Peganglah Selalu Sekuat-kuatmu

0

Dari Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. pernah memberikan wejangan kepada kita semua, yaitu suatu wejangan yang mengesankan sekali, hati dapat menjadi takut karenanya, matapun dapat bercucuran. Kita lalu berkata: “Ya Rasulullah,seolah-olah itu adalah wejangan seseorang yang hendak bermohon diri. Oleh sebab itu, berilah wasiat kepada kita semua!” Beliau s.a.w. bersabda:

“Saya berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, juga suka mendengarkan dan mentaati -pemerintahan – sekalipun yang memerintah atasmu itu seorang hambasahaya Habsyi. Karena sesungguhnya saja, barangsiapa yang masih hidup panjang di antara engkau semua itu ia akan melihat berbagai perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua menetapi sunnahku dan Sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperoleh petunjuk – Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu ‘annum; gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi taringmu – yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya segala sesuatu kebid’ahan itu adalah sesat.”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

 

Keterangan:

 

Banyak sekali hal-hal penting yang terkandung dalam Hadis ini, di antaranya ialah:

(a) Orang yang berpamit yakni hendak meninggal dunia,sebab isi nasihatnya itu sangat mendalam.

(b) Memang kita wajib taat pada pemimpin-pemimpin kita yang memegang pemerintahan itu, apabila mereka itu tetap menjalankan pemerintahan sebagaimana yang diridhai oleh Allah.

(c) Sunnahku yakni perjalanan dan sari hidupku.

(d) Khalifah-khalifah Arrasyidun yakni pengganti-pengganti Nabi yang bijaksana dan senantiasa mengikuti kebenaran. Mereka itu ialah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu ‘anhum.

(e) Gigitlah teguh-teguh yakni peganglah selalu sekuat-kuatmu dan jangan sampai terlepas sedetikpun.

(f) Apa yang disabdakan Nabi s.a.w. ini agaknya kini telah tampak benar, bukanlah bermacam-macam perselisihan yang kita hadapi sekarang, baik karena banyak faham yang tumbuh atau memang percekcokan sesama ummat Islam sendiri dan lain-lain sebab lagi.

Karena itu satu-satunya jalan agar kita tetap selamat di dunia dan akhirat ialah dengan berpegang teguh pada sunnah Nabi s.a.w. dan sunnah khalifah-khalifah Arrasyidun, yang pokok kesemuanya itu ialah dalam kandungan al-Quran dan Hadis.

(g) Bid’ah yakni sesuatu yang tidakada dalam agama lalu diada-adakan sehingga seolah-olah itu jugatermasuk dalam agama. Bid’ah yang sedemikian inilah yang sesat dan setiap yang sesat pasti ke neraka sebagaimana dalam Hadis lain disebutkan:

“Maka sesungguhnya setiap sesuatu yang diada-adakan, itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di dalam neraka.”

(h) Tetapi kalau yang diada-adakan itu baik (bid’ah hasanah), maka tentu saja tidak terlarang seperti mendirikan sekolah-sekolah (madrasah), pondok-pondok, pesantren-pesantren dengan cara yang serba moden. Semua tidak terlarang sekalipun dalam zaman Rasulullah s.a.w. belum ada.

Dikutip dari: Riyadus Shalihin-Taman 0rang-orang Shalih; Imam Nawawi.

 

Leave A Reply