Pengaruh Kebudayaan Keraton Pajang Di Jawa Tengah Bagian Selatan Pajang Pada Paruh Kedua Abad Ke-16

0

Ada alasan untuk mengakui bahwa selama pemerintahan Raja Adiwijaya dari Pajang, kesusastraan dan kesenian keraton yang sudah maju peradabannya di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa Tengah. Menurut cerita tutur, pengetahuan tentang agama Islam telah tersebar di Pengging berkat pengaruh tokoh legenda Syekh Siti Jenar.

Jauh di selatan lagi penyebaran agama dilakukan oleh Sunan Tembayat. Sunan Tembayat berasal dari Semarang; ia masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga raja Demak. Berabad-abad lamanya makamnya di Tembayat tetap menjadi tempat ziarah bagi kaum Muslimin di Jawa Tengah bagian selatan. Gaya bangunan di sana ada hubungannya dengan gaya permulaan zaman Islam abad ke-16 di Kudus dan Kalinyamat di Jawa Tengah, dan dengan reruntuhan bangunan-bangunan sejenisnya di Jawa Timur. Tahun-tahun yang terpahat pada bangunan memastikan bahwa bangunan-bangunan tersebut didirikan di Tembayat selama pemerintahan Raja Adiwijaya. Cerita tutur Jawa menyatakan bahwa menjelang akhir hidupnya, ia pergi berziarah ke tempat itu untuk memohon bantuan dalam perjuangannya melawan Mataram. Hal itu dapat dianggap memberikan gambaran yang jelas tentang hubungan keagamaan antara Keraton Pajang dan “masyarakat santri” yang telah dibentuk oleh ulama dari Semarang itu.

Di kaki Gunung Merapi, tidak terlalu jauh dari Pengging, terdapat tempat ziarah lain, yang mungkin pada abad ke-16 sudah juga dikunjungi oleh umat Islam. Jatinom di daerah Klaten yang sekarang, yang dahulu termasuk wilayah Pajang, telah terkenal karena perayaan religius tahunan yang dirayakan dengan kue apem yang dilemparkan di atas kepala para pengunjung. Pesta itu disebut Angka Wiyu. Kata tersebut mungkin berasal dari kata seruan suci dalam bahasa Arab kepada Tuhan: Ya Kawiyu ‘l-Azizu’l-Hamid,  (Yang Maha Kuat, Yang Maha Dahsyat, Yang Maha Terpuji). Pada perayaan tersebut kalimat itu harus berulang kali diucapkan oleh orang-orang alim. Perlu diselidiki apakah upacara Angka Wiyu itu ada hubungannya dengan upacara-upacara ibadat pribumi kuno sebelum zaman Islam.

Perlu dikemukakan lagi ialah cerita tutur yang menjelaskan bahwa pada zaman Raja Adiwijaya dari Pajang, pada paruh kedua abad ke-16, Pangeran Karang Gayam menulis sajak moralistik Jawa Niti Sruti. Pangeran Karang Gayam ini dalam cerita tutur sastra Jawa mendapat julukan “Pujangga Pajang”. la adik moyang cikal bakal keturunan Karang Lo yang pada paruh kedua abad ke-18 menjadi besan keluarga raja Surakarta. Nenek moyangnya, Ki Gede Karang Lo Taji, dahulu berasal dari daerah di sekitar Taji, tempat berdirinya “pos pabean” di jalan yang telah berabad-abad umurnya, yang merupakan penghubung terpenting antara daerah-daerah Pengging-Pajang dan Mataram. Dari cerita tutur mengenai Niti Srud dan pengarangnya Pangeran Karang Gayam; boleh diambil kesimpulan bahwa pada zaman Kesultanan Pajang kesusastraan Jawa juga dihayati dan dihidupkan di Jawa Tengah bagian selatan.

Sumber; Kerajaan-Kerajaan Islam D Jawa, DR. H.J De Graaf dan DR. TH. G. TH. Pigeaud, Grafiti Pers.

Leave A Reply