Pijakan Pertama untuk Membantah Shufi

Sebagian  banyak taman-teman dari kalangan Muslimin  yang  tak suka  pada tasawwuf dan  penyelewangan-penyelewengannya,  mereka memulai  bantahannya terhadap  shufi dengan  pijakan  awal  yang salah.  Mereka mendebat shufi mengenai perkara-perkara  pinggiran dan  cabang-cabangnya,  seperti  bid’ahnya shufi  dalam  dzikir-dzikir, penamaan mereka dengan shufi, pengadaan perayaan-perayaan maulid  atau  bawaan tasbeh-tasbeh mereka,  atau  pakaian-pakaian mereka  yang tambal-tambalan dan semacamnya berupa  gejala-gejala aneh yang tampak.

Memulai  bantahan  dengan perkara-perkara sekitar  ini  adalah langkah  awal yang salah total. Walaupun perkara (yang  disandang shufi) ini semuanya adalah bid’ah yang menyelisihi syari’at,  dan mengada-adakan  kebohongan dalam agama, namun (memulai  bantahan dengan  perkara-perkara  cabang itu) menyamarkan hal  yang lebih penting  dan lebih besar. Artinya, cabang-cabang ini tidak  boleh untuk pijakan awal dalam mendebat shufi, dan meninggalkan hal-hal pokok.  Memang benar, (cabang-cabang bid’ah shufiyah)  itu  tadi adalah  dosa-dosa  dan penyelewengan-penyelewangan,  tetapi  ia adalah  kecil  sekali apabila dibanding dengan  dosa-dosa  besar, kebohongan-kebohongan,  kekafiran-kekafiran  yang dahsyat,   dan tujuan-tujuan hina dina yang berjalan dalam pemikiran shufi. Oleh karena  itu wajib bagi orang yang membantah shufi  untuk  memulai dengan hal-hal pokok, dan induk-induk, bukan dengan cabang-cabang dan sub-sub bentuk. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 49-50).

Barangkali  dengan Anda telah membaca perbedaan  pokok  antara Al-Islam  dan tasawwuf, Anda telah tahu apa yang seyogyanya  Anda mulai dalam berdebat, yaitu tentang manhaj talaqqi (pola  pengam­bilan  –pemahaman) dan penetapan agama. Yaitu isi  dari  jawaban pertanyaan: Bagaimana kita mengambil (sumber) agama? Dan bagaima­na  kita menetapkan aqidah dan ibadah, dan apa itu  sumber-sumber pemahamannya?

Islam  menjadikan sumber pemahaman terbatas pada Al-Quran  dan As-Sunnah saja. Dan tidak boleh menetapkan aqidah kecuali  dengan nash/ teks dari Al-Quran dan perkataan Rasul. Dan tidak ada pene­tapan syari’at kecuali dengan kitab dan Sunnah, dan ijtihad  yang sesuai  dengan keduanya. Ijtihad itu benar dan salah, tidak  ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Al-Quran dan Sunnah RasulNya saja.

Adapun  tasawwuf,  maka agama   mereka  (didapatkan)  melalui klaim syeikh-syeikh, bahwa mereka mengambilnya dari Allah  secara langsung,  tanpa perantaraan, dan dari Rasul yang  mereka  klaim bahwa  Rasul  selalu datang ke majlis-majlis,  dan  tempat-tempat dzikir mereka.  Juga  dari malaikat,  dari jin yang mereka  nama­kan dengan badan halus (ruhaniyyin), dan dengan kasyf yang mereka klaim  bahwa keghaiban-keghaiban tersingkap oleh hati wali,  maka wali itu melihat apa-apa yang di langit-langit dan bumi, dan hal-hal yang telah lalu serta yang akan datang. Maka wali bagi mereka tidak  ada  sebijipun  apa-apa yang di langit dan  di  bumi  yang terlewat dari ilmu wali.

Oleh karena itu, jadikanlah pertanyaan pertama kepada shufi:

Bagaimana  kalian menetapkan agama itu? Dan dari  mana  kalian mengambil sumber aqidah kalian?

Apabila shufi menjawab padamu: “Dari Al-Quran dan  As-Sunnah,” maka katakanlah padanya: Al-Quran dan As-Sunnah menyaksikan bahwa iblis itu kafir, dia dan pengikut-pengikutnya akan dimasukkan  ke dalam neraka, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan:

“Dan berkatalah syetan, tatkala perkara (hisab) telah  disele­saikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar,  dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi  aku  menya­lahinya.  Sekali-kali  tidak  ada  kekuasaan  bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku.  Oleh  sebab  itu janganlah kamu mencerca  aku,  akan  tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat  menolongmu, dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya  aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan  Allah) sejak dahulu.”  Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu  mendapat siksaan yang pedih.” (QS Ibrahim/ 14:22).

Syetan di sini adalah iblis menurut ijma’ para mufassir  salaf (tiga  generasi  awal: shahabat, tabi’in, dan  tabi’it  tabi’in). Arti wamaa antum bimushrikhi adalah kamu tidak dapat membebaskanku dan menyelamatkanku. Itu artinya iblis adalah bersama  mereka di  neraka. Maka apakah kalian yakin wahai orang-orang tasawwuf/shufi yang demikian itu?

