Pemimpin-pemimpin Agama Cirebon Yang Selanjutnya

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
0

 

 
Menurut cerita sejarah di Jawa Barat, pada tahun 1570 Sunan Gunungjati sebagai penguasa Cirebon telah diganti oleh seorang cicitnya, yang hanya terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Tentang dia amat sedikit yang diketahui. Di satu pihak, ia telah mengalami kemakmuran Banten sebagai kota pelabuhan dan runtuhnya kerajaan “kafir” terakhir di Jawa Barat, yaitu Pakuwan Pajajaran. Tidak ada bukti bahwa prajurit-prajurit dari Cirebon ikut bertempur dalam penaklukan Pakuwan; Di pihak lain, raja Cirebon yang kedua mengalami kematian Sultan Pajang pada tahun 1586 dan lahirnya Kerajaan Mataram di Jawa Tengah sebelah selatan.

Sungguh menarik perhatian bahwa raja-raja Mataram sejak semula dalam perempat terakhir abad ke-16, mempunyai hubungan yang cukup baik dengan penguasa-penguasa setempat di daerah Jawa sebelah barat daerah inti kerajaan, yakni daerah itu di sebelah barat Sungai Bogowonto. Para penguasa di daerah pedalaman bagian barat Jawa dan juga para raja Cirebon agaknya tidak memberikan perlawanan dan mengakui penguasa Mataram. Sebuah cerita mengabarkan bahwa pada tahun 1590 raja Mataram, Panembahan Senapati, membantu “para pemimpin agama” Cirebon, Pangeran Ratu, untuk mendirikan atau memperkuat tembok yang mengelilingi kotanya. Mungkin pada waktu itu raja Mataram menganggap Cirebon suatu pertahanan militer di bagian barat kerajaannya.
Dapat dipastikan bahwa Pangeran Ratu dari Cirebon, pengganti Orang Suci Sunan Gunungjati, dianugerahi usia panjang sekali, seperti pendahulunya. Ia baru meninggal pada tahun 1650. Penggantinya seorang raja yang dikenal dengan nama Pangeran Girilaya.
Di Cirebon Pangeran Ratu pasti mengalami pergolakan zaman, yaitu munculnya kekuasaan Belanda, berdirinya Batavia, dan peperangan raja-raja Mataram dan Banten melawan kota itu. Tidak ada kenyataan bahwa Pangeran Ratu bertindak dengan kekerasan mempengaruhi keadaan politik pada waktu itu. Meskipun begitu, wibawa kerohanian keturunan Sunan Gunungjati tidak diragukan. Pada paruh kedua abad ke-17 dinasti itu terpecah menjadi beberapa cabang, yang masing-masing mempunyai keraton.
Pada abad ke-17 dan ke-18, di keraton-keraton Cirebon telah berkembang kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian. Hal itu antara lain terbukti dari kegiatan mengarang nyanyian keagamaan Islam, yang disebut suluk, yang bercorak mistik. Hal ini pun menunjukkan bahwa pengaruh rohani Sunan Gunungjati itu masih berlangsung.
Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada tahun 1705 telah diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada Kompeni (VOC) di Betawi. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunungjati di Kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad ke-20 ini.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply