Peradaban Keraton Mataram Pada Paruh Kedua Abad Ke-16

0

Tidak ditemukan cerita tutur Jawa yang dapat dipercaya mengenai kegiatan budaya di daerah Mataram selama pemerintahan Ki Pamanahan dan anaknya, Panembahan Senapati. Pada paruh kedua abad ke-16 di istana Kerajaan Pajang terdapat kegiatan sastra, tasawuf, agama, dan seni bangunan yang mula-mula timbul di daerah sepanjang pantai utara Jawa dan di Jawa Timur. Tetapi pengaruh kebudayaan Pajang kelihatannya tidak terasa di keraton para penguasa pertama Mataram, mungkin karena perhatian mereka sepenuhnya tercurah pada soal-soal materiil, pengolahan tanah, dan penggarapan daerah yang tandus, di samping penanaman kekuasaan politik. Baru raja merdeka yang ketiga di Mataram, yang akan terkenal sebagai Sultan Agung (1613-1646), mulai berusaha menaikkan martabat keraton di bidang kebudayaan, sesuai dengan kedudukannya sebagai suatu istana raja.

Penggambaran yang sedikit dalam cerita tutur Jawa mengenai kegiatan dalam bidang kebudayaan di Kerajaan Mataram abad ke-16 jelas menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempertinggi peradabannya itu datang dari daerah-daerah Pesisir Utara dan Jawa Timur. Menurut cerita tutur, pembangunan tembok keliling di istana raja Mataram dapat terlaksana berkat Sunan Kalijaga, wali dari Kadilangu, dan selanjutnya berkat kegiatan Senapati Kediri, seorang keturunan raja Jawa Timur. Dalam legenda, juga pada kesempatan-kesempatan lain Sunan Kalijaga bertindak sebagai penasihat raja di bidang agama.

Cerita tutur Jawa tentang riwayat keturunan para wali di Ngadilangu (dekat Demak), jadi keturunan Sunan Kalijaga, tidak begitu jelas. Mungkin raja-raja pertama di Mataram telah memandang wali dari Ngadilangu sebagai penasihat atau pembimbing. Sering munculnya Sunan Kalijaga dalam berbagai cerita dapat ditafsirkan adanya bahwa Mataram telah menerima agama dan peradabannya sebagian besar dari kerajaan-kerajaan Pesisir yang sudah lebih tua itu. Sunan Kalijaga, sebagai moyang, juga terkenal sebagai penghulu masjid suci di Demak.

 Pada abad ke-16 ekonomi daerah Mataram masih sepenuhnya bergantung dari pertanian. Jarang sekali ada cerita tutur Jawa yang menunjukkan besarnya perdagangan hasil-hasil pertanian dengan daerah-daerah tetangga. Masyarakat Giring, yang tinggal di Gunung Kidul, mengekspor gula jawa/gula aren, karena di daerah itu menyadap nira adalah mata pencaharian. Berbeda dengan Mataram, sudah sejak paruh pertama abad ke-16 Pajang dan Pengging berdagang dengan daerah-daerah di pantai utara. Legenda tentang tokoh yang kemudian menjadi Sunan Tembayat, yang termasuk keturunan bangsawan Semarang, menceritakan bahwa ia, sebelum mengabdikan diri sepenuhnya kepada agama, bekerja sebagai pedagang beras di sekitar Kota Klaten yang sekarang ini. Usaha itu dipimpin oleh seorang wanita pedagang setempat. Dapat diperkirakan bahwa ia telah menyalurkan beras surplus dari daerah selatan yang subur itu ke kota-kota pelabuhan Pesisir, untuk selanjutnya dijual lagi kepada pedagang-pedagang dari seberang.

Dikutip dari; Kerajaan Islam Jawa; DR. HJ. DE GRAAF; Grafiti Pers.

Leave A Reply