Semua Manusia Adalah Sama

0

 

 
Musim haji hampir tiba. Nabi SAW beserta sejumlah sahabat dan para pengikutnya berangkat menuju ke tanah suci Mekah. Perjalanan suci itu terus bergerak dan bergerak melewati jalan-jalan yang berpasir dan akhirnya sampai di padang Arafah, padang tempat wuquf haji. Para pemeluk Islam mengalir dari berbagai belahan semenanjung Arabia dan bahkan dari luar semenanjung Arab.

Rasulullah saw menaiki mimbar untuk menyampaikan khotbah di hadapan jema’ah yang sudah berkumpul menanti nasihat dan petuah beliau. Lautan luas manusia berkumpul di hadapan beliau. Di bagian depan, duduk kaum muhajirin Makkah yang telah memeluk Islam pada masa-masa awal dakwah Rasulullah saw yang sarat dengan penderitaan. Berdampingan dengan mereka adalah saudara-saudara mereka dari golongan Anshar yang menerima kedatangan Nabi saw ke Madinah dengan penuh suka-cita, saat pintu-pintu Thaif dan Makkah menutup diri dari seruan dakwah Nabi saw. Di belakang mereka, duduk pula saudara-saudara seiman (Selain kaum Muhajirin dan Anshar) yang menerima Islam pada masa-masa awal dan rela menerima cemoohan teman dan ancaman pedang yang tiada henti-hentinya mengancam kehidupan mereka. Para pembesar Quraisy yang dulu pernah merayu Nabi saw dengan kekayaan, perempuan dan kekuasaan serta segala bentuk rayuan lain agar beliau menghentikan dakwah, juga hadir dalam pertemuan besar tersebut, namun mereka duduk agak jauh di belakang.
“Wahai sekalian manusia! Camkan kata-kataku, karena aku tidak tahu apakah tahun depan, aku masih diberi lagi kesempatan untuk berdiri di depan kalian di tempat ini.”
“Jiwa dan harta benda kalian adalah suci serta haram di antara kalian, bahkan hari dan bulan ini adalah suci bagi kalian semua, hingga kalian menghadap Allah. Ingatlah, kalian akan menghadap Allah yang akan menuntut kalian atas perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan.”
“Wahai manusia! Kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian dan istri-istri kalian mempunyai hak atas kalian. Perlakukanlah istri-istri kalian dengan cinta dan kasih sayang; karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanat Allah.”
“Riba adalah haram. Orang yang berhutang harus mengembalikan modal; sebagai permulaan akan dilakukan terhadap pinjaman pamanku, Abbas bin Abdul Muthalib.”
“Kebangsawanan di masa lalu diletakkan di bawah kakiku. Orang Arab tidak lebih unggul dari bangsa non-Arab dan bangsa non-Arab tidak lebih unggul atas bangsa Arab. Semua adalah anak Adam dan Adam tercipta dari tanah.”
“Wahai manusia! Dengar dan pahami kata-kataku! Ketahuilah, bahwasannya sesame muslim adalah saudara. Kalian semua diikat dalam satu persaudaraan. Harta seseorang tidak boleh menjadi milik orang lain kecuali diberikan dengan rela hati. Lindungilah diri kalian dari berbuat aniaya.”
“Terhadap pembantu-pembantu kalian! Ketahuilah bahwa kalian memberi makan mereka dengan apa yang kalian makan dan kalian memberi pakaian mereka dengan pakaian yang kalian kenakan. Jika mereka melakukan kesalahan yang tidak bisa kalian maafkan, maka bebaskanlah mereka karena mereka adalah hamba-hamba Allah dan bukan untuk diperlakukan dengan kasar.”
“Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara: selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah saw. Hendaklah yang hadir di sini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Siapa tahu orang yang menyampaikan lebih memahami daripada orang yang mendengarnya.”
“Wahai kalian semua yang berkumpul di sini! Apakah aku telah menyampaikan pesan dan memenuhi janjiku?”
Lautan jama’ah haji itu menjawab dengan serentak dalam koor yang gemuruh, “Ya, engkau telah melakukannya.”
Secercah cahaya memancar di wajah Nabi saw. Dengan mata berlinang air mata suka-cita, beliau mengangkat tangan ke atas dan berkata dengan suara gemetar, “Ya Allah hamba mohon pada-Mu agar Engkau menjadi saksi atas semua ini.”
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply