamu mengetahui (waktu) shalat shubuh telah tiba, laksanakanlah shalat witir satu raka`at”. Ada seseorang yang bertanya pada Abdullah bin Umar, apa yang dimaksud dengan dua raka`at-dua raka`at?, beliau menjawab, “Hendaknya kamu melakukan salam setiap selesai dua raka`at”. (HR. Muslim)
  1. Dilaksanakan empat raka`at-empat raka`at kemudian tiga raka`at.
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا : كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ؟ قَالَتْ : مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا. فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ، قَالَ :” تَنَامُ عَيْنِي وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي“.
Artinya: Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia bertanya kepada `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “bagaimanakah sifat shalat (malam) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan ramadlan (shalat tarawih)?”. `Aisyah menjawab, “Beliau tidak menambah jumlah raka`at shalat (malam)nya; baik pada bulan ramadlan maupun selainnya dari 11 raka`at. Beliau melaksanakan empat raka`at; jangan engkau tanya bagus dan panjangnya shalat (malam) beliau, lalu shalat empat raka`at lagi; jangan engkau tanya bagus dan panjangnya shalat (malam) beliau, lalu beliau shalat tiga raka`at”. `Aisyah bertanya, “wahai Rasulullah… engkau tidur sebelum melaksanakan shalat witir?”. Beliau menjawab, “Meskipun mataku tidur namun tidak dengan hatiku”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)
  1. Dilaksanakan delapan raka`at kemudian dua raka`at.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَرَكْعَتَيْنِ جَالِسًا، وَرَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّـدَاءَيْنِ، وَلَمْ يَكُنْ يَدَعْـهُمَا أَبَدًا “.
Artinya: Dari `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat isya`, setelah itu beliau melaksanakan shalat (malam) sebanyak delapan raka`at dan dua raka`at dilaksanakan sambil duduk. Beliau juga melaksanakan dua raka`at antara dua adzan (adzan shubuh dan iqamah; yaitu shalat dua raka`at fajar). Beliau belum pernah meninggalkan keduanya sepanjang hayat beliau”. (HR. al-Bukhary)
  1. Dilaksanakan empat raka`at, lima raka`at kemudian dua raka`at.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا، فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ، ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ : نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا، ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيـطَهُ، ثُمَّ خَـرَجَ إِلـَى الصَّلاَةِ “.
Artinya: Artinya: Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “aku bermalam di rumah bibiku; Maimunah binti al-Harits (istri Rasulullah). Saat itupun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermalam dirumahnya (gilirannya). Beliau melaksanakan shalat isya` (berjama`ah di masjid). Setelah itu beliau pulang ke rumahnya (Maimunah), lalu shalat empat raka`at dan setelah itu beliau tidur. Ketika bangun beliau berkata, “Anak kecil ini (Abdullah) telah tidur”; atau kata-kata yang semisal dengannya. Lalu beliau berdiri, maka aku (Abdullah) pun ikut berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian beliau mengubah posisiku menjadi di sebelah kanannya. Setelah itu beliau shalat lima raka`at, lalu shalat dua raka`at lagi. Setelah shalat beliau tidur, hingga aku dapat mendengar dengkuran beliau. (setelah adzan berkumandang) beliau keluar rumah untuk shalat (shubuh berjama`ah di masjid)”. (HR. al-Bukhary)

Boleh jahr ataupun sirr

            Ketika melaksanakan shalat tahajjud, bacaan surat al-Fatihah dan surat lain boleh dibaca dengan jahr(bersuara) ataupun sirr (tidak bersuara). Semua cara tersebut diperbolehkan oleh Rasulullah.
            Adapun yang dimaksud dengan sirrdisini adalah sebagaimana yang dilakukan Abu Bakr, yaitu mengeraskan sedikit bacaan shalatnya. Sedang yang dimaksud dengan jahr disini adalah sebagaimana yang dilakukan Umar, yaitu memelankan sedikit bacaan shalatnya.
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لأَبِي بَكْرٍ :” مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تَقْرَأُ وَأَنْتَ تَخْفِضُ مِنْ صَوْتِكَ؟ فَقَالَ : إِنِّي أَسْمَـعْتُ مَنْ نَاجَـيْتُ . قَالَ :” ارْفَعْ قَلِيلاً “. وَقَالَ لِعُمَرَ :” مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تَقْرَأُ وَأَنْتَ تَرْفَعُ صَوْتَكَ “. قَالَ : إِنِّي أُوقِـظُ الْوَسْنَانَ وَأَطْـرُدُ الشَّيْطَانَ . قَالَ :” اخْفِـضْ قَلِيلاً “.
            Artinya: Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat Abu Bakar, “Aku lewat (ketika engkau shalat malam) namun engkau merendahkan bacaan (al-Qur`an)mu?”, lalu Abu Bakar berkata, sesungguhnya saya memperdengarkan bacaan saya pada Dzat yang saya memohon kepadaNya (Allah). Beliau bersabda, “Keraskan sedikit bacaan (al-Qur`an)mu (dalam shalat malammu)”. Setelah itu beliau bersabda kepada sahabat Umar, “Aku lewat (ketika engkau shalat malam) sedang engkau mengeraskan bacaan (al-Qur`an)mu?”, lalu Umar berkata, Hal itu kulakukan untuk membangunkan orang yang sedang tidur dan untuk mengusir syetan. Beliau bersabda, “Pelankan sedikit bacaan (al-Qur`an)mu (dalam shalat malammu)”. (HR. at-Tirmidzi)
            Jadi, bacaan shalat tahajjud atau tarawih itu boleh diperdengarkan. Namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai bacaan shalat tersebut mengganggu orang lain, misalnya: ada orang lain yang shalat tahajjud di samping kita.

Boleh berjama`ah ataupun sendirian

            Diperbolehkan melaksanakan shalat tahajjud secara berjama`ah, akan tetapi tidak boleh terus menerus, sebab Rasulullah hanya sesekali melaksanakannya. Yang lebih sering dilakukan oleh Rasulullah adalah munfaridan (sendirian).
            Rasulullah pernah shalat tahajjud secara berjama`ah dengan sahabat Hudzaifah, atau dengan Abdullah bin Abbas, atau dengan Anas, ibunya Anas dan anak yatim.
            Beliau pernah pula melaksanakannya dengan sahabat Abdullah bin Mas`ud, atau Auf bin Malik dan Abu Bakrah, pernah pula dengan Anas, ibunya dan bibinya; ummu Haramah.
            Beliau juga pernah melaksanakannya dengan Utbah bin Malik, Abu Bakar dan ibu sahabatnya dirumah Utsman bin Affan. Semua ini beliau lakukan hanya sesekali saja, tidak terus menerus.

 

SHALAT WITIR

Maknanya

            Secara bahasa witir bermakna bilangan yang ganjil. Sedang secara istilah adalah seseorang yang melakukan shalat malam; dengan bilangan dua  raka`at-dua raka`at lalu salam, dan setelah itu ia melaksanakan shalat satu raka`at untuk mengakhiri shalat malamnya.
            Dengan kata lain, shalat witir adalah penutup shalat malam, baik shalat tahajjud maupun tarawih.

Hukumnya

            Para ulama` berbeda bendapat tentang hukum shalat witir, diantara pendapat mereka adalah:
1.      Wajib
            Ulama` yang berpendapat demikian adalah imam Abu Hanifah. Beliau berkata, “Hukum shalat witir adalah wajib, bukan fardlu. Jika tidak dilaksanakan hingga tiba waktu shalat shubuh, maka pelakunya berdosa dan wajib untuk meng-qadla`-nya”.
عَنْ خَارِجَةَ بْنِ حُذَافَةَ قَالَ أَبُو الْوَلِيدِ الْعَدَوِيُّ رَضِي اللهُ عَنْهُ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :” إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَـلاَةٍ وَهِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ، وَهِـيَ الْوِتْرُ فَجَعَـلَهَا لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ الْعِـشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ “.
            Artinya: Dari Kharijah bin Hudzafah, Abul Walid al-`Asawy Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (bepergian) bersama kami, lalu beliau bersabda, “Sesunguhnya Allah telah membentangkan (waktu yang luas) untuk melaksanakan shalat, yang (pahala) shalat itu lebih baik dari unta merah; yaitu shalat witir. Maka laksanakanlah shalat witir itu diantara shalat isya` dan shalat shubuh”. (HR. Abu Dawud)
عَنْ أَبِي بَصْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “.
            Artinya: Dari Abu Bashrah Radhiyallahu ‘anhu, “sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menambah shalat kalian; yaitu shalat witir. Maka laksanakanlah shalat witir itu diantara shalat isya` dan shalat shubuh”. (HR. Ahmad)
2.      Sunnah mu`akkad
            Pendapat ini adalah pendapat yang paling banyak dipegang oleh para ulama`, baik dari kalangan sahabat ataupun generasi setelah mereka.
            Imam  Malik, asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan dan kebanyakan ulama` berpendapat bahwa hukum shalat witir adalah sunnah mu`akkad yang sangat dianjurkan dan disenangi oleh Rasulullah.
عَنْ عَلِيٍّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلاَ كَصَلاَتِكُمُ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْتَرَ ثُمَّ قَالَ :” يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ “.
            Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya shalat witir itu bukan suatu kewajiban dan bukan sebagaimana wajibnya shalat fardlu, akan tetapi Rasulullah tetap melaksanakannya, seraya berkata, “Wahai ahlul Qur`an (kaum muslimin) laksanakanlah shalat witir; karena sesungguhnya Allah itu ganjil dan sangat menyukai  (bilangan yang) witir/ganjil”. (HR. Ibnu Majah)
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ :” الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا “، فَقَالَ : أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ؟ فَقَالَ :” شَهْرَ رَمَضَانَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا “، فَقَالَ : أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الزَّكَاةِ؟وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ، قَالَ : هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ :” لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ “. فَقَالَ : فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلاَمِ. قَالَ : وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لاَ أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلاَ أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ شَيْئًا. فَقَـالَ رَسُولُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” أَفْلَـحَ إِنْ صَدَقَ، أَوْ دَخَلَ الْجَنَّـةَ إِنْ صَـدَقَ “.
            Artinya: Dari Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “ada orang badui yang telah beruban datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, Wahai Rasulullah shalat apa yang telah Allah wajibkan bagiku?, beliau menjawab, “Shalat fardlu, kecuali jika engkau mau melaksanakan shalat sunnah”. Orang itu bertanya lagi, “Shiyam/puasa apa yang telah Allah wajibkan bagiku?, beliau menjawab, “Shiyam ramadlan, kecuali jika engkau mau melaksanakan shalat sunnah”. Lalu orang itu bertanya lagi, Zakat apa yang telah Allah wajibkan bagiku?, lalu beliau menyebutkan padanya tentang zakat. Setelah itu dia bertanya lagi, apakah masih ada yang lain. Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika engkau mau melaksanakan yang sunnah”. Maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah berkata, lalu Rasulullah menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan syari`at Islam. Setelah itu orang badui tadi berkata, “demi Allah, Dzat yang telah memuliakanmu. Aku tidak akan melaksanakan (amalan-amalan) yang sunnah dan meninggalkan yang telah diwajibkan oleh Allah kepadaku. Rasalullah bersabda, “Dia beruntung atau dia akan masuk Jannah jika ia benar-benar (melaksanakannya)”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)

