Pembatal-pembatal Puasa

0

Al-Imam as-Sa’di berkata, “Barangsiapa berbuka (batal puasa) dengan makan, minum, muntah secara sengaja, berbekam, atau mengeluarkan mani kerana memeluk isteri, kewajibannya hanyalah melakukan qadha puasa (tanpa kafarat).

Akan tetapi orang yang berbuka dengan jima’ wajib melakukan qadha puasa dan membebaskan budak (hamba) (sebagai kafarat). Jika tidak mendapatkan hamba, ia wajib (menebusnya) dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka ia wajib (menebusnya) dengan memberi makan enam puluh orang fakir miskin. Nabi bersabda, “Barangsiapa lupa selagi ia berpuasa, lalu ia makan dan minum, hendaklah ia menyempurnakan (melanjutkan) puasanya, karena sesungguhnya Allah semata-mata memberi makan dan minum kepadanya (tanpa membatalkan puasa)” (Muttafaq ‘alaih).”

 

Ketentuan Batalnya Puasa Bagi Pelaku Pembatal-pembatal Puasa

Puasa batal dengan salah satu dari pembatal-pembatal puasa dengan syarat-syarat berikut:

1: Melakukannya dengan sengaja.

“Tidak ada dosa bagi kalian atas apa yang kalian tersalah padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disegaja oleh kalbu (hati) kalian…” (Al-Ahzab: 5)

2: Melakukannya dengan sadar (ingat atau tidak lupa).

“Barangsiapa lupa (tidak sadar) selagi ia berpuasa, lalu ia makan atau minum, hendaklah menyempurnakan (melanjutkan) puasanya…” (Muttafaq ‘alaih)

3: Melakukannya dengan mengetahui (mempunyai ilmu) hukum perkara itu sebagai pembatal puasa dan mengetahui keadaan.

Asma’ binti Abi Bakr berkata, “Kami pernah berbuka pada masa hidup Nabi di hari yang mendung, kemudian matahari kembali muncul.” (HR Bukhari)

Tidak dinukilkan bahwa Nabi menyatakan puasa mereka batal. Hal itu disebabkan ketidaktahuan mereka akan keadaan matahari yang belum terbenam kerana terhalang mendung.

 

Jenis-Jenis Pembatal Puasa

Ada beberapa jenis pembatal puasa, sebagiannya disepakati dan sebagiannya diperselisihkan. Pembatal-pembatal puasa yang disepakati oleh para ulama adalah makan, minum dan berhubungan suami isteri (jima’).

“Maka dari itu, sekarang campurilah mereka (isteri-isteri kalian) dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, serta makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih (terangnya siang) dan benang hitam (gelapnya malam), yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)

 

Rincian Pembatal Puasa Dari Jenis Makan & Minum

1: Menelan sisa-sisa makanan di mulut ketika puasa.

Ibnu Mundzir mengatakan ijma’ ulama bahwa sisa makanan di mulut yang kadarnya sedikit sehingga sulit untuk dikeluarkan dan sulit dihindari agar tidak tertelan, tidak membatalkan puasa jika tertelan.

Jumhur ulama berpendapat bahawa sisa makanan di mulut yang kadarnya banyak dan masih dapat dihindari agar tidak tertelan dengan cara meludahkannya, wajib diludahkan. Jika sengaja menelannya, hal itu membatalkan puasa. (Al-Mughni 4/360)

2: Menelan rasa makanan yang tersisa di mulut ketika puasa.

Al-Imam Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa rasa makanan yang tersisa di mulut wajib diludahkan dan tidak boleh ditelan. (Asy-Syarh al-Mumti’ 6/428)

3: Menelan rasa yang tersisa setelah bersiwak atau memberus gigi dengan obat gigi ketika puasa.

Al-Imam Ibnu Utsaimin berpendapat wajib diludahkan, dan boleh membatalkan puasa jika ditelan dengan sengaja. (Majmu’ ar-Rasa’il 19/352-354)

4: Menelan darah (yang bersumber dari rongga mulut atau hidung) ketika puasa.

