Runtuhnya Kekuasaan Pemerintahan Kudus

0

 

 
Tidak mudah menetapkan dengan teliti kurun waktu berita-berita menyangkut Kudus sebagai pusat agama. Berita yang diketahui dengan pasti tentang kronologi dinasti para ulama di Kudus itu hanya sedikit. Namun, masuk akal jika Kudus mencapai kejayaannya berkat jasa-jasa Sunan pertama, penyebar agama Islam yang gagah berani, dan berkat jasa-jasa ayahnya, seorang yang alim.

MenuIut Solichin Salam, kiranya sunan pertama telah meninggal pada tahun 1550 (Solichin Salam, Kudus), Sadjarah Dalem, silsilah keturunan raja-raja Mataram, menyebutkan tiga penguasa di Kudus, seorang sunan, seorang panembahan, dan seorang pangeran. Gelar yang kurang tinggi bagi yang kedua dan ketiga itu merupakan bukti berkurangnya kekuasaan pemerintahan, sesudah meninggalnya sunan pertama yang bersemangat itu. Kiranya dapat diperkirakan bahwa kemenangan Jaka Tingkir, Sultan Pajang, atas Aria Panangsang dari Jipang, murid tersayang Suntan Kudus, pada tahun 1549, sangat merugikan wibawa pemerintahan Kudus di Jawa Tengah.
 Menurut cerita Jawa, konon, seorang penguasa di Kudus (mungkin yang kedua itu, yaitu panembahan) telah memperistri putri dari Giri. Hubungan dengan keturunan sunan-sunan dari Giri/Gresik, yang pada paruh kedua abad ke-16 masa jayanya, mengandung kebenaran juga. Hal itu telah mewujudkan hubungan antara dua pusat keagamaan Islam yang penting di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sama sekali tidak diketahui tahun berapa panembahan dari Kudus (menurut Sadjarah Dalem) diganti oleh pangeran itu. Yang dapat dipercaya ialah bahwa bagi keturunan para penguasa di Kudus, seperti halnya juga bagi raja Demak terakhir yang setengah merdeka juga itu, ternyata 1588 merupakan tahun yang tidak menguntungkan. Kesultanan Pajang, yang didirikan oleh Jaka Tingkir, sebelumnya seorang abdi Keraton Demak, tampaknya pada perempat ketiga abad ke-16 telah memperlihatkan sikap bersahabat terhadap “para ulama” di Demak dan Kudus. Pada tahun 1588, karena meninggalnya Sultan, kekuasaan Pajang jatuh; Panembahan Senapati dari Mataram mulai memperluas daerahnya. Raja-raja dari Mataram, yang pada mulanya tidak mempunyai hubungan perkawinan atau apa pun dengan keturunan raja yang lebih tua di Pesisir, agaknya bertindak sangat keras di pusat-pusat peradaban Islam yang lebih tua di Pesisir. Lebih dahulu telah dikemukakan bahwa raja Demak yang terakhir telah melarikan diri karena terus didesak oleh Mataram, mula-mula ke Malaka, kemudian ke Banten. Masuk akal jika pangeran Kudus yang terakhir mencari perlindungan di Jawa Timur, mungkin pada sanak-saudaranya di Giri/Gresik, atau di Tuban, di kalangan mereka yang menghormati Sunan Bonang sebagai orang suci. Para sunan di Kudus masih mempunyai hubungan keluarga jauh dengan Sunan Bonang dan Sunan Ngampel Denta di Surabaya.
Di bawah kekuasaan raja-raja Mataram pada abad-abad ke-16, ke17, dan ke-18 ada hubungan pemerintahan antara Demak dan Kudus. Keduanya berada di bawah kekuasaan para penguasa Mataram. Walaupun berasal dari Mataram, beberapa di antara bupati itu dalam perang saudara di Mataram ikut menentang kekuasaan tertinggi di pusat, dan membantu para calon pengganti raja yang memberontak. Sekali bermukim di “daerah” mereka tampaknya terpengaruh oleh tradisi setempat yang berakar pada kejayaan masa lampau sebagai kerajaan merdeka. Pangeran Puger, paman Sultan Agung, sendiri diharuskan tinggal di Kudus ketika ternyata bahwa di Demak – tempat ia memerintah – ia dikhawatirkan akan memusatkan kekuasaan dan membahayakan pemerintah pusat.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply