Runtuhnya Kerajaan Pengging Pada Paruh Pertama Abad Ke-16

0

Dalam cerita tutur Jawa dikatakan bahwa Raja Andayaningrat dari Pengging dan salah satu dari kedua anak laki-lakinya, Kebo Kanigara, ikut bertempur bersama dengan panca tanda dari Terung dan patih Gajah Mada untuk mempertahankan kota raja Majapahit terhadap serangan  Islam yang dipimpin Sunan Kudus. Andayaningrat gugur dalam peristiwa ini. Setelah kemenangan akhir dicapai oleh orang Islam, putranya yang kedua menggantikan ayahnya menjadi raja di Pengging. Jika cerita tutur ini dapat dipercaya, Kerajaan Pengging rupanya masih tetap bertahan sampai perempat kedua abad ke-16; bukankah kota raja Majapahit pada tahun 1527 direbut oleh orang Islam?

Menurut Babad Tanah Djawi, kerajaan Pengging runtuh oleh “Alim Ulama dari Kudus”, yang juga dengan “kelompok alim”-nya telah memerangi “kekafiran” di Majapahit. Di Keraton Demak, karena rajanya telah dianggap sebagai raja Islam yang sesungguhnya sesudah Majapahit menyerah, orang yakin bahwa semua raja Jawa lainnya – terutama yang Islam – harus tunduk kepada Demak. Menurut cerita babad, raja Demak juga mencurigai Yang Dipertuan di Pengging; ia khawatir jika penguasa Pengging ini – karena masih ada hubungan keluarga dengannya – memberanikan diri mengambil kekuasaan sebagai raja (ing Pengging tilas kabupaten, sarta kapernah santana dening Sultan Dernak, bokmenawi amikir sumeja jemeneng ratu, Pengging bekas kabupaten, lagi pula ia masih kerabat Sultan Demak mungkin ia berpikir ingin menjadi raja). Menurut cerita tutur Jawa, raja-raja Demak dan Pengging masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga raja Majapahit. Oleh karena itu, raja Demak lebih dahulu mengutus orang kepercayaannya, Ki Wanapala, dan kemudian Sunan Kudus, ke Pengging. Sementara para penguasa di Tingkir, Ngerang, dan Butuh telah bersedia menyerah, Kebo Kenanga dari Pengging tetap mempertahankan pendiriannya dalam perang lidah yang berkisar tentang “ilmu” (sami tarung bantah ing ngelmunipun, mereka berbantah tentang ilmu kebatinan). Akhirnya ia dibunuh oleh Sunan Kudus. Karena anak laki-lakinya, Mas Krebet, satu-satunya pewaris, masih terlalu muda – kelak menetap di Pajang – sesudah Kebo Kenanga tidak ada penguasa lagi di Pengging.

Apabila cerita ini boleh dipercaya, tindakan Sunan Kudus di Pengging itu (dua tahun sesudah diutusnya Ki Wanapala) terjadi pada permulaan dasawarsa keempat abad ke-16 (ini jika kita anggap bahwa Majapahit pada tahun 1527 telah diduduki oleh orang-orang Islam). Tindakan Sunan Kudus yang sangat terkenal terhadap “si bid’ah” Kebo Kenanga itu sesuai dengan ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atau Pangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatinan empat bersaudara; Yang Dipertuan di Pengging, di Tingkir, di Ngerang, dan di Butuh. Itu sesuai pula dengan sifatnya yang gagah berani dalam perang melawan kota raja “kafir” Majapahit.

Sungguh mencolok bahwa cerita-cerita tutur Jawa yang mengenai Pengging dan Tembayat hampir tidak berhubungan. Apabila diakui bahwa legenda-legenda itu juga mempunyai sedikit nilai sejarah, seharusnya Kebo Kenanga itu hidup sezaman – sungguhpun lebih muda – dengan Sunan Tembayat pertama. Sunan Tembayat yang berasal dari Semarang itu untuk beberapa waktu tinggal di Wedi, dekat Klaten. Daerah Klaten itu dahulu pasti termasuk wilayah raja-raja Pengging. Pada paruh kedua abad ke-16 Sultan Pajang memperlihatkan rasa hormatnya terhadap makam orang suci di Tembayat itu.

Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

Leave A Reply