Runtuhnya Kekuasaan Pemerintahan Demak

0

 

 
Oleh karena tidak ada berita-berita, khususnya karya tulis Portugis atau karya Eropa lain yang dapat dikaitkan pada zaman sesudah meninggalnya Susuhunan Prawata pada tahun 1549, uraian berikut ini berdasarkan cerita sejarah Jawa Tengah saja. Kemenangan raja (-taklukan) Pajang, Jaka Tingkir, atas raja (-taklukan) Jipang, Aria Panangsang, pembunuh raja Demak yang terakhir, menurut cerita-cerita babad, telah mengangkat penguasa Pajang langsung ke jenjang kekuasaan tertinggi di Jawa Tengah. la telah mengubah tempat kediamannya di pedalaman Jawa Tengah sebelah selatan menjadi ibu kota keraton suatu kerajaan pedalaman di Jawa. Para raja yang lebih tua di daerah-daerah pantai sepanjang pantai utara (Pesisir), dan para penguasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, rupa-rupanya dengan segera mengakui dia sebagai raja tertinggi (maharaja). Ibu kota lama, Demak, kemudian menjadi ibu kota daerah, yang diperintah oleh seorang penguasa yang tunduk pada raja Pajang. Keadaan demikian tidak berubah sampai ketika kekuasaan politik di pedalaman pada akhir abad ke-16 pindah dari Pajang ke Mataram.

Namun, gambaran keadaan yang demikian itu tampaknya terlalu sederhana. Para penulis cerita babad di Jawa Tengah dari abad ke-17 dan ke-18 cenderung membesar-besarkan kekuasaan raja-raja di kerajaan-kerajaan pedalaman Pajang dan Mataram, dengan mengorbankan kedudukan daerah-daerah para raja yang mendahului mereka, yaitu kerajaan-kerajaan Pesisir. Sebenarnya kekuasaan Ratu Putri di Kalinyamat-Jepara sangat besar di daerah-daerah sepanjang pantai utara sebelah barat, sampai di Banten, hingga jauh dalam paruh kedua abad ke-16. Ini tertulis dalam babad-babad di Citebon dan Banten (lihat Bab-bab VII dan VIII).
Lagi pula, terdapat pemberitaan seorang Portugis, De Couto (Couto, Da Asia, jil. VIII, Bab 21), yang menyatakan bahwa untuk melaksanakan salah satu ekspedisinya melawan Malaka yang dijajah Portugis, pada tahun 1564 raja Aceh yang gagah berani, ‘Ala’ad-Din Shah telah mengirim utusan untuk meminta bantuan dari 0 Rey de Dama, lmperador do Java (Ratu Demak, maharaja Jawa). Tetapi menurut De Couto, raja Demak ini menolak, karena ia tidak rela bila raja Aceh itu mencapai kemenangan atas orang-orang Portugis. la khawatir kalau-kalau Aceh menjadi terlalu berkuasa dan memasukkan Jawa ke dalam daerah pengaruhnya. Para utusan dari Aceh itu bahkan dibunuh di Demak; hal ini tentu saja menutup segala kemungkinan terciptanya persekutuan. Kejadian ini tentu dilihat oleh orang-orang Portugis sebagai “uluran tangan surga” (0bra Divina); karena itulah De Couto menyajikan berita ini secara panjang lebar.
Tidak ada alasan untuk menduga bahwa De Couto mengacaukan Demak dengan Jepara, sebab Jepara sering juga disebutnya. Jadi, pada tahun 1564, kira-kira lima belas tahun sesudah meninggalnya Susuhunan Prawata, di Demak masih ada seorang “kaisar” yang kekuasaannya (tampaknya) cukup besar sehingga timbul pikiran pada raja Aceh yang perkasa itu untuk mengusulkan suatu persekutuan. Siapa “kaisar” yang dimaksud tidak dapat ditemukan dalam cerita-cerita babad Jawa. Kiranya ia dapat digambarkan sebagai berikut: Ia semula seorang pemimpin rohani, seorang keturunan keluarga raja Demak yang harum namanya, yang kekuasaannya lebih banyak berdasarkan kewibawaan tradisionalnya sebagai pelindung agama Islam dan sebagai panata’gama (pengatur agama) daripada berdasarkan kekuasaan politik. Kekuasaan di Tanah Pesisir dalam perempat ketiga abad ke-16 ada di tangan Ratu Kalinyamat di Jepara. la melindungi dan mengasuh kemenakan-kemenakannya, yaitu putra-putra saudara-saudaranya yang terbunuh di Demak.