Al-Imam Ibnu Qudamah dan Ibnu Utsaimin menegaskan supaya dikeluarkan dan tidak boleh menelannya. Jika dia menelannya, puasanya batal. (Al-Mughni 4/355 & Asy-Syarh al-Mumti’ 6/429)

5: Menelan dahak (kahak) ketika puasa.

Jika dahak/kahak turun ke kerongkongan tanpa melewati mulut dan tertelan, hal ini tidak membatalkan puasa meskipun terasa ketika tertelan, sebab kahak tersebut tidak sempat masuk ke rongga mulut.

Jika kahak tersebut mengalir turun dan masuk ke rongga mulut orang yang berpuasa, pendapat yang benar adalah tidak boleh ditelan dan harus diludahkan, jika ditelan membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Ahmad.

6: Menelan sesuatu yang masuk melalui hidung.

Menelan sesuatu yang masuk melalui hidung membatalkan puasa, karena hidung merupakan salah satu saluran masuk ke kerongkongan menuju perut, yang dianggap memiliki kedudukan yang sama dengan mulut.

“Dan bersungguh-sungguhlah (berlebihanlah) engkau dalam istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung ketika wudhu), kecuali engkau dalam keadaan berpuasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dan al-Wadi’i)

Hadits ini menunjukkan perbuatan berlebihan dalam istinsyaq ketika puasa ditegaskan oleh Nabi karena  boleh menyebabkan batalnya puasa. Ulama seperti al-Imam Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin berpendapat berlebihan dalam hal istinsyaq dan berkumur-kumur bagi yang berpuasa hukumnya makruh. (Majmu’ al-Fatawa Ibni Baz 15/261, Asy Syarh al-Mumti’ 6/379 dan 407)

Menelan tetesan/titisan as-Sa’uth yang masuk ke kerongkongan juga termasuk dalam hal ini. AsSa’uth adalah obat yang dititiskan melalui hidung (gurah). Barangsiapa melakukan gurah lalu merasakan tetesan as-Sa’uth itu masuk ke kerongkongannya dan ia pun menelannya dengan sengaja, puasanya batal. Ini adalah fatwa mazhab al-Imam Malik dan juga al-Imam Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

Menghirup asap wangi pedupaan (bakhour) termasuk dalam hal ini. Asap wangi pedupaan adalah sesuatu yang terlihat zatnya (berwujud). Oleh kerana itu, akan membatalkan puasa jika dihirup karena sama dengan menelan suatu zat hingga masuk ke perut. Yang tidak dibenarkan adalah menghirupnya dengan sengaja. Ini difatwakan oleh al-Imam Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai Ibnu Baz.

7 Mendapatkan suntikan ketika puasa.

Suntikan memasukkan suatu zat melalui jarum suntik ke otot atau urat. Hal ini terbagi menjadi dua jenis:

Ada yang bersifat sebagai sumber zat-zat makanan dan minuman bergizi serta penguat bagi tubuh, yaitu suntikan infus (cairan makanan). Suntikan ini membatalkan puasa karena memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan makan dan minum.

Ada pula yang bersifat suntikan biasa yang tidak bersifat sebagai nutrisi tubuh yang  menguatkannya, yaitu suntikan obat atau vitamin. Suntikan ini tidak membatalkan puasa. Inilah yang difatwakan oleh al-Imam al-Albani, Ibnu Baz, al-Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu Utsaimin.

Hal-hal yang tidak termasuk dalam kategori makan dan minum yang membatalkan puasa:

1: Menelan ludah dan air liur. Ludah dan air liur diproduksi di mulut sehingga menelannya tidak mungkin dihindari. Pendapat ini dipilih al-Imam Ibnu Utsaimin.

2: Menelan debu jalanan. Hal ini tidak mungkin dihindari. Lihat kitab al-Mughni 4/354.