Kalau  orang shufi mengatakan padamu, “Ya, kami percaya  bahwa iblis  dan pengikut-pengikutnya itu di dalam neraka,”  maka  dia (shufi)  telah  berbohong padamu. Dan kalau  ia  berkata  padamu, “Kami tidak percaya bahwa iblis di neraka, dan kami percaya bahwa iblis  tobat dari apa yang telah lalu darinya, atau iblis  adalah hamba yang meng-esakan Tuhan (muwahhid) lagi mu’min seperti  kata guru mereka Al-Hallaj”; maka katakanlah padanya (shufi):  Sungguh kalian  telah kafir karena kalian telah menyelisihi Al-Quran  dan Hadits-hadits  Rasul  dan ijma’ ummat bahwa iblis itu  kafir  dan termasuk  penghuni neraka (ahlin naar). Maka katakanlah  padanya: Syeikh  akbar kamu, Ibnu Arabi, telah menghukumi bahwa Iblis  di dalam  surga, dan Fir’aun juga di surga (seperti dalam  kitabnya, Fushushul Hukm).  Dan guru besarmu, Al-Hallaj, bahwa  iblis  itu adalah  penuntunnya, sedang syeikhnya  adalah  Fir’aun,  seperti tercantum dalam kitab At-Thawwasin halaman 52. Lalu apa yang kamu katakan dalam hal itu (wahai orang shufi)?

Apabila ia (orang shufi) mengingkarinya maka dia adalah  orang  pembesar  yang ngeyel (ngotot), atau jahil  (orang  bodoh)  yang tidak  tahu. Sedangkan kalau dia mengakui yang demikian dan  men­gikuti  Al-Hallaj  dan Ibnu Arabi maka sungguh dia  telah  kafir seperti  mereka kafir, dan jadilah ia termasuk teman-teman  Iblis dan  Fir’aun, cukuplah yang demikian itu sebagai teman  di  dalam neraka. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 51-52).

Dan  apabila  ia  ingin menipumu  dan  berkata:  “Sesungguhnya perkataan  mereka ini adalah dalam keadaan syathah (mengeluarkan kata-kata  aneh dalam keadaan tidak sadar)” yang  mereka  katakan bahwa  itu dikuasai keadaan dan mabuk, maka katakanlah  padanya: Bohong  kamu.  Karena perkataan ini ada  dalam  kitab-kitab yang dikarang, dan Ibnu Arabi telah mengeluarkan kitab Fushushul  Hukm dengan ucapannya:  “Sesungguhnya aku  telah  melihat  Rasulullah dalam  mimpi di Mahrusah Damsik dan beliau memberiku  kitab  ini, dan  beliau  bersabda padaku, ‘keluarlah  dengannya  (kitab  ini) kepada para manusia’.”

Padahal kitab ini lah yang menyebutkan bahwa Iblis dan Fir’aun itu termasuk orang-orang yang arif lagi selamat, dan Fir’aun  itu lebih  tahu tentang Allah daripada Musa. Dan bahwa  setiap  orang yang  menyembah  sesuatu (apapun) maka dia  itu  tidak  menyembah kecuali (menyembah) Allah.

Al-Hallaj   pun   demikian,  ia  menulis   segala   kekafiran-kekafirannya  dalam kitabnya,  sedang dia  tidak  dalam  keadaan syathah (mengeluarkan kata-kata aneh dalam keadaan tidak  sadar) atau dikuasai keadaan seperti yang mereka katakan.

Apabila orang shufi mengatakan padamu: “Mereka itu telah berbi­cara dengan bahasa yang kita tidak tahu,” maka katakalah pada  si shufi itu: Sungguh mereka telah menulis pembicaraan mereka dengan Bahasa Arab dan disyarahkan (dijelaskan) oleh murid-murid  mereka dan telah mereka tulis/ uraiakan hal itu.

Apabila  si shufi mengatakan, “Sesungguhnya ini adalah  bahasa khusus  untuk  ahli tasawwuf yang tidak  diketahui  oleh  selain mereka,” maka katakanlah padanya (si shufi): Sesungguhnya  bahasa mereka  ini adalah Bahasa Arab, dan mereka  telah menyebarkannya kepada  para manusia dan tidak menjadikannya khusus bagi mereka, sedangkan  para Ulama Muslimin telah menghukumi Al-Hallaj  dengan kafir, dan dia disalib di atas jembatan Baghdad tahun 309H dengan sebab makalahnya. Dan demikian pula Ulama Muslimin telah  menghu­kumi kafir dan zindiq terhadap Ibnu Arabi.

Apabila si shufi mengatakan padamu: “Saya tidak mengakui peng­hukuman  Ulama Syari’at karena mereka itu ulama lahir yang  tidak tahu  hakekat,” maka jawablah padanya (si Shufi): Yang lahir  ini adalah  (sesuai  dengan) Al-Quran dan As-Sunnah/  Al-Hadits,  dan setiap hakekat yang berbeda dengan yang lahir ini maka dia batil. Dan apakah hakekat yang mereka dakawakan itu?

