Seputar Bacaan Al-Fatihah

0

 

 
Pertanyaan; Terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal bacaan ma’mum yang berada dibelakang imam, manakah yang benar? Apakah membaca Al Fatihah wajib bagi ma’mum? Kapan ma’mum membacanya jika imam tidak melakukan saktah (berdiam sejanak) yang memungkinkan ma’mum membacanya? Apakah disyariatkan bagi imam untuk berdiam sejenak setelah membaca Al Fatihah untuk memungkinkan bagi ma’mum membaca Al Fatihah?
Jawaban; Yang benar adalah wajib membaca Al Fatihah bagi ma’mum dalam semua shalat, baik yang bacaannya dikeraskan atau tidak berdasarkan hadits Rasulallah saw: “Tidak ada shalat bagi siapa yang tidak membaca pembuka Al kitab (Al Fatihah)”. (mutafaq alaihi).
Juga hadits Rasulallah saw, “Tampaknya kalian membaca sesuatu dibelakang imam kalian?”, kami berkata: Ya, beliau bersabda: “jangan kalian lakukan hal itu kecuali dengan (membaca) Al Fatihah, karena tidak ada shalat bagi yang tidak membacanya”. (HR. Imam Ahmad dengan sanad shahih).
Seharusnya dibaca pada saat imam terdiam sejenak (saktah) jika hal tersebut tidak dilakukan imam dia harus tetap membacanya walaupun imam sedang membaca surat, setelah itu dia mendengarkan imam.
Hal ini (membaca surat Al Fatihah saat imam sedang membaca surat) merupakan bentuk pengecualian dari umumnya dalil yang mewajibkan untuk diam dan mendengarkan bacaan imam, akan tetapi jika dia (ma’mum) lupa membacanya atau meninggalkannya karena tidak tahu atau berpendapat tidak wajib, maka tidaklah mengapa baginya dan cukup baginya bacaan imam menurut jumhur ulama.
Begitu juga seandainya imam dalam keadaan ruku’ maka dia dapat langsung ruku’ bersamanya dan mendapatkan satu rakaat serta gugur kewajiban membaca Al Fatihah karena tidak ada kesempatan baginya. Berdasarkan riwayat hadits Abi Bakrah Ats-Tsaqafiy, bahwa dia datang kepada Rasulallah saw yang sedang dalam keadaan ruku’, maka serta merta dia ikut ruku’ tanpa masuk kedalam barisan, maka tatkala Rasulallah saw salam, dia bersabda, “Semoga Allah menambahkan kesungguhanmu, akan tetapi jangan ulangi”. (HR. Bukhari dalam shahihnya) dan beliau tidak memerintahkannya uuntuk menggatikan rakaat tersebut. Sedangkan makna hadits “jangan ulangi” maksudnya jangan mengulangi untuk melakukan ruku’ sebelum masuk kedalam barisan shalat, dengan demikian dapat dipahami bahwa bagi siapa yang masuk masjid sedangkan imam dalam keadaan ruku’, maka hendaknya dia tidak ruku’ kecuali setelah masuk kedalam barisan shalat meskipun resikonya dia tidak mendapatkan ruku’, berdasarkan hadits Rasulallah saw: “Jika kalian mendatangi shalat maka jalanlah kalian dengan tenang, apa yang kalian dapati maka shalatlah dan yang tertinggal maka sempurnakanlah”. (HR. Mutafaq alaihi).
Adapun hadits : “Siapa yang memiliki imam maka bacaannya (imam) adalah bacaannya (ma’mum)”, adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak dijadikan dalil dikalangan ulama,  seandainya shahih, maka (membaca) Al-Fatihah merupakan pengecualian sebagai kompromi antara beberapa hadits.
Adapun saktah (berhenti sejenak) setelah Al-Fatihah, tidak terdapat riwayat shahih tentang hal tersebut sedikitpun sebagaimana yang saya pahami, akan tetapi masalahnya fleksibel insya Allah dan siapa yang melakukannya tidak mengapa, karena tidak terdapat riwayat sedikitpun tentang hal tersebut dari Rasalallah saw, yang ada hanyalah dua saktah. Pertama saktah setelah Takbiratul Ihram yang disyariatkan didalamnya membaca istiftah, dan yang kedua setelah selesai membaca surat dan sebelum ruku’ yaitu berdiam sebentar sebagai penyela antara surat dan takbir. Wallahu waliyuttaufiq.

 

Leave A Reply