3: Merasai makanan/minuman tanpa menelannya. Hal ini makruh hukumnya bagi yang tidak berkepentingan untuk melakukannya. Adapun yang berkepentingan, tidak mengapa melakukannya, seperti seorang yang sedang memasak atau yang hendak membeli satu jenis makanan/minuman.

Ibnu Abbas berkata, “Tidak mengapa bagi orang yang berpuasa untuk merasai madu, mentega dan semisalnya, lalu memuntahkannya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan alBaihaqi. Al-Albani menghasankannya)

4: Menggunakan siwak. Al-Imam Ibnu Taimiyah berkata pada kitab Majmu’ al-Fatawa,

“Bersiwak (ketika berpuasa) diperbolehkan tanpa ada perbedaan pendapat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai makruh atau tidaknya bersiwak setelah waktu zawal (bergesernya matahari ke ufuk barat). Ada dua pendapat yang masyhur, keduanya merupakan riwayat dari al-Imam Ahmad. Akan tetapi tidak ada dalil dalam syariat yang menunjukkan makruhnya bersiwak ketika puasa setelah waktu zawal…” Pendapat ini dipilih oleh al-Imam Ibnul Qoyyim, al-Albani dan Ibnu Utsaimin.

5: Menggunakan pasta (obat) gigi. Al-Imam Ibnu Baz dalam Fatawa Muhimmah Tata’allaq

bish-Shiyam berkata, “Membersihkan dengan sikat (berus) yang menggunakan pasta gigi tidak membatalkan puasa, sebagaimana halnya menggunakan siwak…”

6: Mandi bagi orang yang berpuasa diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa disertai kehati-hatian agar tidak menelan air mandi melalui mulut dan hidung. Ini adalah pendapat jumhur ulama yang dipilih oleh al-Imam Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani, al-Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu Utsaimin.

“(Demi Allah), sungguh aku telah melihat Rasulullah di ‘Arj menyiramkan air di atas kepalanya karena kehausan atau tersengat panas matahari.” (HR Malik dan Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani dalam Tahqiq al-Misykat)

7: Memakai celak mata yang rasanya sampai ke kerongkongan hingga tertelan. Hal ini tidak mengapa dan tidak membatalkan puasa. Sebab mata bukan organ yang dianggap sebagai saluran masuknya makanan dan minuman (mulut dan hidung).

8: Memakai tetes/titis mata dan titis telinga yang rasanya sampai ke kerongkongan hingga tertelan. Hal ini tidak mengapa dan tidak membatalkan puasa. Sebab mata dan telinga bukan organ yang dianggap sebagai saluran masuknya makanan dan minuman (mulut dan hidung).

9: Penggunaan minyak yang dioleskan di kulit atau rambut tidak mengapa dan tidak membatalkan puasa. Hal ini adalah sesuatu yang umum dilakukan oleh kaum muslimin di masa Rasulullah.

Bau-bauan berupa wewangian dan selainnya yang hanya mengeluarkan bau, tidak mengeluarkan zat yang terlihat yang akan terhirup dan tertelan. Sifat seperti ini tidak membatalkan puasa. Ini difatwakan oleh al-Imam Ibnu Taimiyah, al-Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu Utsaimin.

 

Rincian Pembatal Puasa Dari Jenis Jima’

Jima’ adalah tindakan memasukkan hasyafah (kepala zakar) ke dalam qubul (kemaluan) wanita, baik berakhir dengan terjadinya ejakulasi (memancarkan air mani) maupun tidak. Jima’ di sini meliputi jima’ yang halal dengan isteri atau budak (hamba) wanita yang dimiliki maupun jima’ yang haram dengan zina -wal ‘iyadzu billah-. Para ulama juga menyatakan bahwa memasukkan hasyafah ke dubur termasuk dalam cakupan makna jima’.

Ulama berbeda pandangan dalam hal kedudukan puasa bagi orang yang menyengaja untuk ejakulasi dengan cara onani, mencium, memeluk atau sejenisnya.

