Senang Bergaul

0

Seorang muslim yang jiwanya telah disinarai hidayat islam, akan memiliki sifat lembut, akhlak mulia dan senang  bersahabat, orang lain pun  senang bergaul dengannya. Ia menjalin hubungan dengan siapa saja, bergaul dengan tidak memandang status, banyak mempunyai teman dan saling mengasihi. Inilah  ciri masyarakata beradab, yaitu  masyarakat yang disifati oleh ajaran islam yang luhur yang mewajibkan kepada pemeluknya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Sabda rasulullah saw;

“Maukah aku kabarkan kepadamu siapa yang  paling cinta kepadaku dan akupun cinta kepadanya, serta paling dekat tempatnya di hari kiamat?” Beliau mengulang-ulang kalimat ini beberapa kali, sehingga para sahabat berkata, “Ya baiklah wahai rasulullah.”  Beliau berkata, “Yaitu orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad).

Termasuk salah satu sifat seorang muslim adalah senang bergaul dan menjalin persahabatan, ia mencintai orang lain dan orang pun mencintainya, dia akan menyambut kehadiran orang dan orang pun akan menyambut kehadirannya. Rasulullah bersabda;

“Orang mukmin itu berlaku jinak (pandai bergaul dan bersahabat), dapat diajak jinak, tidak ada kebaikan bagi siapa yang tidak berlaku  jinak dan tidak bisa diajak jinak.” (HR. Ahmad dan Bazzar0.

Begitulah  seharusnya, sebagaimana dicontohkkan oleh rasulullah saw yang selalu  tampil mengesankan di tengah umat dengan melangkah dengan baik, berhati lembut yang memancar dalam ucapan, amalan dan setiap tangkah lakunya. Karena itulah banyak orang yang mengasihi dan mencintai beliau, sehingga rela mengorbankan harta bahkan jiwanya. Itulah ajaran agama yang hanif yang menganjurkan kepada umatnya untuk bersikap adil, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mendahulukn kepentingan saudaranya dari dirinya sendiri.

Nabi saw selalu menghindarkan dirinya dari tiga perkara, pertengkaran, banyak bicara yang tak ada perlunya dan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Beliau  juga tidak pernah  mencela siapapun, bahkan terhadap orang yang berlaku jahat dan kasar kepadanya, beliau  masih dapat menghadapinya dengan kepala dingin dan berlaku sopan.

Dari Aisyah  ra, katanya ada seorang laki-laki yang meminta masuk ke  rumah rasulullah saw, maka sabda beliau, “Ijinkanlah orang itu masuk, meskipun dia seorang yang jahat.” Ternyata rasulullah saw menghadapinya dengan sikap ramah. Setelah orang itu pergi, aku bertanya pada rasulullah, “Ya rasulullah, tadi bginda mengatakan bahwa orang itu jahat, tetapi mengapa anda bersikap lemah lembut kepadanya?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya seburuk-buruk manusia di  sisi Allah pada hari kiamat ialah  orang yang dibiarkan saja oleh  orang banyak karena takut kejahatannya.” (HR. Muslim, no. 2221).

Tak dapat disangkal lagi, bahwa seorang muslim yang sesungguhnya jika ingin mendapat tempat di hati orang banyak, dinilai karena kebaikannya, maka ia harus menerapkan prinsip dan kaidah islam dalam bermasyarakat, sebagaimana dicontohkan oleh rasulullah saw.

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply