Perbedaan Antara Darah Haidh dan Istihadhah

0

 

     
      Pertanyaan: Sebagian wanita tidak dapat membedakan antara darah haidh dan istihadhah, sebab kadang-kadang darah tersebut keluar secara terus menerus, maka dia berhenti shalat selama keluarnya darah tersebut, bagaimanakah hokum yang demikian itu?
      Jawaban: Haidh adalah darah yang Allah ta’ala tetapkan untuk kaum wanita setiap bulan pada umumnya.
      Adapun bagi wanita yang mendapatkan istihadhah, ada tiga kondisi:
Pertama: jika dia baru pertama kali mengalami hal tersebut maka hendaknya setiap bulan –selama darah itu ada- tidak melakukan shlaat, puasa dan bersetubuh dengan suaminya sehingga datangnya masa suci. Jika kondisi tersebut (keluar darah) berlangsung Selama lima belas hari atau kurang menurut jumhur ulama.
Kedua: jika keluarnya darah secara terus menerus lebih dari lima belas hari, maka hendaknya dia menganggap dirinya haid selama enam atau tujuh hari dengan membandingkan wanita lain yang lebih mirip dengannya (usia atau fisiknya) dari kerabatnya jika dia tidak dapat membedakan antara darah haidh atau yang lainnya, tetapi jika dia mampu membedakannya, maka dia tidak boleh shalat dan puasa serta bersetubuh dengan suaminya selama mendapati darah yang dapat dibedakannya karena warnanya yang hitam atau berbau, dengan syarat hal tersebut tidak berlangsung lebih dari lima belas hari.
Ketiga: jika dia memiliki waktu haidh tertentu, maka dia hitung masa haidhnya selama waktu tersebut, dan setelah berakhir dia mandi dan berwudhu setiap kali masuk waktu shalat jika darahnya masih tetap keluar dan boleh bagi suaminya untuk menggaulinya sampai datang waktu haidh berikutnya pada bulan kemudian.
    Inilah ringkasan dari beberapa hadits nabi sholaulohu alaihi wassalam tentang wanita mustahadhah, dan telah diterangkan oleh Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitabnya Bulughul Maram dan Ibnu Taimiyah rahimahumullah dalam kitab al Muntaqa.

 

Leave A Reply