Pangeran Kediri sebagai anak laki-laki Pangeran Lepen. Pangeran ini – disebut juga Pangeran Pangiri – agaknya menurut beberapa babad masih memegang kekuasaan sekadarnya di Demak sesudah Susuhunan Prawata meninggal. Mungkin dialah sang “kaisar” yang dimaksud dalam berita De Couto itu. Jadi, ia seorang kemenakan Susuhunan Prawata dan Ratu Kalinyamat di Jepara, dan (menurut tradisi Mataram) juga kemenakan Sultan Pajang.
Akhirnya ada juga pemberitaan cerita babad lain, yang menyangkut penggantian Sultan Pajang yang meninggal pada tahun 1587, yang mungkin juga dapat dihubungkan dengan raja Demak yang terakhir ini. Cerita itu mengisahkan bahwa dalam periode kekacauan sesudah meninggalnya Sultan, raja Demak dengan sejumlah prajurit (di antaranya terdapat budak-budak belian, orang-orang Bali, Bugis, dan Makassar) juga telah muncul di Pajang dengan maksud melaksanakan hak dan tuntutannya atas kekuasaan tertinggi sebagai raja. Tetapi prajurit-prajurit pengiringnya segera dapat dicerai-beraikan oleh pengikut-pengikut bersenjata raja Mataram. Raja Mataram ini, Panembahan Senapati, teman sekutu calon pengganti raja yang lain yaitu Pangeran Benawa, telah memperlakukan yang dipertuan di Demak yang teramat mulia itu dengan sangat hormat. la memberi perintah supaya raja Demak (yang boleh jadi sudah tua) diantarkan kembali ke Demak dengan tandu yang dikawal, dan dengan kedua tangannya diikat dengan selendang sutera (cinde) saja. Dalam cerita babad susuhunan Mataram (Meinsma, Babad hal. 170 dst.) raja Demak ini hanya disebut adipati Demak. Rupanya, ia kawin dengan anak perempuan Sultan Pajang yang tertua.
Apabila berita ini mempunyai dasar kebenaran, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada tahun 1587 kekuasaan politik raja Demak sudah tidak berarti lagi, sehingga lawannya dapat saja bersikap baik hati terhadapnya. Lagi pula, dapat disimpulkan bahwa raja Demak terbukti besar juga kewibawaannya di pedalaman Jawa Tengah dalam bidang agama terhadap penduduknya, yang ayah atau kakeknya baru 50 atau 75 tahun masuk agama Islam (berkat dakwah Sunan Tembayat).
Tidak diketahui arti nama Pangeran Kediri atau Pangiri, yang menurut cerita Jawa Barat telah disandang oleh raja terakhir dari dinasti Demak. Tidak terlalu besar kemungkinan nama tersebut ada kaitannya dengan daerah Kediri di tepi Sungai Brantas di Jawa Timur. Namun, bila demikian halnya, pada zaman-zaman terakhir Kesultanan Demak rupanya sudah menjadi kebiasaan, bahwa pangeran-pangeran diberi nama gelar, yang mengandung tuntutan atas daerah yang jauh letaknya, seperti lazimnya di Keraton Mataram (Pangeran Puger, Pangeran Singasari), jadi bukan “kekuasaan” yang nyata atas daerah tersebut.
Menurut sebuah tarikh Jawa, yang diolah Raffles ke dalam bukunya History of Java, kiranya pada tahun 1588 – sesudah runtuhnya Demak – para pejabat tinggi bersama rakyatnya telah pergi naik kapal. Bila pemberitaan ini benar, maka putra Pangeran Kediri/Pangiri bersama para pengikutnya menyingkir karena takut akan bertambahnya kekuasaan raja Mataram (yang tidak berhubungan keluarga dengan dia seperti Sultan Pajang almarhum). Menurut silsilah-silsilah keluarga raja Demak tersebut di atas, Pangeran Kediri mempunyai seorang putra, Pangeran Mas, yang juga disebut Pangeran Juru(h). Pangeran Demak inilah yang dijumpai pedagang-pedagang Belanda, yang pada tahun 1596 singgah di Banten (Eerste Schipvaert, hal. 429-430). Mereka mendengar bahwa ayah pangeran itu dahulu telah memerintah seluruh Jawa, tetapi karena tindakan raja-raja bawahannya, dipecat (Graaf, Senapati, hal. 98). Anaknya, yang jatuh miskin karena perang, berangkat ke Malaka – jajahan Portugis – dan kemudian (tahun 1596) ke Banten; di sana ia disambut dengan hormat oleh kerabatnya, raja Banten. Haknya atas kekuasaan di Demak pada asasnya telah diakui, dan ia menerima penghormatan sebagai bangsawan, sesuai dengan asal usulnya. Di Banten ia tinggal dalam perumahan di luar kota. Kiranya lama juga ia tinggal di Jakarta (yang pada waktu itu di bawah kekuasaan raja Banten).
Tidak mustahil bahwa cerita yang didengar oleh orang-orang Belanda mengenai tinggalnya calon pengganti raja Demak di Malaka itu mengandung kebenaran. Pada tahun 1587 Paulo de Lima, “Herculesnya bangsa Portugis”, merebut Kota Johor. Kemenangan orang-orang Portugis ini besar sekali pengaruhnya di Nusantara bagian barat. Sultan Aceh menawarkan perjanjian perdamaian, dan pada tahun 1587 itu juga muncullah perutusan Jawa di Malaka (de Couto, Da Asia, XII, hal. 624-627). Karena salah paham, timbullah kesulitan, tetapi hubungan dengan orang-orang Jawa tetap baik, dan pedagang-pedagang Jawa tetap menyinggahi Malaka. Dapat dimengerti kalau calon pengganti raja Demak yang tidak bertanah itu pada tahun 1588 mengharapkan bantuan dari Malaka guna menghadapi kekuasaan Mataram, yang dari tanah pedalaman Jawa Tengah terus saja mendesak ke utara; Malaka yang dipilih, karena penduduknya pelaut, yang pemimpinnya belum lama berselang mencapai kemenangan besar. Tetapi dalam karya tulisan orang Portugis tidak terdapat berita tentang adanya kontak antara Gubernur De Lima dan calon pengganti raja Demak.
Seorang wakil Inggris di Banten, Scott, telah memberitakan akhir kehidupan calon pengganti raja Demak tersebut. Scott menyatakan, pada tahun 1604 ia mendengar bahwa dalam perjalanan laut dari Banten ke tempat lain di pantai utara, Pangeran Mas telah dibunuh oleh salah seorang putranya. la dimakamkan di permakaman Banten “Palanangka” (seharusnya “Pangkalan Tangka”). Kejadian ini juga dicantumkan dalam Sadjarah Banten (Djajadiningrat, Banten, hal.150), dan dalam Hikayat Hasanuddin (Edel, Hasanuddin, hal. 251-252). Menurut nama tempat peristirahatan terakhirnya di tanah rantau itu, calon pengganti raja Demak tersebut di Banten dikenal sebagai Sultan Pangkalan Tangka.
Berdasarkan sebuah berita dalam Eerste Schipvaert (jil. I, hal. 103) dapat diambil kesimpulan bahwa pada tahun 1596 keluarga raja Demak masih mempunyai pengikut. Di situ ada kata-kata; Dauma, waer den Keyser noch voor Coning ghekent wordt ‘Demak, tempat Kaisar masih diakui sebagai raja’. Yang dimaksud adalah Pangeran Mas, yang di kalangan orang Belanda dikenal dari Banten. Menurut cerita babad-babad di Jawa Tengah, pada tahun 1602-1604 timbul pemberontakan di Demak melawan kekuasaan Mataram. Besar sekali kemungkinan bahwa calon pengganti raja Demak pada tahun 1604 atau sekitarnya telah mempunyai rencana untuk berlayar dari Banten ke Demak, untuk memimpin pengikut-pengikutnya. Apa yang menjadi alasan sampai ia dibunuh itu, kiranya, tetap merupakan rahasia.
Silsilah-silsilah keluarga raja Demak, kecuali menyebutkan kedua putra calon raja, Pangeran Mas/ Pangeran Juru(h), juga menyebutkan banyak anggota keluarga lain yang lebih muda. Lebih lanjut tidak ada kabar tentang mereka. Boleh jadi mereka anggota keluarga-raja Banten.
Termasuk keturunan dan kerabat keturunan raja-raja Demak, yang di luar tanah airnya berhasil mencapai kedudukan penting dalam kemelut politik abad ke-16 itu, ialah mereka yang disebut di atas; raja Jepara, raja Cirebon, raja Banten, dan raja Pajang; dan selain itu juga para Yang Dipertuan di Jipang Panolan. Kita masih ingat bahwa menurut cerita Jawa, Aria Panangsang telah memegang peranan – yang berakibat buruk baginya – dalam peristiwa pembunuhan antarkeluarga di Demak pada pertengahan abad ke-16. Para penguasa di Jipang ternyata masih mempunyai hubungan keluarga dengan para penguasa di Matahun, yaitu suatu daerah yang – seperti Pajang dan Mataram – semula termasuk “tanah mahkota” milik keluarga raja Majapahit yang kuno dan “kafir” itu. Boleh jadi keturunan atau pengikut keluarga Jipang pada abad ke-16 dan ke-17 telah menduduki tahta kerajaan di Palembang. Dalam bab-bab berikut ini sejarah daerah-daerah tersebut akan diberikan perhatian masing-masing.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply