RAMADHAN BERKAH

0
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh hikmah. Berjuta pahala dan keutamaan melimpah ruah. Diantara yang perlu disiapkan adalah pengetahuan ilmiah tentangnya. Di sini akan dihadirkan sebuah risalah fiqih ringkas tentang puasa. Bukan untuk menyederhanakan persoalan, namun dengan tujuan untuk memudahkan pemahaman. Mudah-mudahah, risalah ini bisa membantu dalam memahami ibadah puasa yang sebenarnya. Risalah ini diterjemahkan dari makalah yang termuat dalam situs saaid.net. Selamat Membaca!

Arti Puasa

Puasa secara bahasa artinya menahan. Secara syar’i, maksudnya adalah niat untuk beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari tenggelam.

Hukumnya
Hukumnya adalah wajib sesuai tuntunan Kitabullah, Sunnah Rasul, dan Ijma’.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عن أبي عـبد الرحمن عبد الله بن عـمر بـن الخطاب رضي الله عـنهما ، قـال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسـلم يقـول : بـني الإسـلام على خـمـس : شـهـادة أن لا إلـه إلا الله وأن محمد رسول الله ، وإقامة الصلاة ، وإيـتـاء الـزكـاة ، وحـج البيت ، وصـوم رمضان
“Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anhuma berkata : saya mendengar Rasulullah bersabda: “Islam didirikan diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah secara benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan.” (Bukhari no.8, Muslim no.16)
Secara ijma’, para shahabat menyepakati akan wajibnya puasa Ramadhan.
Hikmahnya
Hikmah dari puasa sebagaimana ayat dalam Surat Al Baqarah 183 di atas adalah agar kamu sekalian mencapai derajat takwa.
Kapan Wajibnya Puasa Ramadhan?
Wajibnya puasa dan masuknya bulan Ramadhan adalah dengan satu dari dua hal berikut:
– Melihat Hilal Ramadhan. Baik itu dilhat dengan mata telanjang atau dengan bantuan alat.
– Menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.
Syarat Wajib Puasa
– Islam
– Baligh. Anak kecil tidak wajib. Bagi orang tua dianjurkan untuk memerintahkan anak kecil berpuasa jika mereka kuat. Tujuannya agar mereka terbiasa.
– Berakal dan tidak gila
– Mampu untuk melaksanakan puasa
– Muqim tidak bepergian
– Terbebas dari halangan-halangan. Ini khusus bagi wanita. Dikarenakan mereka mengalami haidh dan nifas yang menghalangi waibnya mereka untuk puasa.
*Niat berpuasa cukup sekali ketika masuk Ramadhan, selama tidak terputus dengan safar (bepergian), sakit, atau yang lainnya. Lebih utamanya adalah berniat setiap malam untuk melaksanakan puasa. Hal ini dalam rangka khuruj minal khilaf (menhindari perdebatan).
Yang Dibolehkan dan Sunnah-sunnah dalam Puasa
– Sahur
– Mengakhirkan sahur, selama tidak khawatir sudah terbit fajar.
– Menyegerakan berbuka jika telah selesai waktunya.
– Memperbanyak melakukan amal ibadah
– Menjaga lisan dari banyak bicara dan dari hal-hal yang dilaran, semisal berbohong, ghibah, adu domba, mencela, dan perkataan-perkataan yang keji.
– Berbuka dengan kurma basah. Jika tidak mendapati, dengan kurma kering. Jika tidak ada, cukup dengan air putih.
Pembatal-Pembatal Puasa
– Hubungan suami istri/jima’
– Keluar mani disertai syahwat
– Makan dan minum dengan sengaja, termasuk dengan infus
– Keluar darah dari tubuh dengan bekam datau sejenisnya yang dapat melemahkan tubuh.
– Muntah dengan sengaja
*Pembatal-pembatal di atas, wajib baginya qadha (mengganti). Terkecuali ketika jima’, maka wajib mengqadha dan membayar kafarah. Urut-urutan kafarah yang harus dibayarkan adalah membebaskan budak wanita, jika tidak mampu puasa 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu memberi makan 60 orang miskin. Inilah urut-urutan yang dikemukakan jumhur ulama.
Pembatal-pembatal Puasa di atas Tidak Berlaku dengan Udzur-udzur berikut ini:
– Tidak tahu. Jika seorang muslim tidak mengetahui bahwa yang dilakukannya dapat membatalkan puasa, maka puasanya tidak batal.
– Lupa. Jika seorang muslim lupa bahwa ia telah melakukan pembatal-pembatal puasa, maka puasanya tidak batal.
– Tidak sengaja. Jika seorang muslim tidak sengaja makan, minum, atau melakukan pembatal-pembatal lainnya, maka puasanya tidak batal.
Hukum-hukum yang Berkenaan tentang Orang yang Sakit
– Jika sakit yang diderita seorang muslim itu ringan, semisal sakit pilek ringan, pusing ringan, sakit gigi, maka ia tidak boleh berbuka atau membatalkan puasa.
– Sakit parah yang tidak membahayakan jiwa, maka baginya makruh untuk berpuasa dan disunnahkan untuk berbuka.
– Sakit parah yang membahayakan jiwa, semisal sakit gula atau sejenisnya, maka haram hukumnya melaksanakan puasa.
Tata Cara Mengganti Puasa dengan Fidyah bagi Orang yang Lemah/tidak sanggup puasa
– Memasak makanan, kemudian memberikan kepada orang miskin di setiap harinya. Ini sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu saat usianya sudah tua.
– Memberikan makanan yang belum dimasak. Sebanyak satu mud atau setengah sha’ gandum atau makanan semisalnya. Namun, juga ditambahi dengan menyertakan lauk di dalamnya.
*Satu sha’ dalam ukuran beras adalah 2,75 liter/ 3kg.
*Kemudian, kapan diberikannya? Boleh memilih, memberikannya setiap hari atau menyerahkannya sekaligus langsung sesuai jumlah puasa yang ditinggalkan sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Hukum-hukum yang Berkaitan dengan Orang yang Tidak berakal/gila, Orang yang Pingsan, dan Orang yang Tidur.
– Orang yang gila: Jika seseorang gila di sepanjang siang bulan Ramadhan sebelum fajar hingga matahari tenggelam, maka puasanya tidak sah, karena ia tidak wajib ketika itu untuk melakukan ibadah. Karena syarat wajib ibadah adalah sehat dan berakal. Maka, dalam kasus ini puasanya tidak sah dan tidak wajib mengqadha’.
– Orang yang pingsan: Jika ia pingsan karena sakit atau sebuah kejadian yang menimpanya – setelah dia sahur – sepanjang siang, maka puasanya tidak sah. Karena saat itu ia tidak berakal dan tidak wajib mengqadha’.
– Orang yang tidur: Jika dia telah sahur dan tidur sebelum adzan fajar, lalu dia tidak bangun kecuali setelah matahari terbenam, maka puasanya sah. Karena waktu itu ia sudah menjadi mukallaf dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
*Perbedaannya dengan orang yang pingsan adalah, bahwasanya orang yang tidur jika dibangunkan, maka dia akan bangun. Berbeda dengan orang yang pingsan.
Hukum-hukum yang Berkenaan dengan Musafir
– Jikalau kondisi seorang Muslim sama saja antara berpuasa dan berbuka ketika ia melakukan safar. Maksudnya, tidak menimbulkan hal-hal yang memberatkan atau semisalnya. Maka ia boleh memilih salah satu, antara berbuka atau berpuasa.
– Jikalau pilihan berbuka itu lebih memberi manfaat baginya, maka berbuka adalah lebih utama. Apabila melakukan puasa dapat memberatkannya, maka makruh baginya melakukan puasa. Karena melakukan sesuatu yang ada masyaqqahnya, sementara dalam hal tersebut ada rukhshah, maka hal ini menunjukkan sikap berpaling dari keringanan yang Allah berikan.
– Jikalau ia mendapati masyaqqah yang benar-benar memberatkan, maka diharamkan baginya untuk melakukan puasa.
Penerjemah: Ibas
Sumber: Saaid.Net

Leave A Reply