Kalau si shufi mengatakan padamu, “Hakekat yaitu sesuatu  dari rahasia-rahasia yang  tidak disebarkan dan tidak  kita  dengar”; maka katakanlah: Sungguh kalian telah menyebarkannya dan  memper­dengarkannya, yaitu bahwa setiap yang wujud menurut klaim  kalian adalah  Allah,  sedang surga dan neraka itu sama, dan  Iblis dan Muhammad  itu sama, dan Allah adalah makhluk dan  makhluk  adalah Allah, seperti kata Imammu dan Syeikh Akbarmu:

Al-‘abdu robbun wa robbu ‘abdun

ya laita syi’ri manil mukallaf?

In qultu ‘abdun fadzaka robbun

wa in qultu robbun an yukallaf?

(Hamba itu Tuhan dan Tuhan itu hamba

Aduhai siapakah yang dibebani hukum?

Apabila aku katakan hamba maka itu adalah Tuhan

Dan apabila aku katakan Tuhan maka akan dibebani hukum?).

Apabila  si  shufi mengakui yang demikian  itu  dan  mengikuti mereka yang zindiq-zindiq itu maka dia kafir seperti mereka.  Dan apabila  si shufi berkata: “Saya tidak tahu tentang perkatan  ini dan  tidak  mengerti tetapi aku  mempercayai keimanan  pengucap-pengucapnya, kebersihan mereka, dan kewalian mereka”; maka  katakanlah pada si shufi itu: Sesungguhnya ungkapan ini adalah ungka­pan berbahasa Arab yang jelas, tidak ada samar padanya.  Dan ia mengkhabarkan tentang aqidah yang dikenal yaitu wihdatul wujud, yakni  kepercayaan Hindu dan zindiq yang kalian nukil/pindahkan ke  Islam dan kalian campuradukkannya dengan  ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi Saw.

Lalu apabila si shufi mengatakan padamu: “Jangan kamu  menentang para wali sehingga mereka tidak menyakitimu, karena Rasulul­lah Saw bersabda, telah berfirman  Allah  Ta’ala:

“Barangsiapa memusuhi  seorang wali maka sungguh Aku izinkan dia  untuk  dipe­rangi”;  maka  katakanlah pada si shufi: Mereka itu  bukan wali, tetapi  mereka hanyalah orang-orang zindiq yang  berkedok  Islam. Dan  saya mengingkari kalian dan tuhan-tuhan kalian, “sebab  itu jalankanlah  tipu dayamu semuanya terhadapku dan  janganlah  kamu memberi  tangguh  kepadaku. Sesungguhnya aku  bertawakkal  kepada Allah  Tuhanku  dan Tuhanmu. Tidak ada suatu  binatang  melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya, sesungguhnya Tuhanku (ada) di atas jalan yang lurus. (lihat QS Hud/ 11:55-56).

Apabila si shufi mengatakan padamu: “Wajib atas kita menyerah­kan  kepada orang-orang shufi keadaan mereka. Karena  mereka  me­nyaksikan  hakekat dan mengetahui batin agama!!” maka  katakanlah pada  si shufi:  Bohong kamu. Kita tidak boleh  bungkam  terhadap seseorang tentang ucapan yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah, dan menyebarkan kekafiran dan kezindiqan di antara kaum Muslimin, karena Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang  yang menyembunyikan apa  yang  telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang  jelas) dan petunjuk,  setelah Kami menerangkannya kepada manusia  dalam  Al-Kitab, mereka itu dila’nat Allah dan dila’nati (pula) oleh  semua (makhluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah  taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terha­dap  mereka  itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah  yang  Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (LIhat QS Al-Baqarah:  159-160).

Oleh karena itu tidak boleh bungkam terhadap kebatilan  kalian dan  barang murahan  serta zindiq kalian,  karena  kalian  telah merusak Dunia Islam, baik dulu maupun sekarang, dan kondisimu itu masih  berlangsung sampai hari ini, kalian mengeluarkan  manusia dari  ibadah kepada Allah ke ibadah pada syaikh-syaikh, dan  dari tauhid  ke  syirik dan penyembahan kuburan, dan  dari  sunnah  ke bid’ah. Juga mengeluarkan manusia dari pemahaman Al-Quran dan As-Sunnah  ke pemahaman bid’ah, khurafat, dan takhayul  dari  orang-orang yang mengaku-aku melihat Allah, malaikat, Rasul, dan surga. Kalian  orang-orang shufi selam hidup telah membantu  gerombolan-gerombolan  kebatinan, dan mengabdi kepada penjajah. Oleh  karena itu  sama sekali tidak boleh bungkam terhadap  kesesatan kalian, kesyirikan  kalian, dan upaya pengalihan kalian terhadap  manusia dari Al-Quranul Karim ke dzikir-dzikir bid’ah kalian dan  ibadah-ibadah  yang  tidak  lebih dari tepuk  tangan  dan  siulan-siulan seperti ibadah musyrikin. (Fadhoihus Shufiyyah, halaman 55).

Tasawuf Belitan Iblis; H. Hatono Ahmad Jaiz; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

Comments are closed.