Prinsip Dasar Manhaj Talaqqi dan Istidlal menurut Ahlussunnah wal Jama’ah

0
1) Sumber pengambilan Aqidah adalah Kitabullah (Al Qur’an), Sunnah Rosulullah yg shahih, dan Ijma’ Salafush Shalih.

2) Setiap hadits yg shahih dari nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-  maka wajib diterima dan diamalkan, walaupun haditsnya Ahad dalam masalah Aqidah dan yg lainnya.

3) Sandaran dalam memahami al Kitab dan as Sunnah adalah Nash-nash dari Rosul yg menjelaskannya kemudian dari pemahaman para Shahabat -radhiyallahu ‘anhum- karena mereka adalah para muballigh dari Rosulullah.

4) Pemahaman para shahabat atas nash- nash, harus lebih didahulukan atas pemahaman selain mereka, karena para Shahabat Rosul adalah manusia yg paling bersemangat dalam usaha memahami al Kitab dan as Sunnah dan yg paling bersemangat untuk melaksanakannya. Oleh karena itu kita dapati pengamalan al Kitab dan As Sunnah dalam masalah Aqidah dan syariah yang paling baik adlah dimasa mereka.
5) Sandaran dalam memahami nash kitabullah dan sunnah Rosul jika tidak didapati dari Shahabat maka merujuk pada pemahaman para Tabi’in, karena mereka adalah para murid dari Shahabat, dan karena mereka berada dalam kurun yg utama dimana Rosulullah telah memberikan pujian terhadapnya.
6) Sesungguhnya ushuluddin (pokok2 agama) semuanya telah dijelaskan oleh Rosulullah, dan tidak boleh seorangpun membuat-buat sesuatu yang baru dan menganggapnya merupakan bagian dari agama.
7) Wajib untuk taslim (tunduk) kepada Allah dan RosulNya secara dhohir maupun batin. Maka tidak boleh menentang kitabullah dan sunnah RosulNya yg shahih dengan Qiyas, perasaan, ma’rifat atau perkataan syaikh atau imam.
8) Sesungguhnya akal yang sehat akan selalu bersesuaian dengan nash yang shahih, dan keduanya tidak mungkin bertentangan selama-lamanya. Maka jika akal bertentangan dengan nash yg sharih (jelas) maka Nash didahulukan.
9) Wajib untuk berpegang pada lafadz-lafadz syar’i didalam masalah Aqidah dan menjauhi lafadz-lafadz bid’ah yg dibuat-buat oleh manusia. Dan lafadz-lafadz yg umum yg masih mengandung kemungkinan salah dan benar, maka harus dijelaskan maknanya sehingga apa-apa yg benar ditetapkan dengan lafadznya yg syar’i dan apa yg salah maka ditolak.
10) Sesungguhnya ‘ishmah (kema’shuman) itu hanya ada pada diri Rosul, dan umat Islam jika telah ber-ijma’ maka terpelihara dari bersepakat dalam kesalahan. Sedangkan umat Islam secara individu maka tidak terpelihara dari kesalahan. Maka setiap yg diperselisihkan oleh para ulama’ dan selain mereka, maka wajib dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah, dengan memberi udzur bagi yang keliru dari para mujtahid ummat ini.

Abu Salman Abdirrahman

Leave A Reply