Sekelumit (Hadits) Tentang Mati Syahid

0

Meng-ilmu-i (tahu & mengerti tentang dalil) mati syahid sgt bagus utk menyemangati diri sendiri memperbanyak amal dlm da’wah dan perjuangan meninggikan Islam serta membela kaum muslimin serta mengkondisikan diri untuk selalu dalam ketaatan pd Allah yg kemudian menimbulkan pengharapan/kecintaan pada mati syahid.

Banyak sekali hadits shahih tentang keutamaan mati syahid, disini dinukil hanya 2-3 hadits semoga dapat memacu kita untuk mempelajari hadits-2 tentang mati syahid yang lain,

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَنَّ لَهُ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ الشَّهِيدِ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ

“Tidak ada orang masuk surga lalu ia menginginkan kembali ke dunia padahal ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, kecuali orang yang mati syahid. Dia bercita-cita untuk kembali ke dunia kemudian dibunuh, berulang sepuluh kali, setelah dia melihat besarnya kemuliaan (mati syahid)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri menginginkan hal itu,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أَغْزُو فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh aku senang berperang di jalan Allah lalu terbunuh. Kemudian aku berperang lalu terbunuh. Kemudian aku berperang lalu terbunuh.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz milik Imam Muslim. Dalam redaksi lainnya, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh aku senang terbunuh di jalan Allah lalu dihidupkan.”)

Jujurkah niat kita?

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لِحَرْمَلَةَ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا و قَالَ حَرْمَلَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ

Artinya :”Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya dan ini adalah lafadz Harmalah, Abu At Thahir berkata; telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Harmalah mengatakan; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepadaku Abu Syuraikh bahwa Sahl bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif telah menceritakan kepadanya dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur.” Dan dalam hadits yang diriwayatkan Abu At-Thahir tidak menyebutkan, ‘Dengan sungguh-sungguh.’”(HR. Muslim 1909 ).

Imam An Nawawi menjelaskan tentang hadis di atas : Maknanya bahwa jika seseorang memohon kepada Allah mati syahid dengan sebenar-benarnya, maka Ia akan memberikan pahala syahid walaupun mati di atas tempat tidur. Di dalamnya juga ada perintah untuk meminta syahadah dan juga niat-niat kebaikan. ( syarh Muslim 13/55 ).

Berkata Imam Al Manawi rahimahullah : “walaupun mati di atas tempat tidurnya” yang demikian itu karena ia telah berniat pada kebaikan dan ia melaksanakan apa yang mampu untuk menuju kesana. Maka pahalanya sama dengan pelakunya. Walau kesamaan ini tidak sama secara keseluruhannya. Karena memang pahala pada sebuah amal serta sebuah niat bertingkat-tingkat tergantung kekuatan niat seseorang. Barang siapa berniat haji tetapi tidak memiliki harta untuk berhaji, maka tidak sama dengan orang yang berangkat haji. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang meninggal dan mendapatkan syahadah lebih tinggi derajadnya dibandingkan orang yang meninggal di atas tempat tidur, walau orang yang meninggal mendapatkan kedudukan sebagai syuhada’. Keduanya walaupun mendapatkan pahala yang sama, tetapi amalan orang yang telah berjihad lebih mulia. Itulah keutamaan Allah yang Ia berikan pada orang-orang yang dikehendaki-Nya. ( Faidhul Qodir : 6/186 ).

Penjelasan Al manawi di atas selaras dg apa yg disebutkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ : يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ، وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih).

Dri penjelasan diatas maka jika kita menginginkan mati syahid kemudian berdo’a utk mati syahid tetapi kita berleha atau berhenti pd sekedar meng-ilmu-i-nya saja atau bahkan malah anti-pati pada da’wah yang menyeru pada kecintaan mati syahid maka susah dipungkiri niat dan faham kita “bertentangan head to head” dengan ajaran diatas

Wallahua’lam bishawab

Leave A Reply