Macam dan jumlahnya

            Jumlah minimal shalat witir adalah satu raka`at, sedang jumlah maksimalnya 11 raka`at. Akan tetapi jumlah minimal yang sempurna adalah tiga raka`at.
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ اْلأَنْصَارِيِّ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ  “.
            Artinya: Dari Abu Ayyub al-Anshary Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat witir adalah suatu ketetapan (Allah) bagi setiap muslim. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak lima raka`at, hendaklah ia laksanakan. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak tiga raka`at, hendaklah ia laksanakan. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak satu raka`at, hendaklah ia laksanakan”. (HR. Abu Dawud)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا بِكَمْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ؟ قَالَتْ : بِأَرْبَعٍ وَثَلاَثٍ، وَسِتٍّ وَثَلاَثٍ، وَثَمَانٍ وَثَلاَثٍ، وَعَشْرَةٍ وَثَلاَثٍ، وَلَمْ يَكُنْ يُوتِرُ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَلاَ أَنْقَصَ مِنْ سَبْعٍ“.
            Artinya: Dari Abdullah bin Abu Qais, ia berkata, “aku bertanya pada `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Berapakah jumlah raka`at shalat witir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab, “(Rasulullah) shalat empat raka`at lalu shalat tiga raka`at, atau shalat enam raka`at lalu shalat tiga raka`at, atau shalat delapan raka`at lalu shalat tiga raka`at, atau shalat sepuluh raka`at lalu shalat tiga raka`at. Beliau tidak pernah shalat witir melebihi 13 raka`at atau kurang dari tujuh raka`at.”. (HR. Ahmad)
            Imam asy-Syafi`i dan Ahmad berkata, “Jumlah shalat witir berkisar antara tiga sampai 11 raka`at. Yang paling utama jika melaksanakannya sebanyak tiga raka`at adalah dengan dua salam; dikerjakan dua raka`at lalu salam, setelah itu ditambah satu raka`at lagi.
            Namum dibolehkan juga tiga raka`at dengan satu salam. Dibolehkan juga jika melaksanakan shalat witir sebanyak lima, tujuh, sembilan dan 11 raka`at dengan setiap dua raka`at satu salam. Setelah itu ditambah dengan satu raka`at lagi. Inilah yang paling utama menurut pengikut madzhab asy-Syafi`i. Meskipun demikian dibolehkan juga melaksanakannya dengan satu salam saja”.
            Menurut imam al-Mahally bahwa shalat witir Rasulullahada enam macam, yaitu: (lihat: taisirul alam I/282-283)
1.      Satu raka`at.
2.      Tiga raka`at.
3.      Lima raka`at dengan satu kali salam.
4.      Tujuh raka`at; tasyahhud awwal pada raka`at yang keenam, lalu berdiri lagi untuk raka`at yang ketujuh.
5.      Sembilan raka`at; tasyahhud awwal pada raka`at yang kedelapan, lalu berdiri lagi untuk raka`at yang kesembilan.
6.      11 raka`at; setiap dua raka`at salam lalu ditambah satu raka`at lagi.
            Menurut imam ibnu Qayyim al-Jauziyah bahwa shalat tahajjud dan witir Rasulullah ada beberapa cara, diantaranya adalah:
1.      Sahalat tahajjud delapan raka`at; setiap dua raka`at salam, lalu shalat witir tiga raka`at.
2.      Sebelum shalat tahajjud beliau shalat khofifataini (dua rakaa`at yang ringan/pendek), setelah itu shalat tahajjud 11 raka`at; setiap dua raka`at salam, lalu sahalat witir satu raka`at.
3.      Shalat sebanyak 13 raka`at; seperti yang di atas (no. 2).
4.      Shalat tahajjud delapan raka`at; setiap dua raka`at salam, lalu shalat witir lima raka`at dengan satu salam.
5.      Shalat sebanyak sembilan raka`at; duduk tasyahhud awwal pada raka`at yang kedelapan lalu ditambah satu raka`at lagi dan salam. Setelah itu shalat dua raka`at lagi dengan satu salam.
6.      Shalat sebanyak tujuh raka`at; duduk tasyahhud awwal pada raka`at yang keenam lalu ditambah satu raka`at lagi dan salam. Setelah itu shalat dua raka`at lagi dengan satu salam.
7.      Shalat tahajjud setiap dua raka`at salam, setelah itu shalat witir tiga raka`at dengan satu salam.
8.      Shalat tahajjud empat raka`at, setelah itu shalat witir.
            Sedang menurut syaikh Sa`ad bin `Aly bin Wahf al-Qahthany, jumlah rakaa`at dan bentuk shalat witir adalah sebagaimana berikut ini:
1.      11 raka`at; tiap dua raka`at salam, lalu shalat witir satu raka`at.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ؛ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ، إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ. فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ، وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ، وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ، ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ اْلأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلإِقَامَةِ .
Artinya: Dari `AisyahRadhiyallahu ‘anha; istri Rasulullah, ia berkata, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammelaksanakan shalat (malam) setelah selesai shalat isya`; itulah yang sering disebut dengan al-`Atamah (sepertiga malam pertama) hingga terbit fajar (waktu shalat shubuh) sebanyak 11 raka`at; dengan salam setiap dua raka`at, lalu beliau shalat witir satu raka`at. Jika mu`adzin telah selesai mengumandangkan adzan pertama (ketika tiba fajar kadzib), kemudian datang fajar shadiq (waktu shalat shubuh) maka mu`adzin mengumandangkan adzan (shubuh), beliau shalat dua raka`at ringan (shalat fajar). Setelah itu beliau berbaring (leyeh-leyeh) dengan posisi miring ke sebelah kanan badannya hingga muadzin mengumandangkan `iqamah”. (HR. Muslim)
2.      13 raka`at; tiap dua raka`at salam, lalu shalat witir satu raka`at.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ بَاتَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ وَهِيَ خَالَتُهُ، فَاضْطَجَعْتُ فِي عَرْضِ وِسَادَةٍ وَاضْطَجَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَهْلُهُ فِي طُولِهَا فَنَامَ حَتَّى انْتَصَفَ اللَّيْلُ أَوْ قَرِيبًا مِنْهُ، فَاسْتَيْقَظَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آلِ عِمْرَانَ، ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ فَتَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي فَصَنَعْتُ مِثْلَهُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبهِ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي يَفْتِلُهَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ، ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى جَاءَهُ الْمُـؤَذِّنُ فَقَامَ فَصَـلَّى رَكْعَتَـيْنِ خَفِيفَتَـيْنِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ia bermalam di rumah Maimunah, bibinya; istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dia berkata), “saya tidur di tengah bantal (antara Rasulullah dan istrinya) sedang Rasulullah tidur di ujungnya. Rasulullah tidur hingga saat pertengahan malam; sebelumnya atau sesudahnya sedikit lalu beliau bangun. Setelah itu beliau mengusap wajahnya, lalu membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali `Imran. Kemudian beliau berdiri dan menuju tempat air (yang terbuat dari kulit kering) yang tergantung. Beliau pun berwudlu dengan sempurna lalu melaksanakan shalat (malam). Abdullah bin Abbas berkata, lalu aku bangun dan melakukan apa yang dilakukan Rasulullah tadi, setelah itu aku berdiri di samping (kiri) beliau. Tiba-tiba beliau meletakkan tangan kanannya ke atas kepalaku lalu menarik telinga kananku dan memalingkanku (ke sebelah kanan beliau). Beliau shalat dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu dua raka`at, lalu shalat witir satu raka`at. Setelah itu beliau tidur-tiduran (leyeh-leyeh) hingga muadzin (mengumandangkan adzan shubuh). Kemudian beliau berdiri lalu shalat dua raka`at ringan (shalat fajar), setelah itu beliau keluar untuk melaksanakan shalat shubuh”. (HR. al-Bukhary)
عَنِ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً .
            Artinya: Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamshalat malam sebanyak 13 raka`at”. (HR. Muslim)
3.      13 raka`at; tiap dua raka`at salam, lalu shalat witir lima raka`at langsung (salam di raka`at kelima).
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّىاللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْـعَةً، يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْـسٍ لاَ يَجْلِـسُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ فِي آخِرِهَا .
            Artinya: Dari `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sebanyak 13 raka`at, lalu beliau shalat witir sebanyak lima raka`at (langsung); beliau duduk tasyahud hanya pada raka`at terakhir”. (HR. Muslim)
4.      Sembilan raka`at; duduk tahyat awwal pada raka`at kedelapan, lalu berdiri lagi (tidak salam) untuk melaksanakan satu raka`at lagi. Setelah itu salam.
عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْتِينِي عَنْ وِتْرِ رَسُولِاللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ : كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُفِيمَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ ثُمَّ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ، لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ عِنْدَ الثَّامِنَةِ، فَيَدْعُو رَبَّهُ فَيَذْكُرُ اللهَوَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَوَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُو رَبَّهُ وَيُصَلِّي عَلَى نَبِيِّهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ. فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً. فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّـحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَـلَّى رَكْعَتَـيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ .
            Artinya: Dari Sa`ad bin Hisyam, berkata, “aku bertanya pada `Aisyah Radhiyallahu ‘anha. “Wahai ummul mukminin, berikanlah penjelasan kepadaku tentang shalat witir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Beliau menjawab, “kami menyediakan siwak dan air (untuk bersuci) untuknya (Rasulullah), maka Allah membangunkan beliau  di malam hari sesuai kehendakNya. Setelah itu beliau bersiwak (sikat gigi) dan berwudlu lalu melaksanakan shalat (malam) sebanyak sembilan raka`at. Beliau melakukan duduk (tasyahhud) pada raka`at kedelapan; beliau berdo`a kepada Allah, berdzikir dan memohon kepadaNya. Setelah itu beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam untuk melaksanakan raka`at yang kesembilan. Kemudian beliau duduk tasyahhud akhir; maka ia berdo`a, berdzikir dan bertahmid (ucapkan puji-pujian) kepada Allah, lalu mengucapkan salam yang beliau perdengarkan kepada kami. Setelah itu beliau shalat dua raka`at sambil duduk, sehingga beliau melaksanakan shalat sebanyak 11 raka`at. Ketika Rasulullah sudah tua dan badannya menjadi gemuk, maka beliau shalat witir sebanyak tujuh raka`at, setelah salam beliau shalat dua raka`at lagi”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
5.      Tujuh raka`at; duduk tahyat awwal pada raka`at keenam, lalu berdiri lagi (tidak salam) untuk melaksanakan satu raka`at lagi. Setelah itu salam.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : …… فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ ….
            Artinya: Dari `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “…… Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tua dan badannya menjadi gemuk, maka beliau shalat witir sebanyak tujuh raka`at ……”. (HR. an-Nasa`i)
6.      Lima raka`at langsung (salam di raka`at kelima).
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ اْلأَنْصَارِيِّ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ “.
            Artinya: Dari Abu Ayyub al-Anshary Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat witir adalah suatu ketetapan (Allah) bagi setiap muslim. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak lima raka`at, hendaklah ia laksanakan. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak tiga raka`at, hendaklah ia laksanakan. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak satu raka`at, hendaklah ia laksanakan”. (HR. Abu Dawud)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّـي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْـرَةَ رَكْـعَةً، يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْـسٍ لاَ يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ فِي آخِرِهَا .
Artinya: Dari `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sebanyak 13 raka`at, lalu beliau shalat witir sebanyak lima raka`at (langsung); beliau duduk tasyahud hanya pada raka`at terakhir”. (HR. Muslim)
7.      Tiga raka`at; shalat dua raka`at lalu salam. Setelah itu shalat satu raka`at lagi.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِي الْبَيْتِ، فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ .
            Artinya: Dari `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di kamar sedang diriku berada di rumah itu juga. Beliau shalat (malam) antara (bilangan raka`at) yang genap dan ganjil dengan (mengucapkan) salam yang sengaja diperdengarkannya pada kam”. (HR. Ahmad)
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِي الْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ .
            Artinya: Dari Nafi`, bahwasanya Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma(mengucapkan) salam (dalam shalat witir) antara satu raka`at dan dua raka`at. (HR. al-Bukhary)
8.      Tiga raka`at langsung (salam di raka`at ketiga).
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ اْلأَنْصَارِيِّ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ “.
            Artinya: Dari Abu Ayyub al-Anshary Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat witir adalah suatu ketetapan (Allah) bagi setiap muslim. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak lima raka`at, hendaklah ia laksanakan. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak tiga raka`at, hendaklah ia laksanakan. Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat witir sebanyak satu raka`at, hendaklah ia laksanakan”. (HR. Abu Dawud)
9.      Satu raka`at langsung.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Shalat witir itu (jumlahnya) satu raka`at di akhir malam”. (HR. Muslim)

