Sebesar-besar Kedustaan

0

Dari Abul Asqa’ yaitu Watsilah bin al-Asqa’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya termasuk sebesar-besar kedustaan ialah apabila seseorang itu mengaku-aku pada orang yang selain ayahnya – yakni bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan keturunannya, atau orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang sebenar- nya tidak memimpikannya* atau ia mengucapkan atas Rasulullah s.a.w. sesuatu yang tidak disabdakan olehnya – yakni bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Dalam Hadis di atas disebutkan bahwa di antara sebesar-besar kedustaan ialah:

  1. Mengaku kepada seseorang yang bukan ayahnya sebagai avahnya sendiri adalah termasuk dusta terbesar, karena membuat- buat sesuatu atas nama Allah Ta’ala, seolah-olah orang yang ber dusta itu mengatakan: “Allah membuat aku dari mani si Fulan itu,” padahal sebenarnya bukan orang yang ditunjuk itu yang menyebab- kan kejadiannya. Orang yang berbuat demikian itu ada kalanya ingin dihormati atau diagung-agungkan sebab yang diakui sebagai ayah nya adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi atau orang hartawan, ada kalanya  pula  karena   ingin  dianggap  keturunan ningrat karena yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang bang- sawan dan ada kalanya sebab yang Iain-Iain.

Tetapi pada pokoknya disebabkan oleh kesombongan dan menginginkan penghormatan untuk dirinya.

  1. Mengatakan bermimpi apa yang tidak dimimpikan, inipun dusta yang amat besar. Adapun sebabnya adalah sebagaimana yang diterangkan sebagai penjelasan yang tertera di bawah ini. Sehubungan dengan dusta dalam hal impian ini, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas r.a., yaitu:

“Barangsiapa yang mengaku bermimpi dengan sesuatu impian yang sebenarnya tidak diiihatnya, maka – pada hari kiamat nanti -akan dipaksa duduk di antara dua butir biji gandum, tetapi ia tidak mungkin dapat melakukannya.”

  1. Mengucapkan sesuatu dusta atas nama Nabi Muhammad s.a.w., maksudnya sesuatu yang bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya, atau sesuatu yang disabdakan oleh beliau s.a.w. itu haram, tetapi dikatakan halal dan demikian pula sebaliknya. Orang semacam itu diancam akan dilemparkan dalam nerakadan diperintah-kan mencari tempat kediamannya dalam neraka itu, sebagai tempat tedudukannya. Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam-imam Bukhari, Muslim, Termidzi dan Iain-Iain dari Anas r.a. menyebutkan:

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku (Nabi Muhammad) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya atau tempat kediamannya daripada neraka.”

Dikutip dari: Riyadus Shalihin-Taman 0rang-orang Shalih; Imam Nawawi.

Leave A Reply