SHALAT JUM’AT BAGI KAUM WANITA

0

 

 

 

Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman dalam surat al-Jum’ah ayat 9. yang berbunyi:
ياأيها الذين أمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلي ذكر الله وذروا البيع ذلكم خيرلكم إن كنتم تعلمون
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman apabila telah dikumandangkan (adzan) untuk melaksanakan salat jumu’ah, maka bersegeralah untuk mengingat Alloh subhanahu wa ta’ala dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jum’ah: 9)

Hari Jum’at adalah hari besar bagi kaum muslimin. Pada hari itu kaum muslimin berkumpul di masjid-masjid setiap pekannya untuk melaksanakan suatu perintah Allah subhanahu wa ta’ala  yaitu melaksanakan shalat jum’at secara berjama’ah. Ia adalah hari keenam dalam putaran hari, minggu, bulan bahkan tahun. Pada hari itu pula diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  manusia pertama yang bernama Adam ‘alaihi salam, pada hari itu juga ia dimasukkan ke dalam jannah, pada hari itu pula ia dikeluarkan dari jannah karena melanggar perintah Allah subhanahu wa ta’ala, dan pada hari itu pula ia bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, serta tidak akan terjadi hari kiamat, kecuali pada hari jum’at pula. Bahkan yang paling penting untuk kita adalah salah satu dikabulkannya do’a  oleh Allah subhanahu wa ta’ala  tepatnya pada hari itu pula, sebagaimana yang tertera dalam hadits.[1]
HUKUM ASAL SHALAT JUM’AT
Kewajiban shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu al-‘Araby, bahwa hukum shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain secara ijma’ ummat.
Imam Ibnu Qudamah juga berkata dalam kitabnya al-Mughny: Seluruh kaum muslimin telah bersepakat atas kewajiban shalat jum’at. Para Imam Mujtahid yang empat juga telah bersepakat bahwa shalat jum’at hukumnya adalah fardhu ‘ain, akan tetapi setiap madzab menentukan syarat-syaratnya.
Tetapi ada juga ulama’ yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah, dan telah disebutkan oleh al-Khithaby: Kebanyakan para Fuqoha’ (ahli fiqh) berpendapat bahwa hukum shalat jum’at adalah fardhu kifayah. Wallahu a’lam. [2]       
SHALAT JUM’AT BAGI WANITA?
Perlu diketahui bahwa khithab (konteks) ayat di atas (QS.Al-Jumu’ah: 9) ياأيها الذين أمنوا  adalah khithab yang ditujukan bagi para mukallaf (kaum muslimin yang sudah baligh), namun tidak termasuk di dalamnya Ashhaabul A’dzaar (orang-orang yang mendapatkan udzur untuk tidak melaksanakannya) yaitu: orang yang sakit, orang yang cacat, musafir, budak, dan wanita. Bahkan Madzhab Hanafiyah memasukkan di dalam Ashhaabul A’dzaar orang yang buta dan orang tua yang sudah tidak dapat berjalan, kecuali dengan adanya penunjuk jalan (yang mengantarkannya ke masjid).[3]
Sedangkan golongan yang termasuk mukallaf, telah diterangkan oleh Ibnu Rusyd al-Qurthuby dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” bahwa syarat wajib shalat jum’at ada empat, dua syarat telah disepakati yaitu: laki-laki dan sehat, maka tidak diwajibkan bagi wanita dan orang yang sakit untuk melaksanakannya (menurut kesepakatan ulama’), akan tetapi jika keduanya datang mengikuti shalat jum’at maka tergolong Ahli Jumu’ah. Sedangkan yang dua lagi yaitu: musafir dan budak, mereka diperselisihkan dan jumhur ulama’ pun tidak mewajibkannya, kecuali Abu Daud dan pengikutnya saja yang mewajibkan.[4]
Dengan demikian maka tidak benar secara mutlak pendapat yang mengatakan bahwa khithobpada ayat di atas mewajibkan  semua orang untuk melaksanakan shalat jum’at, karena ada riwayat hadits yang mengkhususkannya, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Thariq bin Syihab:
حدثنا عباس بن عبد العظيم حدثنا إسحاق بن منصور أخبرنا هريم عن إبراهيم بن محمد المنتشر عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة : عبد مملوك أوامرأة أوصبي أومريض { رواه أبوداود }
Artinya: Dari ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Adhim, dari Ishaq bin Manshur, dari Huraim, dari Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, dari Qois bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda: “Shalat Jum’at itu diwajibkan bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, yaitu:hamba sahaya, wanita, anak kecil dan orang yang sakit. (HR. Abu Daud, beliau berkata bahwa Thariq  bin Syihab bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam namun tidak mendengarnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  secara langsung). [5]
Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohihul jami’ [6], dan dalam kitab Irwa’ul Ghalil [7], beliau berkata: Bahwa al-Zaila’i : 2/199, berkata Imam an-Nawawy dalam Al-Khulashahbahwa hadits ini tidak rusak keshahihannya, dan hadits shahaby serta dapat dijadikan hujjah. Hadits ini dinyatakan shahih atas syarat Syaikhani (Imam al-Bukhaary dan Muslim).
Di dalam kitab As-Salsabil [8], disebutkan bahwa al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqaalany menshahihkannya di dalam kitab At-Talkhish:2/65/650, sedang dalam kitab Al-Ishabah:2/211, beliau berkata: Apabila ia (Thariq bin Syihab) bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka ia Shahaby, dan apabila ia tidak mendengar dari Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka periwayatan darinya adalah Mursal Shahaby, sehingga secara rajih ia dapat diterima sebagai hujjah. Imam al-Bukhary dalam Shahihnya:7/5, ia berkata: Barang siapa yang pernah hidup bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau melihatnya (dari kaum muslimin) maka ia termasuk shahabat Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”. Kemudian dijelaskan oleh al-Hafidz dalam Fathul Baary:7/6, bahwa yang ditetapkan oleh al-Bukhaary tadi adalah perkataan Imam Ahmad dan Jumhur. Hadits Thoriq bin Syihab juga diriwatkan oleh Imam ad-Daruqutny:2/3, al-Hakim:1/288/1062, dan al-Baihaqy: 3/172
Banyak hadits lain yang menerangkan tentang kewajiban wanita dalam shalat jum’at, seperti hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ka’ab bahwa ia mendengar seseorang dari Bani Wa’il berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
تجب الجمعة على كل مسلم إلا امرأة أوصبيا أومملوكا
Artinya: “Diwajibkan shalat jum’at bagi kaum muslimin, kecuali wanita, anak kecil, atau hamba sahaya.” (HR Imam as-Syafi’dalam Al-Musnad,I:10/152 no.259, sanadnya lemah).[9]Dan begitu pula dalam kitab Al-Umm:1/189.
Juga hadits dari Maula Ali Zubair (budak keluarga Zubair), ia berkata bahwa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
الجمعة واجب على كل حالم إلا أربعة الصبي والعبد و المرأة و المريض
Artinya: “Shalat jum’at itu diwajibkan bagi setiap muslim, kecuali anak kecil, hamba sahaya, wanita dan orang yang sakit.´ (HR Ibnu Abi Syaibah:1/207/1-2 dan al-Baihaqy:3/184).[10]
KESEPAKATAN ULAMA’
Meskipun ada beberapa hadts yang lemah sanadnya tetapi para ulama’ Hadits maupun ulama’ Fiqih telah bersepakat atas ketidakwajibannya wanita dalam shalat jum’at. Adapun perkataan para ulama’ tentang hal itu adalah sebagai berikut:
Madzhab Hanafi, berpendapat, bahwa shalat jum’at tidak diwajibkan bagi kaum wanita, namun jika mereka menghadiri dan melaksanakannya maka shalatnya tetap dihukumi shalat zhuhur.
Madzhab Maliki berpendapat, bahwa shalat jum’at tidak diwajibkan bagi kaum wanita, akan tetapi jika mereka ikut serta shalat berjama’ah maka shalatnya sah dan dihukumi sebagai shalat zhuhur.
Madzhab Syafi’i berpendapat, bahwa tidak wajib bagi kaum wanita dan hamba sahaya (shalat jum’at) akan tetapi jika mereka melaksanakan maka tetap sah.
Madzhab Hanbali berpendapat, bahwa tidak wajib bagi kaum wanita (shalat jum’at) dan sah-sah saja untuk menghadirinya dan dibolehkan meninggalkannya meskipun tanpa udzur.[11]
Ibnu Mundzir berkata: “Tidak ada kewajiban shalat jum’at bagi kaum wanita”.[12]
Syamaul Haq al-Azhim berkata: “Tidak diwajibkan shalat jum’at bagi kaum wanita”.[13]
Ibnu al-Aroby berkata: “Adapun syarat diwajibkannya shalat jum’at ada tujuh, yaitu; berakal, laki-laki, merdeka, baligh, mampu, muqim(bukan musafir), dan dalam satu wilayah”.[14]
Imam asy-Syaukany berkata: “Tidak diwajibkan bagi kaum wanita untuk melaksanakan shalat jum’at.”[15]
Imam asy-Syanqithy berkata: “Yang tidak termasuk diwajibkannya shalat jum’at adalah kaum wanita secara ijma’, maka tidak ada hujjah yang mewajibkannya.”[16]
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daa’imah : Karena wanita tidak termasuk Ahlul Udzhur (yang wajib menghadiri shalat jum’at) dalam jama’ah kaum laki-laki maka tidak wajib baginya shalat jum’at.[17]
Perbedaan Pendapat tentang Wanita Menghadiri Shalat Jum’at
Telah disebutkan di muka, bahwa ulama’ salaf telah bersepakat atas tidak wajibnya shalat jum’at bagi wanita, namun para ulama’ fiqh berbeda pendapat dalam hal hadirnya wanita ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at, pendapat tersebut diantaranya:
Madzhab Hahafi berpendapat, bahwa yang utama bagi kaum wanita adalah melaksanakan shalat zhuhur di rumahnya, baik tua maupun muda, karena pada hakekatnya jama’ah itu tidak disyari’atkan bagi mereka.
Madzhab Maliki berpendapat, bahwa jika wanita itu tua (tidak menimbulkan godaan bagi laki-laki), maka boleh baginya menghadiri shalat jum’at, seandainya tidak maka makruh baginya. Dan kalau wanita itu masih muda yang dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah dengan datangnya dirinya ke masjid maka haram baginya mendatangi jum’at untuk mencegah terjadinya fitnah.
Madzhab Syafi’i berpendapat, bahwa dimakruhkan bagi kaum wanita  untuk mendatangi shalat jama’ah secara mutlak, baik shalat jum’at maupun selainnya, jika dapat merangsang syahwat walaupun memakai pakaian yang tebal, dan juga pakaian yang tidak merangsang apabila dengan berhias dan memakai wangi-wangian. Sementara untuk wanita tua yang keluar dengan pakaian tebal dan tidak memakai wangi-wangian yang tidak “mengundang“ laki-laki maka yang demikian itu syah baginya mendatangi shalat jum’at dan tidak dimakruhkan dengan syarat memenuhi dua hal:                  
1.      Mendapat izin dari walinya (baik wanita itu gadis ataupun tua), jika tidak diizinkan maka haram baginya.
2.      Kepergiannya tidak dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, jika kedatangannya mendatangkan fitnah maka diharamkan baginya pergi.
Madzhab Hambali berpendapat, bahwa mubah hukumnya bagi wanita mendatangi shalat jum’at dengan syarat tidak berpenampilan yang tidak menimbulkan fitnah, jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah maka makruh baginya untuk mendatangi jum’at secara mutlak.[18]
Imam al-Mundziry berkata: “Kaum wanita boleh mendatangi dan ikut melaksanakan shalat jum’at.”[19]
Imam al-Bandiniji berkata: “Dianjurkan bagi kaum wanita yang sudah tua untuk menghadiri shalat jum’at, namun dimakruhkan bagi kaum wanita yang masih gadis untuk mendatangi semua shalat (berjama’ah di masjid) bersama kaum laki-laki kecuali shalat ‘ied.”[20]
Imam as-Subky berkata: “Dibelehkannya keluar bagi kaum wanita ke masjid dengan syarat amannya dari fitnah  dan jika tidak aman maka dilarang.”[21]
Imam Ibnu Taimiyah berkata, Bahwa dalam shalat jum’at dan shalat jama’ah (bagi kaum wanita) sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: ”Rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”, dan yang demikian itu memungkinkan baginya untuk shalat dzuhur di hari jum’at sebagaimana hari-hari biasanya.[22]
Imam as-Syaukany berkata: “Tidak ada kewajiban bagi kaum wanita untuk mendatangi shalat jum’at.[23]
Fatwa Lajnah Daimah: Kaum wanita bukanlah termasuk Ahlul Hudhur, akan tetapi jika mreka  shalat bersama imam jum’at maka sah shalatnya dan jika mereka shalat di rumah maka yang dilakukan adalah shalat dhuhur setelah masuknya waktu shalat( ketika condongnya matahari ke barat).[24]
Demikianlah kiranya pembahasan mengenai hukum shalat Jum’at dan mendatanginya bagi kaum wanita muslimah.

KESIMPULAN 

  1. Hukum asal shalat jum’at adalah fardhu ‘ain (menurut Ijma’).
  2. Bahwa Khithab dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9 ياأيها الذين أمنوا} } adalah untuk Mukallaf (laki-laki, baligh, berakal, mampu) dan bukan untuk Ashaabul A’dzaar (wanita, anak kecil, orang sakit, dan budak belian).
  3. Para ulama’ bersepakat bahwa kaum wanita tidak wajib melaksanakan shalat jum’at.
  4. Para ulama’ berbeda pendapat mengenai hadirnya (kedatangan) kaum wanita pada waktu shalat jum’at ke masjid.
  5. Bahwa kaum wanita lebih afdhal (utama) untuk shalat di rumahnya sebagaimana tersebut dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: ”Sebaik-baik masjid bagi kaum wanita adalah bagian dalam rumahnya”.(HR. Abu Daud, dan Ahmad dari Ibnu Umar)[25]
Meskipun Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang untuk mencegah kaum wanita ke masjid (jika tidak mendatangkan fitnah) sebagaimana sabdanya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: ”Janganlah kalian mencegah kaum wanita untuk ke masjid dan hendaklah mereka keluar tanpa berhias(mengenakan wewangian)”. (HR. Abu Daud dan Ahmad dari Abu Hurairah)[26]
DAFTAR  PUSTAKA
  1. Al-Qur’anul Karim Allah subhanahu wa ta’ala
  2. Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim Imam Ibnu Katsir
  3. Tafsir Al-Jami’ lie Ahkamil Qur’an Imam Al-Qurthuby
  4. Tafsis Adhwaul Bayan Imam As-Syanqithy
  5. Sunan Abu Daud Imam Abu Daud
  6. Syarhus Sunnah Imam Al-Baghawy
  7. Majmauz Zawaid wa Manbaul Fawaid Imam Al-Haitsamy
  8. Aunul Ma’bud syarh Abu Daud Imam Syamsul Haq Al-‘Adzim
  9. Shahihul Jami’ As-Shaghir Imam Al-Albanii
  10. Irwaul Ghalil Imam Al-Albanii
  11. Jamiul Ushul fi Ahaditsir Rasul Imam Ibnul Atsir Al-Jazary
  12. Tadribur Rawy Imam As-Suyuthy
  13. Qowaidut Tahdits, Imam Al-Qosimy
  14. Al-Umm, Imam As-Syafi’I
  15. Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawy
  16. Al-‘Aziiz As-Syarhul Kabir, Imam Ar-Rafi’i
  17. Nihayatul Muhtaj, Imam Ahmad bin Hamzah As-Syafi’I
  18. Al-Mughny, Imam Ibnu qudamah
  19. As-Salsabil, Imam Shalih bin Ibrahim Al-Bulaihy
  20. Ibanatul Ahkam syarh Bulughul Maram, Imam An-Nury dan Imam Al-Maliky
  21. Nailul Authar, Imam As-Syaukany
  22. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Imam Ibnu Rusyd al-Qurthuby
  23. Ad-Diinul Khalish, Imam As-Subky
  24. Manarus Sabil, Imam Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin Shuya


[1]Tafsir Al-qur’aanul Adzhiim, Ibnu Katsiir: 4/329.
[2]Kitab Nailul Authaar, Imam Syaukaany : 3/274
[3]Tafsir Al-Jaami’u li Ahkaamil Qur’aan, Imam Al-Qurthuby : 18/103.
[4]Bidaayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd Al-Qurthuby : 2/327
[5]‘Aunul Ma’buud syarh Abu Daud, Syamsul Haq Al-‘Adziim : 3/395-396.
[6]Shahiihul Jaami’: 1/597 no. 311.
[7]Irwaul Ghaliil : 3/54-55 no. 592.
[8]As-Salsabiil, Shaalih bin Ibraahiim : 2/5.
[9]Sarhus Sunnah:3/127.
[10]Irwaul Gholiil, Al-Albaany:3/56.
[11]Kitab Al-Fiqh Ala Mazhaahib Al-Arba’ah, Al-Jaziiry:1/344-348.
[12]Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzaab, An-Nawaawy:4/405.
[13]Aunul Ma’buud syarh Abu Daud:3/395.
[14]Ahkaamul Qu’aan:4/1803.
[15]Nailul ‘Authaar:3/279.
[16]Adhwaaul Bayaan:8/294.
[17]Fatawaa Al-Lajnah Ad-Daa’imah,Ad-Duwaisy:8/180 no.2140.
[18]Majmu’ syarh Muhadzdzaab, An-Nawaawy:4/405 dan Al mughni, Ibn Qudamah:3/219.
[19]Majmu’ syarh Muhadzdzaab : 4/405 dan Al-Mughny : 3/219
[20]Ibid : 4/405
[21]Ad-Diinul Kholish, As-Syaukaany : 4/166.
[22]Majmu’ fatawaa Ibnu Taimiyah : 24/181.
[23]Nailul Authaar : 3/299.
[24]Fatwaa Lajnah Daaimah :8/180 dan 8/212 no. 4147.
[25]HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahiihkan Al-Albaanii dalam kitab Shahiihul Jaami’  no. 7458.
[26]HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahiihkan Al-Albanii dalam kitab Shahihul Jami’ : 2/1242 no. 7457 dan Jaamiu Ushuul : 11/ 201.

 

Leave A Reply