Permulaan Perang Antara Raja-Raja Mataram dan Surabaya Untuk Mendapatkan Hegemoni Di Jawa Timur

0

Segera sesudah Panembahan Senapati Mataram dapat menganggap dirinya pengganti sah raja Pajang pada tahun 1588 atau 1589, ia berusaha agar kekuasaannya diakui oleh raja-raja Jawa Timur yang pada tahun 1581 – di keraton Sunan Prapen di Giri – telah mengakui raja Pajang sebagai sultan. Panembahan Senapati bersama pasukan yang besar sekali bergerak ke timur; raja-raja di Pati, Demak, dan Grobogan – atas anjuran paman dan penasihat Senapati, Mandaraka – juga menuju Surabaya untuk memberikan bantuan. Tetapi di daerah Japan (Mojokerto yang sekarang) mereka dihadapi oleh pasukan raja-raja Jawa Timur yang besar sekali jumlahnya di bawah pimpinan raja Surabaya. Pertempuran yang hampir meledak masih dapat dicegah oleh perutusan Sunan Giri, yang mendesak Panembahan Senapati dan raja Surabaya untuk menentukan nasib sendiri dengan mengadakan pilihan antara “kulit” dan “isi”. Sesudah memilih, kedua raja tersebut berpisah tanpa bertempur.

 Apapun pendapat orang tentang cerita ini, yang sudah pasti ialah bahwa Panembahan Senapati Mataram tidak mendapat pengakuan yang diharapkan dari pihak para penguasa di Jawa Timur sebagai maharaja atau sultan, sebagai pengganti raja Demak dan raja Pajang. Sesudah usahanya untuk berkuasa di Jawa Timur lewat saluran diplomatik ternyata gagal, pada dasawarsa terakhir abad ke-16 Senapati berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan yang berbatasan dengan daerahnya di sebelah timur. Usaha itu hanya sebagian berhasil.

Menurut cerita babad dari abad ke-17, Panembahan Senapati Mataram pada tahun 1589 atau 1590 telah terlibat (atau terpancing) dalam perselisihan dengan raja Surabaya mengenai daerah Warung (di Blora yang sekarang), yang terletak di perbatasan kedua daerah berpengaruh itu. Akhirnya Senapati memaksa penguasa setempat.di Warung mengakui kekuasaan tertinggi Mataram.

Insiden itu menjadi alasan bagi raja Madiun untuk memperlihatkan secara terang-terangan ikatannya dengan raja-raja Jawa Timur. Sebagai keturunan keluarga raja Demak, panembahan Madiun dengan rela mengakui kekuasaan tertinggi Sultan Pajang; tetapi sikapnya terhadap raja Mataram yang baru itu menjadi negatif ketika nafsu berkuasa raja muda itu terlihat jelas.

Usaha Panembahan Senapati untuk menguasai Kerajaan Madiun diuraikan panjang lebar dalam buku-buku sejarah di Mataram. Ternyata, direbutnya Madiun itu dianggap sebagai sukses besar pertama kebijaksanaan politik agresif raja merdeka pertama dinasti Mataram itu. Kemenangan Senapati ini juga dianggap sebagai keberhasilannya memiliki baju “keramat” Kiai Gundil atau Kiai Antakusuma, yang telah diterimanya langsung dari Yang Mulia Kadilangu, Sunan Kalijaga, penguasa pertama di Kadilangu, konon membawa baju “keramat” itu dari Masjid Demak; dan sejak pertempuran di Madiun, baju itu menjadi salah satu pusaka bagi keluarga raja Mataram.

Pertempuran merebut Madiun, kira-kira pada tahun 1590, berakhir dengan mundurnya panembahan Madiun ke Wirasaba, daerah aman di tengah-tengah Jawa Timur. Pertempuran itu juga berakhir karena kawin paksa romantis antara Senapati dan putri Madiun, Retna Dumilah, yang ditinggalkan di istana. Dengan perkawinan itu keluarga raja Mataram yang masih muda itu berasal dari keluarga sederhana untuk pertarna kali terikat hubungan keluarga dengan salah satu.keluarga raja yang tua di Jawa.

Tindakan kekerasan Senapati di Madiun menyebabkan perpecahan antara dia dan iparnya, Raja Pragola di Pati, anak Ki Panjawi yang dahulu menjadi kawan seperjuangan ayah Senapati, Ki Pamanahan. Menurut cerita tutur Mataram, raja Pati pada tahun 1600 – waktu nafsu berkuasa Mataram agaknya terasa berbahaya bagi dirinya – melakukan ekspedisi bersenjata ke pedalaman untuk menghentikan nafsu imperialisme iparnya. Namun, dekat Prambanan, di perbatasan timur daerah pusat Mataram, ia dipaksa kembali ke kerajaannya di pantai utara dengan tangan hampa.

Tidak lama sesudah Panembahan Senapati merebut daerah Madiun, ia terpaksa berperang melawan penguasa di Kaniten, yang menganggap dirinya bawahan raja di Pasuruan. Kaniten terletak di wilayah Magetan sekarang. Ternyata, raja-raja di Surabaya dan Pasuruan yang sangat berkuasa dan berhubuegan keluarga itu masih tetap diakui kekuasaannya sampai jauh di pedalaman Jawa Timur. Menurut cerita tutur Mataram, sesudah dikalahkan oleh Senapati, penguasa Kaniten ini lari ke Pasuruan. Sampai di sana ia dibunuh atas perintah raja sebagai hukuman atas tindakan pengecutnya. Cerita itu dalam cerita-cerita babad dikisahkan dengan banyak dibumbui, sebagai salah satu kemenangan besar Senapati.

Dikutip dari; Kerajaan Islam Jawa; DR. HJ. DE GRAAF; Grafiti Pers.

 

Leave A Reply