PENDAPAT IMAM MALIK TENTANG QADAR

0

 

Oleh: Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais
[1]. Imam Abu Nuaim meriwayatkan dari Ibn Wahb, katanya: Saya mendengar Imam Malik berkata kepada seseorang, Kemarin kamu bertanya kepada saya tentang qadar bukankah begitu?jawab orang itu. Imam Malik berkata, sesungguhnya Allah berfirman:

Artinya : Sekiranya kamu menghendaki, Kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi telah tetaplah keputusan-Ku, bahwa Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya. [As-Sajdah : 13]
Maka tidak boleh tidak, ketetapan Allahlah yang berlaku. [1]
[2]. Qadhi Iyadh berkata: Imam Malik pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, siapakah mereka itu? Beliau menjawab: Mereka itu adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu tidak menciptakan maksiat. Beliau ditanya pula tentang Qadariyah. Jawab beliau: Mereka adalah orang-orang yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kemampuan. Apabila mereka mau, mereka dapat menjadi orang-orang taat atau menjadi orang-orang yang durhaka.[2]
[3]. Ibn Abi Ashim meriwayatkan dari Saad bin Abd al-Jabbar, katanya: Saya mendengar Imam Malik bin Anas berkata: Pendapat saya tentang kelompok qadariyah adalah, mereka itu disuruh bertaubat. Apabila tidak mau, mereka harus dihukum mati.[3]
[4]. Imam Ibn Abdil Bar berkata: Imam Malik pernah berkata: “saya tidak pernah melihat seorangpun dari orang-orang yang berbicara masalah qadar dan ia tidak bertaubat.[4]
[5]. Imam Ibn Abi Ashim meriwayatkan dari Marwan bin Muhammad at-tatari, katanya: saya mendengar Imam Malik bin Anas ditanya tentang hal menikah dengan seseorang penganut paham Qadariyah. Kata beliau seraya membaca ayat al-Quran:
Artinya: Seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik. [Al-Baqarah: 221] [5]
[6]. Qadhi Iyadh menuturkan bahwa Imam Malik menyatakan: Kesaksian penganut paham Qadariyah yang menyebarkan pahamnya yang bidah itu tidak dapat dibenarkan. Begitu pula penganut golongan Khawarij dan penganut paham Rafidhah (Syiah). [6]
[7]. Qadhi Iyadh juga menuturkan, bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang penganut Qadariyah, apakah kita tolak pendapat-pendapatnya? Jawab beliau: Ya, bila ia mengetahui hal itu. Dalam suatu riwayat Malik berkata: Tidak boleh shalat menjadi makmum di belakang penganut paham Qadaritah, dan hadits yang ia riwayatkan harus ditolak. Apabila kamu menemukan mereka di suatu tempat persembunyiannya, keluarkanlah mereka.[7]
[Disalin dari kitab I’tiqad Al-A’immah Al-Arba’ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad), Bab Aqidah Imam Malik bin Anas Hanifah, oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
_________
Foote Note
[1]. Al-Hilyah VI/396
[2]. Tartib Al-Madarik II/48. Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal -Al-Jama’ah II/701
[3]. Ibn Abi Ashim, As-Sunnah, I/87-88, Al-Hilyah VI/326
[4]. Al-Intiqa, hal.34
[5]. Ibn Abi Ashim, As-Sunnah I/88 Al-Hilyah, VI/326
[6] Tartib Al-Madarik II/47
[7]. Tartib Al-Madarik, II/47
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1363&bagian=0
(taken from http://almanhaj.or.id)

 

Leave A Reply