Pentingnya Sunnah Untuk Memahami Al Qur’an dan Contoh-contohnya

0

Firman Allah ta’ala :

“Pencuri laki-laki dan perempuan, potonglah tangan mereka … .” (QS. Al Maidah : 38)

Ayat ini merupakan contoh yang sangat cocok dalam masalah kita ini, karena kata pencuri dalam ayat ini bersifat mutlak, demikian juga tangan.

Maka sunnah qauliyah menerangkan makna kata yang pertama (yaitu pencuri) dengan membatasi pencuri yang mencuri lebih dari 1/4 dinar, yaitu berdasarkan sabda Rasulullah :

“Tidak dipotong tangan kecuali dalam curian yang mencapai 1/4 dinar atau lebih … .” (HR. Bukhari Muslim)

Sebagaimana As Sunnah menerangkan maksud ‘tangan’ dengan perbuatan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, perbuatan shahabatnya, dan kesepakatan mereka bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri sebatas pergelangan tangan mereka, sebagaimana telah diketahui dalam kitab-kitab hadits.

Demikian pula tatkala sunnah qauliyah menerangkan ayat tayammum :

“Usaplah pada wajah-wajah dan tangan mereka … .” (QS. Al Maidah : 6)

Maksud tangan dalam ayat ini adalah telapak tangan, hal itu berdasarkan dengan sabda Rasulullah :

“Tayammum itu dengan mengusap wajah dan kedua telapak tangan.” (HR. Bukhari Muslim dan lainnya dari hadits Ammar bin Yasir)

Demikian pula sebagian ayat-ayat lainnya yang tidak mungkin dipahami dengan pemahaman yang benar kecuali dengan penjelasan As Sunnah seperti :

Firman Allah ta’ala :

“Orang-orang yang beriman dan tidak bercampur keimanan mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang

mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am : 82)

Para shahabat memahami lafadh Dhalim dalam ayat ini dengan pemahaman yang umum yang mencakup segala bentuk kedhaliman sehingga ayat ini memberatkan mereka, sehingga mereka berkata :

“Ya Rasulullah, siapa di antara kami yang keimanannya tidak bercampur dengan kedhaliman?”

Maka Rasulullah bersabda :

Tidak demikian yang dimaksud tetapi yang dimaksud dhalim dalam ayat ini adalah syirik. Tidakkah kalian menyimak perkataan Lukman : “Sesungguhnya syirik adalah kedhaliman yang besar.” (HR. Bukhari Muslim)

Firman Allah ta’ala :

 “Katakanlah : Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang menghaharamkan) rezki yang baik? … .” (QS. Al A’raf : 32)

As Sunnah menerangkan pula bahwa ada zinah (perhiasan) yang haram. Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pada suatu hari keluar menuju salah seorang shahabat yang pada salah satu tangannya ada sutera dan ditangan lain ada emas. Kemudian beliau bersabda :

“Kedua benda ini (sutera dan emas) haram bagi para lelaki ummatku dan halal bagi para wanitanya.” (HR. Hakim dan beliau menshahihkannya)

Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali dan ma’ruf. Baik dalam Shahihain (Bukhari Muslim) atau lainnya dan banyak lagi contoh-contoh lain yang dikenal dikalangan Ahlul Ilmi tentang hadits dan fikih.

Dari uraian di atas menjadi jelaslah bagi kita tentang pentingnya As Sunnah dalam syariat Islam, karena jika kita kembalikan pandangan kita untuk memperhatikan contoh-contoh di atas, terlebih lagi contoh lain yang tidak disebutkan dalam buku ini, kita akan yakin bahwa tidak mungkin memahami Al Qur’an dengan pemahaman yang benar kecuali dengan bimbingan Sunnah Rasulullah.

Contoh yang pertama, pemahaman para shahabat terhadap kata (dhulm) yang terdapat dalam ayat, mereka memahami menurut dhahirnya saja. Padahal mereka adalah orang-orang yang digambarkan oleh Ibnu Mas’ud dalam perkataannya : “Yang paling utama dari umat ini yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, dan yang paling tidak bertakalluf (membebani diri secara berlebihan).

Namun walaupun demikian mereka salah dalam memahaminya. Kalaulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak meluruskan kesalahan mereka dan membimbing mereka kepada pengertian yang benar bahwa dhulm (kedhaliman) dalam ayat tersebut maknanya adalah syirik, niscaya kita akan mengikuti kesalahan tersebut.

Akan tetapi Allah ta’ala melindungi kita dari yang demikian dengan keutamaan bimbingan dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Contoh kedua, kalaulah tidak ada hadits tersebut, minimal kita akan ragu dalam mengqashar shalat ketika safar pada waktu yang aman –jika kita berpendapat takut adalah syarat dalam melakukan qashar– sebagaimana timbul hal yang demikian itu pada sebagian shahabat, jika mereka tidak melihat Rasulullah mengqashar di waktu yang aman, sehingga mereka pun kemudian mengqashar bersamanya di waktu yang aman.

Dalam contoh ketiga, kalau tidak ada hadits tentu kita akan mengharamkan makanan-makanan yang baik bagi kita, yaitu belalang, ikan, hati, dan limpa.

Dalam contoh keempat, kalaulah tidak ada hadits yang sebagiannya telah disebutkan di atas, niscaya kita akan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah kepada kita melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, seperti binatang buas atau burung yang mempunyai kuku pencakar.

Demikian pula contoh kelima, kalaulah tidak ada hadits, maka kita akan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya, yaitu emas dan sutera bagi laki-laki. Oleh karena itu dari sinilah berkata sebagian Salaf :

As Sunnah itu menjelaskan Al Kitab (menyampaikan kepada pemahaman) Al Kitab.

Dikutip dari; Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam dan Penjelasan Sesatnya Ingkarus Sunnah, Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan, Maktabah As-Sunnah

Leave A Reply