Perdagangan, Ekonomi, dan Kehidupan Masyarakat Dalam Kerajaan Majapahit Pada Abad Ke-15

0

 

Berbagai penelitian Schrieke, Van Leur, dan Metlink-Roelofsz yang telah dipublikasikan sejak tahun 1925 telah mengungkapkan keadaan waktu Islam berkembang di Kepulauan Indonesia pada abad ke-15. Masuk akal juga bahwa pedagang dan pelaut Islam telah menggantikan kedudukan orang-orang bukan Islam, yang telah mendahului mereka sebagai pedagang dan yang menjadi saingan mereka dalam menguasai jalan laut yang berabad-abad umurnya, yaitu jalan yang menyusur pantai Sumatera dan Jawa menuju ke kepulauan rempah-rempah di Maluku. Banyak berita dalam tulisan berbahasa Cina dan Arab mengenai pelayaran perdagangan yang sudah lama menarik perhatian orang itu.

Bandar-bandar sepanjang pantai utara Jawa itu pertama-tama merupakan pangkalan; di situ pelaut-pelaut tersebut membeli bekal (tegasnya: beras) dan air untuk perjalanan yang berminggu-minggu atau berbulan-bulan dengan menggunakan perahu-perahu layar. Melimpahnya persediaan beras, hasil tanah aluvium dari pesisir, dan kesuburannya membuat bandar-bandar di Jawa tersebut menjadi sangat menarik.
Kemakmuran bandar-bandar itu bergantung pada persediaan beras yang dapat meteka tawarkan. Kaum bangsawan setempat dan pegawai-pegawai keraton yang berwenang mengurusi penyerahan beras para petani di tanah pedalaman merupakan kelompok “bapak” yang harus dihubungi para pedagang Seberang untuk menyelesaikan urusan.
Kedua, sehubungan dengan penyediaan bahan makanan, bandar-bandar Jawa ternyata telah menjadi tempat penimbunan perdagangan rempah-rempah. Di tempat-tempat tersebut barang dagangan sangat laku dikumpulkan untuk ditawarkan kepada pedagang-pedagang seberang lautan apabila mereka datang dengan perahu layar bertepatan dengan angin musim yang sesuai. Perdagangan tersebut dilakukan oieh pedagang-pedagang yang menetap di tempat-tempat itu. Dalam banyak hal pedagang-pedagang itu – karena hubungan lama – mempunyai hubungan baik dengan pelaut-pelaut tersebut (atau dengan majikan mereka di Seberang); atau mereka sendiri keturunan orang tanah seberang. Mereka membentuk golongan pedagang yang berada, dan sering mengadakan kawin campur. Hubungan perkawinan keluarga pedagang dengan kaum bangsawan daerah, pegawai-pegawai raja (sering kali abdi raja, para kawula), atau bahkan dengan anggota keluarga raja, kadang-kadang terjadi sebelum zaman Islam, tetapi atas dasar kedudukan yang tidak sepadan. Di semua kelompok sosial dalam masyarakat di masa pra-Islam kesadaran kebangsawanan terlalu kuat, sehingga suatu perkawinan dengan pihak yang termasuk golongan lain (bukan bangsawan) tidak dapat dianggap bernilai sepenuhnya. Di istana keluarga kaum terpandang, asal keturunan para wanita merupakan soal yang teramat penting.
Ketiga, bandar-bandar taut sepanjang pantai utara Jawa juga menjadi tempat kedudukan pengusaha perkapalan dan para pemilik kapal (bahkan juga pembuat kapal), yang menyediakan kapal-kapal laut untuk perdagangan dengan daerah seberang lautan. Ini semua memerlukan modal yang sangat besar. Mungkin sekali sering diperlukan kerja sama antara pedagang-pedagang yang bermodal kuat dari golongan masyarakat dagang guna menyelenggarakan usaha sebesar itu. Keikut-sertaan kaum bangsawan dan pegawai-pegawai raja dari kalangan pemerintah setempat dirasa perlu, karena nakoda kapal akan mendapat limpahan kekuasaan dari kerja sama tersebut, sehingga dapat melakukan kekerasan di rantau jika dianggap perlu. Di bandar-bandar dengan pengusaha kuat, bila perlu nakoda dapat minta dibuatkan kapal-kapal (atas biaya masyarakat setempat) dan juga diperlengkapi dengan logistik perang untuk melawan musuh atau saingan di Seberang (pelayaran perompak).
Pimpinan kapal-kapal yang dipersiapkan di bandar-bandar Jawa terdiri dari anggota-anggota kelas pedagang. Tidak jarang nakoda kapal sendiri sepenuhnya merupakan pemilik kapal beserta muatannya; setidaknya menguasai sebagian besar “sahamnya”. Kadang-kadang yang memegang pimpinan adalah seorang bangsawan. Awak kapalnya diambit dari abdi-abdi (yang tidak terikat pada) tuan-tuan besar itu. Orang-orang luar, pedagang-pedagang kecil dan orang-orang asing, kadang-kadang mendapat izin juga untuk ikut berlayar dengan syarat tertentu. Di antara para penumpang kapal itu sering terdapat orang dari berbagai tempat asal, dengan bahasa yang berbeda-beda yang sebagian hidupnya mengembara dari bandar satu ke bandar yang lain, menyusuri pantai-pantai Asia Tenggara, Kepulauan Indonesia, dan India.
Keadaan serupa ini sudah berlangsung dalam perdagangan dan pelayaran Asia Tenggara sejak zaman dahulu. Sedikit sekali alasan untuk menduga bahwa agama Islam dengan cepat mengadakan perubahan-perubahan besar.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply