Shalat Berjamaah Di Masjid

0

 

Pertanyaan;       Banyak dikalangan muslim saat ini dan bahkan kalangan terpelajarnya yang meremehkan shalat berjamaah dengan alasan bahwa ada sebagian ulama yang tidak mewajibkannya. Apakah hukumnya shalat berjamaah dan apa nasehat anda terhadap mereka?

Jawaban;             Shalat berjamaah bersama kaum muslimin di masjid bagi orang laki-laki yang mampu menghadirinya (melakukannya) dan mendengar adzan, tidak diragukan lagi wajib hukumnya menurut pendapat yang paling shahih diantara beberapa pendapat para ulama. Berdasarkan hadits Rasulallah: “Barangsiapa yang mendengar adzan dan tidak mendatanginya maka tidak ada shalat bagina kecuali karena ada udzur”. (HR. Ibnu Majah, Daruqutni, Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad yang shahih). Ibnu Abbas saat ditanya tentang udzur apa yang dimaksud, maka dia menjawab: “ketakutan dari sakit”. Dan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah dari Rasulallah, bahwa datang kepadanya seorang buta, lalu berkata: “Wahai Rasulallah tidak ada orang yang menuntunku ke masjid, apakah bagiku terdapat keringanan untuk shalat dirumahku ? maka Rasulallah berkata kepadanya: “apakah engkau mendengar adzan?” dia berkata: “ya”, beliau bersabda: “Maka sambutlah (dengan mendatanginya shalat berjamaah dimasjid).
Terdapat juga dalam as shahihain dari Abu Hurairah dari Rasulallah, dia bersabda: “Sungguh aku ingin sekali memerintahkan orang-orang untuk shalat. Kemudian aku pergi bersama sejumlah orang dengan membawa seikat kayu baker kepada satu kaum yang tidak menghadiri shalat (berjamaah) maka aku baker rumah-rumah mereka”.
Semua hadits-hadits diatas dan hadits lainnya yang senada menunjukkan wajibnya shalat berjamaah di masjid bagi orang laki-laki dan adanya hukum,an berat bagio orang yang meninggalkannya, seandainya tidak wajib niscaya tidak akan mendapat hukuman seberat itu. Begitu juga halnya shalat dimasjid merupakan syiar Islam yang paling agung dan juga sarana untuk saling kenal sesama muslim dan menumbuhkan rasa kasih saying dan menghilangkan permusuhan sementara meninggalkannya menyerupai perbuatan orang munafik, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kita. Adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini bukanlah alasan untuk meninggalkan jamaah, karena setiap ucapan yang bertentangan dengan dalil syari wajib untuk disingkirkan dan tidak dijadikan pegangan, berdasarkan firman Allah: (QS. An- Nisa:59, As- Syura:10).
Terdapat riwayat dalam shahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “kami menyaksikan sendiri bahwa tidak ada yang meninggalkannya (shalat berjamaah) kecuali orang munafik atau orang sakit, dan bahkan kadang-kadang orang sakit tersebut tetap dibawa berjamaah dan dihimpit oleh dua orang hingga dapat berdiri dalam barisan”.
Tidak diragukan lagi bahwa riwayat diatas menunjukkan besarnya perhatian para shabat terhadap shlaat berjamaah di masjid hingga kadang-kadang mereka membawa orang yang sakit dan kemudian dihimpit oleh dua orang hingga dapat berdiri dalam barisan, hal tersebut menunjukkan perhatian mereka yang sangat terhadap shalat berjamaah. Semoga Allah meridhoi mereka semua.

 

Leave A Reply