Senandung Ma’af

0
Maaf, suatu kalimat yang sederhana namun sangat kelu diungkap kata. Susah untuk sekedar mengungkapkannya apalagi diiringi dengan kelapangan dada. Bukan hal yang mudah memang. Tapi menyadari dan mengakui kesalahan adalah langkah awal untuk mengatasi masalah yang terjadi. Ketidakmampuan atau bahkan ketidakmauan untuk meminta maaf hanya akan membuat masalah tidak kunjung selesai dan akan menimbulkan polemik baru.

Manusia tidak akan pernah lolos dari melakukan kesalahan, maka tidak ada pula orang yang selalu dalam posisi benar. Dalam berkeluarga, bermasyarakat, berteman, tidak akan pernah lepas kita melakukan banyak kesalahan. Dan yang teramat sulit untuk kita lakukan adalah mengakui kesalahan tersebut, hal itu terjadi karena terbelenggu ego dalam diri. Namun adapula seseorang sudah menyadari kesalahan yang telah dia lakukan dan menyesali kesalahan tersebut, tapi sangat sulit untuk benar-benar mengakui bahwa kesalahan itu terjadi karena ulahnya. yang terjadi malah saling menyalahkan. Inilah yang membuat retak suatu hubungan, menjadikan ketidakharmonisan yang tidak sedap untuk dipandang.
Kata ‘maaf’ ketika melakukan kesalahan dalam suatu hubungan sangat berarti, karena berbagai alasan. Meminta maaf menunjukkan bahwa orang yang melakukan kesalahan menyadari jika kesalahannya melukai perasaan seseorang. Selain itu, dengan mengakui kesalahan, maka orang tersebut bisa mulai memperbaiki diri dan hubungannya dengan orang yang bersangkutan.
Setiap orang memang lumrah melakukan kesalahan. Akan tetapi jangan sampai kesalahan yang di lakukan menjadi lebih parah dengan ketidakmauan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Memang begitulah fitrah manusia, ingin dimuliakan dan tidak mau direndahkan. Bahkan hanya sekedar merendahkan diri dengan ungkapan ‘maaf’ yang menandakan penyesalan. Sungguh bila kita mau mencerna dan memahami, saling memaafkan akan memunculkan keindahan hidup, memutar setiap sisi kebaikan, merasuk sejuk mengetuk nurani.
Pernah terjadi perdebatan antara Bilal bin Rabbah dengan Abu Dzar Al GhifaryRadhiallahu ‘anhumaa. Perdebatan yang sengit itu, membuat sahabat Abu Dzar mengeluarkan kata-kata yang tidak layak, “Wahai anak dari wanita Hitam”.
Sungguh perkataan itu benar-benar menghujam, bagaikan seribu tusukan jarum yang menancap tepat didasar hati, dan yang lebih menyakitkan lagi kata-kata itu keluar dari lidah sahabat sehidup semati. Tak bisa dibayangkan.
  Akhirnya kejaidan itu disampaikan kepada rasulullah, lalu rasulullah berkata kepada Abu Dzar,
“Wahai Abu Dzar, apakah kamu benar-benar menghina ibunya?, sungguh pada dirimu ada sifat jahiliyyah.” (H.r. Bukhari)
Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Dzar ketika itu meminta kepada Nabi agar memohonkan ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, lalu beliau pergi menemui Bilal untuk memohon ma’af dan meletakkan pipinya ke tanah. Seraya berkata, “Tidak akan saya angkat pipiku ini sampai engkau injak dengan telapak kakimu wahai bilal, sungguh engkaulah yang mulia dan saya lah yang hina.”
Melihat kejadian ini, Bilal pun meneteskan air mata. Lalu memapah Abu Dzar untuk berdiri lalu mereka berdua berpelukan hingga menangis haru.
                Dahsyaaaat …..
Tak bisa dibayangkan, betapa mahalnya kebersihan hati mereka, siap mengaku salah dan tanggap memohon maaf. Merekalah pribadi teladan, seluruh kehidupan yang tersinari cahaya islam. Keindahan itu pula yang membawa mereka kepada kemuliaan, ikatan ukhuwah yang tak mudah goyah. Dengan segenap tenaga akan memupuk rasa kasih sayang dan kecintaan dalam balutan ridho Ar Rahman.
Begitu pula, melapangkan dada untuk memberikan maaf itu juga termasuk hal terberat. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh keikhlasan untuk melepas semua kebencian, bahkan harus rela meninggalkan keegoisan dalam diri. Membangun kembali hubungan dengan memoles lubang yang menganga di hati. Yang nyatanya, semua lubang itu menggores setiap luka. Perih dan sangat menyakitkan. Namun, harus dia sadari bahwa rasa sakit seberat apapun itu harus dia kesampingkan bahkan dia buang jauh-jauh untuk menyamput alunan melodi senandung maaf.
Harus dia sadari, bahwa kebaikan butuh pengorbanan. Mengesampingkan ego dan memuliakan orang lain. Namun, jika yang terjadi adalah simpanan dendam, maka keadaan akan semakin runyam. Dan tidak akan ditemukan kebaikan kecuali yang ditemukan buruknya pelampiasan kebencian.
Mereka yang mulia, yang bertahtakan kelapangan dada. Mampu membuka hati untuk memasukkan kembali ikatan ukhuwah. Membuka mata hati dan mewujudkannya dalam hubungan nyata. Sampai Allah memberikan kebaikan dari apa yang tidak disangka.
Suatu kali, dua orang bersaudara mengadukan seseorang yang telah membunuh orang tua mereka kepada Umar bin khattab Radhiallahu ‘anhu. Dan Umar pun memutuskan untuk ditegakkan hukum qishas. Nyawa dengan nyawa. Untuk menegakkan apa yang Allah perintahkan.
Namun, terdakwa memohon kepada Umar, “wahai Amirul Mukminin, dengan nama Allah, saya mohon, tangguhkan waktu saya semalam saja, guna menemui anak dan istri  yang menjadi tanggungan saya di lembah sana, agar mereka tahu kalau saya akan diputuskan hukuman mati oleh anda. Saya berjanji, akan kembali lagi kesini. Demi Allah, anak istri saya tidak mempunyai apa-apa kecuali saya.”
Lalu, Umar menjawab, “lantas siapa yang akan memberikan jaminan bahwa anda pergi menemui keluargamu dan akan kembali kesini?”.
Semua yang menjadi saksi kejadian itu terdiam, tak ada satupun yang angkat suara, apalagi harus mengorbankan diri memberikan jaminan kepada orang yang belum dikenal. Apalagi bila kenyataannya dia tidak pernah kembali, maka Nyawalah taruhannya.
Namun akhirnya …
“saya penjaminnya wahai Amirul Mukminin”. Suara keberanian terlepas dari mulut sang kesatira. Abu Dzar AL Ghifary radhiallahu ‘anhu.
“Ini kasus pembunuhan wahai Abu Dzar”, tukas Umar yang seolah olah mengingatkan Abu Dzar tentang gentingnya perkara itu.
“Ya, walaupun ini kasus pembunuhan, saya melihat ada ciri-ciri orang beriman dalam dirinya, dan saya yakin dia tak akan berdusta dan pasti akan kembali, Insya Allah.” Jawab Abu Dzar mantap.
Tibalah waktu hukuman bagi terpidana mati, ketika itu semua orang dalam keadaan mencekam mengkhawatirkan keadaan Abu Dzar. Namun, sebelum proses hukuman akan dilaksanakan, muncullah si terpidana ke dalam masjid rasulullah. Umar pun berkata, “seandainya kamu tidak kembali, dan tetap tinggal dirumahmu, maka kami tidak akan menemukanmu.”
Orang itu menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, urusan saya bukan dengan anda, akan tetapi dengan Dia Yang Maha Mengetahui segalanya. Saya pergi menemui keluarga saya sedangkan mereka bagaikan burung kelaparan, saya tidak akan meninggalkan mereka sebelum saya menuntaskan kewajiban saya, dan sekarang saya telah memenuhi urusan saya, dan telah datang waktu bagi saya untuk memenuhi janji, dan saya tidak ingin sikap menepati janji hilang dari nurani manusia”.
Kepada Abu Dzar, Umar berkata,”Lantas kenapa kamu bersusah payah menjaminnya wahai sahabatku Abu Dzar??”
Beliau menjawab, “saya tidak ingin orang-orang akan mengatakan kebaikan dan kedermawanan telah hilang dari hati manusia”.
Lalu Umar menoleh kepada dua orang pendakwa, “Bagaimana pendapat kalian berdua?”. Sambil menangis haru mereka menjawab, “kami memaafkannya wahai Amirul Mukiminin, kami memaafkannya karena kejujurannya, kami tidak ingin orang-orang mengatakan, “sikap pemaaf telah hilang dari hati manusia”.
Allahu akbar …… dahsyaaaaaaaatnya hati mereka ……..
“bila ada sikap dan perkataan sesorang yang menyakiti hati anda, maka maafkanlah kesalahan sikapnya, bila tidak maka akan ada dua orang jahat”. (Author Unknown)
semoga catatan ini menjadi nasehat saya dan anda
barakallahu fikum
By : Abu rabi’ah Zayn Ar ra’yi

Leave A Reply