Perbedaan-perbedaan Demografis Antara Kerajaan-Kerajaan Pantai Utara Jawa dan Kerajaan Pedalaman Mataram

0

Mengenai sejarah politik, kerohanian, dan perkembangan ekonomi tanah Jawa pada abad ke-16, setidak-tidaknya dapat kita peroleh kesimpulan yang agak jelas dari keterangan yang dapat dikumpulkan. Namun tidak demikian halnya soal kependudukan. Namun, perlu juga soal itu mendapat perhatian.. Mungkin juga, peperangan pada abad-abad ke-16 dan ke-17 antara “wong Mataram” dari pedalaman dan kerajaan-kerajaan di pantai utara Jawa itu ada hubungannya dengan perbedaan demografis antara “orang Jawa pedalaman” dan “orang Jawa pantai” yang banyak berdarah asing.

Sejarah perkembangan penduduk Pulau Jawa sekarang, yang terdiri dari berbagai suku dan golongan para pendatang dari seberang laut, sejak dahulu kala amat sedikit dikenal orang. Cerita tutur dalam sastra Jawa memuat sesuatu yang berhubungan dengan transmigrasi dan imigrasi penduduk di zaman kuno, tetapi cerita-cerita tersebut kabur sekali, sehingga sukar dijadikan pegangan. Sekalipun demikian, berguna juga dipelajari.[3] Sudah jelas bahwa pengaruh pendatang baru dari seberang laut terhadap susunan penduduk di Jawa pertama-tama terasa di daerah pantai. Oleh karena itu, sudah dari zaman dahulu ada perbedaan sifat antara “orang Jawa Pesisir” dan “orang Jawa pedalaman”.

Cerita tutur Jawa tentang golongan-golongan pendatang baru dari seberang laut, yang masuk sebelum zaman Islam, demikian kaburnya, sehingga tanah asal mereka hampir tidak dapat ditelusuri lagi. Sebaliknya, cerita-cerita Jawa tentang asal orang-orang yang telah menyebarkan agama Islam di daerah-daerah sepanjang pantai utara, sifatnya lebih jelas. Seperti yang telah dikemukakan pada permulaan tulisan ini mereka berasal dari pantai timur Asia Tenggara, dan sebagian ada yang mula-mula memakai nama Cina. Sebagai orang Islam, yang kelak dianggap sebagai orang suci dalam agama Islam, mereka menjadi tetap terkenal dalam cerita tutur dengan nama-nama Arab mereka.

Dari naskah-naskah Cina dapat diketahui bahwa jauh pada zaman kuno telah berlangsung hubungan perdagangan antara Cina dan Asia Tenggara. Berita-berita Cina telah menjadi sumber bagi sebagian besar penulisan sejarah politik Jawa dalam masa sebelum Islam, menurut rekonstruksi sarjana-sarjana Barat pada abad ke-19 dan ke-20. Dapat diperkirakan bahwa “utusan-utusan” dari keraton-keraton di Asia Tenggara, yang menurut naskah-naskah Cina hampir tiap tahun datang menghadap kaisar Cina di istana kekaisaran, umumnya orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang dulunya merupakan koloni-koloni dagang Cina. Mereka itu merupakan kawula yang setia terhadap raja-raja setempat dan mempunyai hubungan baik dengan keluarga raja. Pendatang-pendatang Cina yang berasal dari Cina Selatan sekarang ini rupanya cepat menjalin hubungan keluarga dengan keturunan-keturunan raja pribumi. Sulit diterima bahwa banyak wanita Cina pada zaman dahulu pindah ke Nusantara yang jauh ini.