1: Pendapat empat imam mazhab yang disebutkan oleh penulis (as-Sa’di) bahwa hal itu haram dan membatalkan puasa. Pendapat ini dipilih al-Imam Ibnu Taimiyah, al-Lajnah adDa’imah yang diketuai Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin. Dalilnya adalah penyamaan dengan jima’ secara qiyas berdasarkan hadits qudsi bahawa Allah telah menyatakan tentang orang yang berpuasa:

“Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku.” (Muttafaq ‘alaih)

2: Pendapat al-Imam Ibnu Hazm bahwa hal itu tidak membatalkan puasa. Pendapat ini dipilih oleh al-Imam ash-Shan’ani dan al-Albani. Alasannya tidak ada dalil yang menunjukkan batalnya puasa dengan sebab itu. Adapun dalil qiyas yang disebutkan tidak boleh diterima karena terdapat perbedaan antara keduanya. Perbedaannya adalah karena jima’ tanpa disertai ejakulasi tetap membatalkan puasa. Artinya, illat (sebab) batalnya puasa adalah jima’ itu sendiri, bukan ejakulasi. Tampaknya, pendapat pertama lebih kuat.

Onani

Definisi onani menurut para ulama adalah upaya mengeluarkan mani dengan cara apa pun (selain jima’), baik menggunakan tangan maupun lainnya. Menurut pendapat yang rajih (terkuat), ejakulasi dengan onani sendiri membatalkan puasa.

 

Mencium isteri atau hamba wanita yang dimiliki, memeluk atau sejenisnya.

Perkara ini adalah sesuatu yang halal ketika seseorang tidak berpuasa. Adapun hukum melakukannya ketika berpuasa, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Pendapat terkuat adalah yang mengatakan hal itu boleh sebagai rukhsah (keringanan) dari Allah bagi hamba-hambaNya. Hanya saja, disarankan agar tidak dilakukan oleh orang yang tidak mampu mengekang syahwatnya kerana dikhawatirkan terdorong melakukan jima’.

Aisyah berkata, “Rasulullah pernah mencium (isterinya) dalam keadaan baginda sedang berpuasa dan memeluk (isterinya) dalam keadaan baginda sedang berpuasa. Akan tetapi, baginda adalah orang yang paling mampu menguasai syahwatnya di antara kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

Rincian Pembatal Puasa Yang Diperselisihkan           

1: Muntah Dengan Sengaja.

Ulama berselisih dalam hal ini:

Pendapat pertama, muntah dengan sengaja membatalkan puasa. Ini disebutkan oleh penulis (as-Sa’di), dan ini adalah pendapat jumhur ulama dan Ibnu Hazm. Pendapat ini dipilih Ibnu Taimiyah, ash-Shan’ani, asy-Syaukani, Ibnu Baz, dan al-Utsaimin.

“Barangsiapa terpaksa muntah, ia tidak berkewajiban melakukan qadha puasa. Barangsiapa muntah dengan sengaja, hendaklah ia melakukan qadha puasa.” (HR Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah dan lainya. Hadits ini diperselisihkan oleh ulama tentang kesahihannya)

Pendapat kedua, muntah dengan sengaja tidak membatalkan puasa selama tidak ada dari muntahan tersebut yang ditelan kembali secara sengaja. Adapun jika ada dari muntahan itu yang ditelan kembali secara sengaja, ini artinya ia telah memakan sesuatu yang membatalkan puasa. Ini pendapat Ibnu Mas’ud, ‘Ikrimah, Rabi’ah ar-Ra’yi dan ulama lainnya.

Adapun muntah dengan tidak sengaja, tidak membatalkan puasa tanpa diragukan lagi.

2: Berbekam

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah berbekam membatalkan puasa atau tidak:

Pendapat pertama, orang yang membekam dan yang dibekam keduanya batal puasanya. Berdasarkan dalil:

“Orang yang membekam dan orang yang dibekam batal puasanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Disahihkan oleh al-Albani dan al-Wadi’i)

Yang menjadi illat (sebab) sehingga berbekam dianggap sebagai pembatal puasa diperselisihkan oleh ulama:

Sebagian berpendapat berbekam sebagai pembatal puasa adalah perkara ibadah mahdhah (ibadah murni), yaitu semata-mata merupakan ketentuan ibadah yang tidak diketahui illatnya (sebabnya). Jadi orang yang membekam pun tetap batal puasanya meskipun menggunakan alat khusus tanpa bantuan mulut dalam menyedut darah kotor dari tubuh pesakit.

Ibnu Taimiyah dan Ibnu Utsaimin berpendapat ini bukan perkara ibadah mahdhah, melainkan perkara yang diketahui illatnya. Sebab batalnya puasa orang dibekam adalah karena darahnya telah disedot yang mengakibat badannya lemah. Adapun illat batalnya puasa orang yang membekam adalah karena biasanya ia menyedot darah bekam dengan mulutnya melalui tabung bekam sehingga darah itu boleh jadi tertelan tanpa disedari.

Pendapat kedua, berbekam tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, seperti al-Imam Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi’i. Pendapat ini dipilih oleh asySyaukani dan al-Albani. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan lafaz:

“Nabi pernah berbekam dalam keadaan berihram (ketika berhaji) dan baginda pernah berbekam dalam keadaan berpuasa.”

Dan juga hadits Anas, ia berkata, “Awal mula diharamkannya berbekam bagi orang yang berpuasa adalah (peristiwa) Ja’far bin Abi Thalib berbekam dalam keadaan berpuasa, lalu Nabi melewatinya dan berkata, ‘Puasa kedua orang ini telah batal.’ Selanjutnya Nabi memberikan keringanan setelah itu untuk berbekam bagi orang yang berpuasa. Adalah Anas pernah berbekam dalam keadaan berpuasa.” (HR ad-Daraquthni dan al-Baihaqi, adDaraquthni mengatakan “seluruh periwayatannya berderajat tsiqah (terpercaya) dan aku tidak mengetahui ada ‘illah (cacat) pada hadits ini.” Hal ini dipersetujui oleh al-Baihaqi dan al-Albani)

Akan tetapi, ulama dengan pendapat ini, berbeda pandangan pula dalam penetapan hukumnya:

Ada yang menyatakan bahwa berbekam hukumnya makruh, berdasarkan gabungan hadits-hadits yang ada. Ini adalah pendapat al-Imam Malik dan asy-Syafi’i.

Ada pula yang menyatakan bahwa berbekam dibolehkan dan tidak makruh, karena hadits tentang batalnya puasa orang yang membekam dan yang dibekam mansukh (telah dihapus hukumnya). Ini adalah pendapat al-Imam Abu Hanifah, Ibnu Hazm dan al-Albani.

Al-Imam asy-Syaukani merinci masalah ini dengan berkata, “Hadits-hadits yang ada dipadukan maknanya bahwa berbekam hukumnya makruh bagi orang yang akan melemah karenanya, dan semakin bertambah makruh jika keadaan lemah akibat berbekam menjadi sebab batalnya puasa. Adapun bagi orang yang tidak menjadi lemah karenanya, hukumnya tidak makruh. Walaupun begitu, menghindari berbekam bagi orang yang berpuasa adalah lebih baik.”

Kesimpulannya, yang benar adalah pendapat yang menyatakan berbekam tidak membatalkan puasa, karena hukumnya sebagai pembatal puasa telah mansukh (dihapus). Meskipun demikian, pendapat yang menyatakan makruh untuk berbekam bagi orang yang akan melemah karenanya, memiliki sisi pandangan yang benar. Terlebih lagi jika keadaan lemah akibat berbekam sampai pada tahap menjadi sebab batalnya puasa. Oleh itu, rincian dari al-Imam asy-Syaukani lebih memuaskan. Wallahu’alam.

Dikutip dari: Silsilah Fikih Puasa Lengkap; www.thoriqussalaf.com.

 

 

Leave A Reply