Pertanyaan Seputar Sutrah

0

 

 
Pertanyaan; Banyak saudara-saudara kita yang sangat ketat dalam masalah sutrah (pembatas shalat), sampai mereka menunggu adanya sutrah jika tidak terdapat tiang lowong (dari orang yang shalat) yang terdapat dalam masjid, mereka juga menyalahkan orang-orang yang shalat tanpa sutrah, sementara sebagian yang lainnya menganggap remeh perkara ini. Manakah yang benar dlaam masalah ini, apakah garis dapat dijadikan sutrah jika tidak terdapat yang lain? Adakah dalilnya?

Jawaban; Sutrah dalam shalat merupakan sunnah mu’akkadah dan bukan kewajiban dan jika tidak terdapat sesuatu yang tegak, maka garis dapat menjadi penggantinya. Dalil dari apa kami ucapkan adalah hadits Rasulallah saw: “Jika salah seorang diantara kalian shalat, maka hendaklah ia shalat dengan sutrah dan mendekat kepadanya”. (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih).
Dan terdapat juga riwayat dari Rasulallah saw: “Jika dihadapan seseorang tidak terdapat sejenis ujung pelana (sebagai sutrah), maka shalatnya akan terputus oleh: wanita, keledai dan anjing hitam”. (HR. Muslim dalam shahihnya).
Juga hadits Rasulallah saw: “Jika salah seorang diantara kalian shalat, maka hendaklah menjadikan sesuatu berada dihadapannya, jika tidak ada maka tancapkanlah tongkat, jika tidak ada maka buatlah garis, kemudian setelah itu tidak akan mengurangi (shalatnya) jika ada yang lewat didepannya”. (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).
Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Bulughul Maram; Terdapat riwayat dari Rasulallah saw bahwa beliau shalat kadang-kadang tidak menggunakan sutrah, maka hal tersebut menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah merupakan  kewajiban. Dikecualikan dalam masalah ini jika shalat di Masjidil Haram, maka bagi yang shalat tidak perlu menggunakan sutrah, sebagaimana riwayat Ibnu Zubair ra, bahwa dia shalat di Masjidil Haram tanpa menggunakan sutrah, sedangkan orang-orang thawaf berada didepannya, begitu juga terdapat riwayat yang disandarkan kepada Rasulallah saw yang menunjukkan hal tersebut akan tetapi dengan sanad yang lemah.
Alasan lainnya adalah karena Masjidil Haram merupakan tempat yang selalu penuh sesak dan tidak mungkin menghindari lalu lalangnya orang di depan orang shalat. Maka gugurlah syari’at sutrah sebagaimana yang telah disebutkan, hal serupa juga berlaku bagi Masjid Nabawi pada saat penuh sesak. Demikian juga tempat yang lainnya jika penuh sesak berdasarkan firman Allah ta’ala:  “maka bertakwalah kalian semampu kalian”.Qs. At Taghabun:16). Juga berdasarkan hadits Rasulallah saw: “Jika aku memerintahkan kalian, maka lakukanlah semampu kalian”. (mutafaq alaihi)

 

Leave A Reply