Bahwa keturunan-keturunan raja terkemuka di daerah-daerah Pesisir mempunyai asal usul campuran tidak diabaikan oleh cerita sejarah; tetapi umumnya hal itu tidak banyak diperhatikan. Agama Islam – tidak hanya dalam teori tetapi juga dalam praktek – di Asia Tenggara bersikap agak acuh tidak acuh terhadap asal usul pelbagai suku bangsa berwarna. Lebih-lebih pada abad-abad ke-15 dan ke-16, ketika semangat keagamaan Islam masih muda dan kuat, pemakaian nama Arab (atau Jawa) sudah cukup (di samping pernyataan beralih agama dan, mengucap kalimat Syahadat) memberikan pengakuan kepada seorang penganut baru dan keturunannya sebagai anggota penuh “keluarga” Islam. Sebaliknya, mungkin pula – dan ini tidak jarang terjadi – penganut-penganut baru agama Islam itu untuk beberapa waktu masih tetap memakai nama “kafir” mereka (dalam hal ini nama Cina), karena telah dikenal dengan nama itu dalam lingkungan pedagang. Lama kelamaan, dan pada generasi yang berikut, nama-nama Cina itu lenyap.

Pertentangan antara keluarga-keluarga campuran Cina (atau India) di daerah-daerah pantai utara orang Jawa pedalaman dalam sejarah jarang dibicarakan. Tetapi yang pantas dikemukakan ialah tidak sedikitnya cerita-cerita Jawa – dari zaman peradaban Pesisir (abad ke-16 – ke-18) – yang menampilkan tokoh-tokoh keturunan Cina. Epos Islam yang tersebar luas tentang Menak Amir Hamzah, pendekar agama Islam yang gagah berani, memuat kisah tentang putri Cina, yang termasuk paling digemari di daerah-daerah Pesisir dan Jawa Timur.

Berdasarkan uraian di atas, kita boleh beranggapan bahwa pada abad ke-16 dan ke-17 empat macam ciri sering terdapat pada satu generasi, yaitu: asal usul campuran asing, hubungan-hubungan dagang dengan daerah-daerah seberang laut, kepemimpinan kelompok-kelompok Islam, dan keikutsertaan dalam peradaban Pesisir baru yang bercorak Islam. Cukup beralasan kalau anggota-anggota dari kalangan terkemuka dan yang telah beradab ini, seperti raja-raja di Demak, Tuban, Gresik, Surabaya, Cirebon, dan Banten, merasa dirinya jauh lebih tinggi daripada para penguasa daerah “pedalaman”. Namun sebaliknya, “wong Mataram” merasa benci dan iri terhadap tetangganya yang kaya di pantai utara itu. Pasukan-pasukan yang dikirim oleh raja-raja Mataram ke Pesisir dan Jawa Timur berperang atas dorongan nafsu tamak akan kekayaan. “Orang Jawa Pesisir” yang kaya tidak cukup mampu mempertahankan diri terhadap serangan-serangan saudara mereka dari pedalaman yang miskin itu.

Di samping besarnya semangat tempur yang ada pada “orang-orang pedalaman” dan kecilnya keberanian “orang-orang Jawa Pesisir”, perlu juga dipertimbangkan bahwa pada abad ke-16 dan ke-17 kesehatan penduduk pantai dirongrong oleh penyakit malaria yang endemis. Hal itu pada abad-abad berikutnya banyak merusakkan daya tahan rakyat. Karena bertambah ramainya lalu lintas, ada pula penyakit-penyakit lain yang berjangkit, khususnya di daerah-daerah pantai.

 Berita-berita jelas tentang keadaan kesehatan rakyat dalam naskah-naskah Jawa pada abad ke-16 lebih jarang daripada berita-berita tentang kependudukan. Memang ada beberapa berita, sehubungan dengan abad ke-17 dan ke-18, yang menyebut kerugian yang diderita rakyat karena berjangkitnya epidemi. Hanya suatu perkiraan bahwa rakyat yang terus dirongrong oleh penyakit – dan yang hidup di kota-kota pelabuhan yang pengap dikelilingi tembok – merupakan juga salah satu sebab kekalahan kerajaan-kerajaan Pesisir dalam perang melawan Mataram di pedalaman.

Dikutip dari; Kerajaan Islam Jawa; DR. HJ. DE GRAAF; Grafiti Pers.

 

Leave A Reply