PERHATIKAN SIAPA KEKASIHMU

0
PERHATIKAN SIAPA KEKASIHMU
Oleh : Heri Rusydi
Dimasa jauhnya manusia dari ilmu dan din Allah swt, maka wujud kehidupan pada hakekatnya telah menjadi wujud kematian bagi fithrah manusia. Manusia memperturutkan hawa nafsunya dan berjalan menapaki jalan kebodohan. Kalau kita perhatikan, lini kehidupan mana yang tidak larut ke dalam fitnah syubhat dan syahwat? Semuanya bergelimang dalam penyakit ini, kecuali sedikit sekali orang yang mendapat rahmat Allah Ta’ala. Apa yang kita saksikan dari isi televisi? Seabrek program yang mengumbar aurat wanita. Bahkan iklan yang lewat beberapa detik saja tak pernah libur dari mengusung aurat wanita. Apa yang kita lihat di kanan kiri jalan mana kala kita bepergian? Reklame-reklame yang menjajakan aurat wanita. Apa yang kita lihat saat naik kendaraan umum ? Kita akan selalu melihat wanita yang pamer aurat. Kini wanita telah menjadi lambang fitnah syahawat.  Di barat dan di timur. Seperti inilah perjalanan pendidikan yang sedang di tempuh anak-anak kita. Maka jangan heran negeri ini akan dikelola oleh generasi pengikut syahwat.

Kemudian kita bertanya, Di manakah para duatnya? Banyak mereka yang terlelap dalam gelimang syubhat. Apa isi acara kajian agama yang ada di televisi? Sekedar entertainment yang meninabobokkan umat. Apa pekerjaan menteri agama? Mengesahkan  agama batil Konghucu dan memberikan perlindungan hukum serta menjamin keamananya. Apa yang telah dikerjakan pemuka-pemuka agama di kampung-kampung, tetapi bid’ah masih tetap saja marak tumbuh dan berkembang bahkan menyatu dalam dada manusia yang sulit dicabut dari akar-akarnya. Barzanji telah dianggap ibadah yang utama. Ajaran-ajaran Hindu yang dianggap bagian dari Syariat Islam dan harus dilestarikan.
Belum lagi kawula muda yang duduk di kampus yang getol memeluk paham-paham kekafiran yang dieksport dari Barat. Eskport yang  tak perlu membayar bea cukai dan mengurus perizinan. Bahkan pintunya di buka lebar-lebar serta menerima banyak kucuran dana. Barang-barang eksport itu tidak perlu dipromosikan, sudah banyak diburu oleh banyak manusia yang mereka itu “wa qulubuhum hawa”. Hatinya kosong dari keimanan dan ketundukkan kepada Allah Ta’ala.  
Paham kekafiran yang elok rupanya, karena dikemas dengan keilmiahan. Lahir dari riset dan penelitian dan berjalan mengiringi kemajuan zaman (teknologi dan ilmu pengetahuan). Para pedagangnya menyandang gelar ilmiah yang memukau dan menyilaukan hati yang kosong tersebut. Seperti udara yang akan mengalir ke tempat yang vakum bila pintunya telah terbuka, maka akan mengalir dengan cepat. Seperti itulah masyarakat Indonesia ini, begitu cepat menerima syubhat tersebut yang merupakan warisan dari penjajah. Kini sudah tiada “penjajahan” lagi. Kenapa? Karena yang dijajah telah mengikuti kemauan penjajah, sehingga penjajah tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memaksanya agar menggikuti kemauannya. Pemimpin negeri kita ini benar-benar lebih memperbudak dirinya dari pada budak yang sebenarnya.
Peran din telah menjadi barang permainan dan urusan yang tidak serius. Cukup dimodifikasi agar sesuai dengan perut.  Allah swt mengatakan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman jangan kamu menjadikan wali kalian orang-orang yang menjadikan agama kalian sebagai ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir. Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu itu orang-orang yang beriman. (al Maidah 57)
Pemimpin negeri ini telah menjadikan agama sebagai barang permainan saja. Diambil bila menguntungkan dan ditinggalkan bila tidak memuaskan perut. Disingkirkan dan dibuang bila mendatangkan kemarahan tuannya. Inilah bukti bahwa mereka telah mengangkat orang-orang ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani) sebagi wali, sahabat setia dan penolong. Akhirnya, apa yang diperbuat oleh sang kekasih mereka perbuat juga. Pasalnya cinta itu tumbuh karena adanya persamaan. Semakin banyak persamaan maka cinta akan semakin tumbuh dengan subur. Maka bertemulah secara batin penjajah dari negeri sendiri dengan penjajah asing, sebelum bertemu secara lahir.
Penjajah dari luar tidak bisa masuk ke negeri kita sebelum mendapat izin dari penjajah dari negeri sendiri . Justru merekalah yang mengundangya untuk masuk serta membantunya. Seperti wanita yang memamerkan aurat, yang secara nonverbal mengajak orang yang melihatnya untuk berbuat serong denganya. Mengizinkan orang untuk merenggut kehormatannya. Begitu juga pemimpin negeri ini telah mempersilahkan orang asing untuk merenggut kekayaannya. Seperti itulah mereka hidup berkutat dari kubangan syahwat ke syahwat. Mereka telah belajar dari tuannya yang sangat disegani : Yahudi dan Nasrani. Semuanya hidup tanpa izzah. Tapi kehinaan itu di mata banyak orang adalah kemajuan hidup dan peradaban. Mengapa demikian ? Karena telah berhias dengan glamournya dunia, kemewahan hidup dan kesenangan duniawi. Maka tidak ada bahasa yang bisa dipahami kecuali bahasa syahwat.
   صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُون
“ Mereka tuli, bisu dan buta maka mereka tidak memahami”. al Baqarah 171
            
Sedangkan masyarakat kita ini tumbuh di dalam dadanya ketidak- “pecaya diri” dengan dinnya sendiri. Semua gaya kehidupan harus mengekor orang-orang kafir, berpakaian, bertingkah laku dan berperasaan. Ini terjadi di pasar dan masjid, di sepanjang jalan-jalan kota sampai ke gang-gang kecil di pelosok kampung, sampai ke bilik kecil rumah orang desa.  Apa itu ? Televisi.  Ya, televisilah yang telah ‘memdidik’ putra-putri mereka.
Sudah hilang rasa benci dengan kekafiran dan orang-orangnya. Atau telah terlupakan.? Malah mereka telah menjadi penuntun dan kiblat kehidupan. Padahal sejatinya, merekalah orang yang telah mengolok-olok din kita dan mempermainkannya. Maka,
 وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan bertaqwalah kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman”.
Dan tinggalkanlah mereka jangan kalian ambil sebagai wali, jika kalian mengaku beriman. Siapa yang mengambil mereka menjadi wali maka dia akan mengikuti mereka dalam menjadikan din hanya sekedar sebagai bahan permainan.  (Herry Rusdy / Ma’had Aly Annur )

Leave A Reply