Bacaan suratnya

            Surat yang dibaca setelah membaca al-Fatihah pada raka`at yang pertama adalah surat al-A`laa, sedang pada raka`at yang kedua membaca surat al-Kafirun dan pada raka`at yang ketiga membaca surat al-Ikhlash.
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَلاَ يُسَلِّمُ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ. وَيَقُولُ يَعْنِي بَعْدَ التَّسْلِيمِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلاَثًا “.
            Artinya: Dari `Ubay bin Ka`ab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam(dalam shalat witir) pada raka`at pertama membaca surat “Sabbihisma rabbikal a`laa”, lalu pada raka`at kedua membaca surat “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” dan pada raka`at ketiga membaca surat “Qul huwallahu ahad”. Beliau hanya (mengucapkan) salam pada raka`at yang terakhir. Setelah salam beliau mengucapkan “Subhaanal malikil quddus” (Maha Suci Allah, Maha Menguasai dan Maha Sempurna) sebanyak tiga kali”. (HR. Muslim)
عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ جُرَيْجٍ قَالَ : سَأَلْنَا عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ رَضِي اللهُ عَنْهَا بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يُوتِرُ رَسُولُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ :” كَانَ يَقْرَأُ فِي اْلأُولَـى بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى وَفِي الثَّـانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّـالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَـوِّذَتَـيْنِ “.
            Artinya: Dari Abdul Aziz bin Juraij, ia berkata, “kami bertanya pada `Aisyah Radhiyallahu ‘anha tentang (surat dari al-Qur`an) yang dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamketika shalat witir”. Beliau (`Aisyah) berkata, “Pada raka`at pertama beliau (Rasulullah) membaca “Sabbihisma Rabbikan a`laa” (surat al-A`laa), pada raka`at kedua beliau membaca “Qul yaa Ayyuhal Kafirun” (surat al-Kafirun) sedang pada raka`at ketiga “Qul Huwallahu Ahad” (surat al-Ikhlash) dan al-Mu`awwidzatain(surat al-Falaq dan an-Naas)”. (HR. at-Tirmidzi)

Waktunya

            Waktu untuk melaksanakan shalat witir adalah sepanjang malam; setelah shalat isya` sampai tibanya shalat shubuh. Adapun pembagian waktunya adalah sebagai berikut:
1.      Secara umum
            Yaitu diamulai setelah shalat isya` sampai tibanya waktu shalat shubuh, baik mengerjakan shalat isya` di awal waktu ataupun ketika menjama` shalat maghrib dan isya` di waktu maghrib (jama` taqdim).
عَنْ أَبِي بَصْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “.
            Artinya: Dari Abu Bashrah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menambah shalat bagi kalian; yaitu shalat witir. Maka laksanakanlah ia antara (selesai) shalat isya` dan (sebelum) shalat shubuh”. (HR. Ahmad)
2.      Sebelum tidur
            Disunnahkan melaksanakan shalat witir sebelum tidur bagi orang yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُعَنْهُ قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ؛ صَـوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّـامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَـلاَةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ .
            Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku tentang tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan sampai aku wafat; yaitu shiyam (puasa) tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15 pada setiap bulan Hijriyah), shalat dluha dan shalat witir sebelum tidur”. (HR. Al-Bukhary)
3.      Akhir malam
            Bagi orang yang mampu bangun malam maka yang lebih utama baginya adalah melaksanakan shalat witir di akhir malam.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأََبِي بَكْرٍ :” أَيَّ حِينٍ تُوتِرُ؟” قَالَ : أَوَّلَ اللَّيْلِ بَعْدَ الْعَتَمَةِ، قَالَ :” فَأَنَتَ يَا عُمَرُ؟” فَقَالَ : آخِرَ اللَّيْلِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” أَمَّا أَنْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ فَأَخَذْتَ بِالْوُثْقَى وَأَمَّا أَنْتَ يَا عُمَرُ فَأَخَذْتَ بِالْقُوَّةِ “.
            Artinya: Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan engkau melaksanakan shalat witir?”, Abu Bakar menjawab, “Di awal malam setelah shalat isya`”. Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Bagimana dengan engkau wahai Umar?”, Umar menjawab, “Di akhir malam”. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Wahai Abu  Bakar, engkau telah melaksanakanya di waktu yang hati-hati, adapun engkau wahai Umar telah melaksanaknnya di waktu yang utama”.  (HR. Ibnu Majah)

Qunut di akhir raka`at

            Disunnahkan membaca do`a qunut setelah i`tidal sebelum sujud di akhir raka`at pada shalat witir.
            Namun menurut pendapat imam asy-Syafi`i bahwa membaca do`a qunut itu hanya disunnahkan pada pertengahan akhir bulan ramadlan saja.
            Adapun bunyi do`a qunut yang diajarkan oleh Rasulullah adalah sebagaimana hadits berikut:
عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهِعَنْهُمَا قَالَ : عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ؛ قَالَ ابْنُ جَوَّاسٍ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ :” اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ “.
            Artinya: Dari al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepadaku sebuah do`a yang dibaca ketika witir”. Ibnu Jawwas berkata, “(do`a itu dibaca ketika qunut (dalam shalat) witir”. (Artinya): “Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petujuk, selamatkanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau selamatkan, tolonglah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau tolong, berkahilah atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku, jagalah aku dari keurukan yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkaulah yang membuat ketetapan dan tidak ada yang membuat ketetapan untukmu. Sesungguhnya tidaklah hina orang yang Engkau bela dan tidak menjadi mulia orang yang menjadi musuhMu, Maha Berkah dan Maha Tinggi Engkau. Semoga shalawat selalu tercurah kepada nabi Muhammad”. (HR. Abu Dawud)

Do`a yang dibaca setelahnya

            Disunnahkan membaca do`a-do`a berikut setelah salam dari shalat witir, yaitu:
عَنِ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّىاللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ : سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُـدُّوسِ ثَلاَثًا؛ وَيَرْفَعُ صَوْتَـهُ بِالثَّـالِثَةِ .
            Artinya: Dari Ibnu Abdurrahman bin Abza dari bapaknya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika shalat witir beliau membaca surat “Sabbihisma Rabbikan a`laa” (pada raka`at pertama), “Qul yaa Ayyuhal Kafirun” (pada raka`at kedua) dan “Qul Huwallahu Ahad” (pada raka’at ketiga)”. Dan apabila telah mengucapkan salam beliau membaca do`a “Subhanal Malikil Quddus(Maha suci Allah Yang Maha Penguasa dan Maha Suci)sebanyak tiga kali; dan mengeraskan bacaannya yang ketiga”. (HR. an-Nasa`i)

Tidak ada dua witir dalam satu malam

            Jika seseorang telah melaksanakan shalat witir lalu tidur. Setelah bangun ia ingin melaksanakan shalat (tahajjud) lagi maka ia tidak perlu lagi melaksanakan shalat witir. Inilah pendapat yang paling benar.
عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّىاللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :” لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ “.
            Artinya: Dari Qais bin Thalq bin Ali dari bapaknya, ia berkata, “saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada dua witir (dua kali melaksanakan shalat witir) dalam satu malam”. (HR. at-Tirmidzi)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” اجْعَلُـوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Akhirilah shalat malam kalian dengan shalat witir”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)

Meng-qadla`-nya

            Kebanyakan ulama` berpendapat bahwa jika seseorang selalu atau sering melaksanakan shalat witir, lalu suatu saat ia meninggalkannya karena ketiduran atau yang lainnya, maka dianjurkan untuk meng-qadla`-nya. Rasulullah bersabda,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” مَنْ نَامَ عَنِ الْوِتْـرِ أَوْ نَسِيَـهُ فَلْيُصَـلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ “.
            Artinya: Dari Abu Sa`id al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa ketiduran (dan belum melaksanakan) shalat witir atau lupa (melaksanakannya), hendaklah ia melaksanakannya ketika ia ingat dan ketika ia sudah bangun”. (HR. at-Tirmidzi)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :” مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Zaid bin Aslam dari bapaknya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa ketiduran (dan belum melaksanakan) shalat witir hendaklah ia melaksanakannya ketika pagi hari”. (HR. at-Tirmidzi)
            Para ulama` berbeda pendapat tentang waktu yang digunakan untuk meng-qadla` shalat witir. Pendapat mereka adalah sebagai berikut:
1.      Pengikut madzhab Hanafi menyatakan waktunya selain waktu-waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat (ketika matahari terbit, ketika matahari tepat di atas bumi dan ketika matahari tenggelam).
2.      Pengikut madzhab asy-Syafi`i menyatakan waktunya kapan saja, baik siang ataupun malam.
3.      Imam Malik dan Ahmad berpendapat bahwa waktunya setelah shalat shubuh, sebelum matahari terbit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SHALAT TARAWIH

Maknanya

            Secara bahasa tarawih bermakna duduk istirahat setelah melaksanakan shalat empat raka`at.
            Sedang secara istilah maknanya adalah shalat malam di bulan ramadlan yang dilakukan setelah shalat isya`. Disebut demikian karena kaum muslimin istirahat sejenak setelah melaksanakan shalat empat raka`at dengan dua kali salam.

