Permaisuri Yang Pemaaf

0

 

 
Suatu ketika, pada masa pemerintahan khalifah Al-Mahdi, seorang gadis dengan penampilan yang menyedihkan mengetuk pintu keputren[1]. Sang permaisuri memberi ijin wanita malang itu untuk bertemu dengannya.

Setelah memberi salam hormat kepada permaisuri, wanita asing itu berkata, “Aku adalah putri khalifah terakhir Bani Umayyah dan aku datang kepadamu…”
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, sang permaisuri berubah seketika raut mukanya dan menukas dengan geram, “Begitu cepatkah engkau melupakan perlakuan kejam yang engkau dan keluargamu lakukan kepada wanita-wanita keluarga kami saat kalian masih berkuasa?”
Wanita asing itu dengan tenang mendengarkan umpatan permaisuri. Dengan senyum pahit ia menjawab, “Aku dulu juga pernah Berjaya seperti kalian sekarang ini, namun Allah telah menghinakan keangkuhanku dan aku kini seperti yang engkau lihat. Apakah engkau menginginkan nasib yang sama seperti diriku dengan mengulang kesalahan yang pernah kami lakukan?”
Selesai berkata demikian wanita itu ngeloyor[2]pergi. Sang permaisuri terdiam sejenak merenungi ucapan terakhir wanita itu. Sesaat kemudian dia tersadar dari renungannya, lalu berlari mengejar wanita malang itu dan hendak memeluknya. Tetapi si wanita asing menolak seraya berkata, “Aku orang melarat dan sengsara. Pakaianku compang-camping. Aku tidak berhak memeluk orang berkedudukan tinggi seperti engkau.”
Sang permaisuri memanggil dayang[3]istana, “Mandikan dia dengan air kembang, beri pakaian yang bagus, siapkan meja makan dan hidangkan makanan-makanan terlezat untuk santap malam!”
Perintah permaisuri segera dilaksanakan. Sang permaisuri duduk dengan wanita asing itu dan mereka makan satu piring berdua tak ubahnya seperti kakak beradik.
Sumber:
1.      Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.
2.      KBBI, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

 


[1]Bagian istana tempat tinggal para putri bangsawan/raja. (KBBI hal. 693).
[2]Pergi tanpa pamit. (KBBI hal. 675)
[3]Gadis pelayan di istana. (KBBI hal. 327)

 

Leave A Reply