Hukumnya

            Hukum shalat tarawir adalah sunnah, baik bagi laki-laki maupun wanita, yang dilaksanakan setelah shalat isya`.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :” مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “.
            Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat tarawih dengan penuh keimanan (keyakinan) dan mengharap pahala (dapat melihat wajah Allah), maka dosa-dosa (kecil)nya yang telah lalu akan diampuni (oleh Allah)”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)
            Waktu yang paling utama untuk mengerjakannya adalah sebelum shalat witir; dua raka`at-dua raka`at, walaupun boleh dikerjakan setelah sahalat witir.
            Adapun batasan waktunya sama seperti shalat tahajjud; setelah shalat isya` sampai sebelum shalat shubuh.

Jumlah raka`at

            Sama seperti shalat tahajjud; tidak ada batasan jumlah raka`at dalam shalat tarawih.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “.
            Artinya: Dari Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya (datang) seorang laki-laki pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya tentang shalat malam, beliau pun bersabda, “Shalat malam (dikerjakan) dua raka`at-dua raka`at. Jika salah seorang diantara kamu khawatir (waktu) shalat shubuh telah tiba, laksanakanlah satu raka`at witir sebagai penutup shalat (malam)”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)
            Sekiranya ada orang yang melaksanakannya sebanyak 20 raka`at dengan shalat witir tiga raka`at, atau 36 raka`at dengan shalat witir tiga raka`at, atau 41 raka`at, makamenurut mayoritas ulama` hal tersebut tidak apa-apa.
            Namun yang lebih utama, sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah 13 atau 11 raka`at dengan shalat witir.
عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ : سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَـلِّي مِنَ اللَّيْـلِ ثَـلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَـةً “.
            Artinya: Dari Abu Jamrah, ia berkata, “saya mendengar sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam sebanyak 13 raka`at”. (HR. Muslim)
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا : كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ؟ قَالَتْ : مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا. فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ، قَالَ :” تَنَامُ عَيْنِي وَلَا يَنَامُ قَلْبِي “.
            Artinya: Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia bertanya kepada `Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “bagaimanakah sifat shalat (malam) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan ramadlan (shalat tarawih)?”. `Aisyah menjawab, “Beliau tidak menambah jumlah raka`at shalat (malam)nya; baik pada bulan ramadlan maupun selainnya dari 11 raka`at. Beliau melaksanakan empat raka`at; jangan engkau tanya bagus dan panjangnya shalat (malam) beliau, lalu shalat empat raka`at lagi; jangan engkau tanya bagus dan panjangnya shalat (malam) beliau, lalu beliau shalat tiga raka`at”. `Aisyah bertanya, “wahai Rasulullah… engkau tidur sebelum melaksanakan shalat witir?”. Beliau menjawab, “Meskipun mataku tidur namun tidak dengan hatiku”. (HR. al-Bukhary dan Muslim)
            Menurut kebanyakan pengikut madzhab Hanafi dan imam asy-Syafi`i: jumlah shalat tarawih sebanyak 20 raka`at.
            Sedang menurut imam Malik: jumlahnya 36 raka`at dan belum termasuk shalat witir.

Cara pelaksanaannya (berjama`ah atau sendirian)

            Para ulama` berbeda pendapat tentang perkara yang paling utama dalam pelaksanaan shalat tarawih; apakah berjama`ah di masjid atau sendirian di rumah?
1.      Berjama`ah di masjid
            Para ulama` yang berpendapat demikian adalah imam Abu Hanifah, Ahmad, asy-Syafi`i dan kebanyakan pengikutnya, serta sebagian pengikut madzhab Maliki. Hal ini Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khaththab ketika beliau menjadi khalifah. Hingga saat ini hal itu masih terus berlangsung, karena ia adalah syi`ar-syi`ar islam yang zhahir (tampak); sama seperti shalat `iedul fithri dan adlha.
            Syaikh Nashiruddin berkata, “Shalat tarawih secara berjama`ah lebih utama daripada sendirian”.
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ، فَقُلْنَا لَهُ :” يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ “، فَقَالَ :” إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “، ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلاَثٌ مِنَ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ، وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلاَحَ. قُلْتُ لَهُ : وَمَا الْفَلاَحُ؟ قَالَ : السُّحُورُ.
            Artinya: Dari Jubair bin Nufair, dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami melaksanakan shiyam (puasa ramadlan) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau tidak melaksanakan shalat (malam/tarawih) bersama kami hingga bulan (ramadlan) bersisa tujuh hari. Maka pada (malam itu) beliau shalat (tarawih) bersama kami hingga sepertiga malam (pertama berlalu). Pada malam keenam (sebelum syawwal) beliau tidak shalat (tarawih) lagi bersama kami, akan tetapi pada malam kelima (sebelum syawwal) beliau shalat (tarawih) bersama kami hingga separuh malam (berlalu). Lalu kami berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sekiranya sisa malam (ramadlan) ini engkau (shalat tarawih) bersama kami”. Beliaupun bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat (tarawih) bersama imam hingga selesai maka dituliskan (pahala) baginya seperti (pahala) orang yang shalat semalam suntuk”. Kemudian beliau shalat bersama kami hingga bulan (ramadlan) bersisa tiga hari; beliau shalat bersama kami pada malam ketiga (sebelum syawwal). Ketika itu beliau juga memerintahkan kepada keluarga dan para istrinya (untuk shalat) dan beliau shalat bersama kami hingga kami khawatir al-Falah (telah tiba)”. Aku (Jubair bin Nufair) bertanya padanya (sahabat Abu Dzar), “Apakah yang dimaksud dengan al-Falah itu?”, ia menjawab, “al-Falah adalah (waktu) sahur”. (HR. at-Tirmidzy, Hadits Hasan Shahih)
2.      Sendirian di rumah
            Para ulama` yang berpendapat demikian adalah imam Malik, Abu Yusuf dan sebagian pengikut madzhab Syafi`i. Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah,
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ “.
            Artinya: Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Shalat yang paling utama dikerjakan olehi seorang laki-laki adalah di rumahnya, keculi shalat fardlu”. (HR. Ahmad dan al-Bukhary)
            Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Shalat tarawir boleh dikerjakan secara berjama`ah sebagaimana dibolehkan pula dengan sendirian. Akan tetapi yang lebih utama menurut kebanyakan ulama` adalah dikerjakan secara berjama`ah di masjid.
            Memang pertama kali Rasulullah mengerjakannya secara berjama`ah dengan para sahabat, namun hal itu tidak dilakukan terus-menerus; beliau khawatir hal itu akan menjadi sebuah kewajiban. Kemudian ketika sahabat Umar menjabat sebagai khalifah, ia memerintahkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakannya secara berjama`ah”.

Bacaannya

            Tidak ada bacaan khusus dari al-Qur`an yang disunnahkan dalam shalat tahajjud ataupun shalat tarawih.
            Adapun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan geneasi setelah mereka adalah mengerjakan shalat tarawih sepanjang malam sampai sebelum shalat shubuh.
            Imam Ahmad berkata, “Hendaknya para imam shalat tarawih membaca bacaan al-Qur`an yang tidak memberatkan para makmumnya”.
            Imam al-Qadly menambahkan, “Batasan bacaan al-Qur`an dalam shalat tarawih tergantung kondisi para makmum. Jika para makmum sepakat agar bacaan suratnya panjang, maka hal itu lebih utama”.
–oo0=OS3=0oo–

 

 

Referensi

@ Al-Mishry, Muhammad bin Mukramin Manzhur. Lisan al-`Arab.
@Al-Quraisy, Abu al-Fida` Isma`il bin Katsir. (1420 H/2000 M). Tafsir al-Qur`an al-`Azhim. Beirut: al-Maktabah al-Mishriyyah.
@An-Nawawy, Muhyiddin bin Syaraf. (1417 H/1996 M). Al-Majmu` syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Daar al-Fikr.
@ Sabiq, Sayyid. (1391 H/1996 M). Fiqih as- Sunnah. Kuwait: Daar al-Bayaan.
@Al-Qahthany, Sa`id bin Aly bin Wahf. (1424 H/2003 M). Shalat al-Mukmin.
@As-Subky, Mahmud Muhammad Khaththab. (1401 H/1980). Ad-Diin al-Khalish.
@Abady, Muhammad bin Ya`qub bin Muhammad bin Ibrahim al-Fairuz. (1410 H/1995 M). Al-Qamus al-Muhith. Beirut: Daar al-Kutub al-`Ilmiyah.
@Asy-Syaukany, Muhammad bin `Aly bin Muhammad. Nail al-Authar syarh Muntaq al-Ahyar. Beirut: Daar al-Fikr.
@ Al-Maqdisy, Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah. (1412 H/1992 M). Al-Mughny. Cairo: Hijr.
@ Bassam, Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih `Ali. (1414 H/1994 M). Taisir al-`Alam syarkh `Umdah al-Ahkam.

Daftar Isi:

SHALAT TAHAJJUD…………………………………………………………………… 1
Maknanya……………………………………………………………………………….. 1
Hukumnya………………………………………………………………………………. 1
Waktu yang Utama untuk Melaksanakannya………………………….. 5
Jumlah raka`atnya……………………………………………………………………. 6
Cara pelaksanaannya………………………………………………………………. 8
Boleh jahr ataupun sirr………………………………………………………….. 12
Boleh berjama`ah ataupun sendirian…………………………………….. 13
SHALAT WITIR………………………………………………………………………… 14
Maknanya……………………………………………………………………………… 14
Hukumnya…………………………………………………………………………….. 14
Macam dan jumlahnya………………………………………………………….. 18
Bacaan suratnya…………………………………………………………………….. 28
Waktunya………………………………………………………………………………. 29
Qunut di akhir raka`at…………………………………………………………… 31
Do`a yang dibaca setelahnya…………………………………………………. 32
Tidak ada dua witir dalam satu malam…………………………………. 33
Meng-qadla`-nya……………………………………………………………………. 34
SHALAT TARAWIH…………………………………………………………………. 36
Maknanya……………………………………………………………………………… 36
Hukumnya…………………………………………………………………………….. 36
Jumlah raka`at……………………………………………………………………….. 37
Cara pelaksanaannya (berjama`ah atau sendirian)………………… 39
Bacaannya……………………………………………………………………………… 42
Referensi……………………………………………………………………………….. 43
Daftar Isi:……………………………………………………………………………….. 44

Leave A Reply