Pati dan Juwana Pada Permulaan Abad ke-16. Berita Tome Pires Tentang Cajongam

0

 


Tidaklah mengherankan bahwa antara kedua pasangan Demak-Jepara dan Pati-Juwana timbul iri hati dan terjadi pertempuran pada masa lampau. Mungkin yang menjadi pokok persoalannya pertama-tama ialah kepentingan masing-masing dalam perdagangan, khususnya dalam penyaluran beras dari pedalaman, yang dijual kepada orang-orang asing yang menyinggahi pelabuhan-pelabuhan itu.

Dalam cerita tutur sejarah di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat berita tentang masa jaya Kerajaan Pati yang berlangsung pendek pada permulaan abad ke-16. Di alas (Bab II-11) telah diberitakan bahwa raja yang baru saja masuk Islam di Pasir, yang terletak di pedalaman di perbatasan Jawa dan tanah Sunda, yang mempunyai kedudukan penting di keraton Sultan Tranggana, raja Demak yang ketiga, telah memperistri seorang putri dari Pati. Mungkin ini terjadi setelah penguasa Pati menyatakan tunduk pada raja Islam di Demak. Menurut daftar tahun peristiwa di Jawa Tengah, Babad Sangkalaning Momana, konon di Pati pada tahun Jawa 1433 (1511 M.) telah diangkat seorang “bupati” yang bernama Kayu Bralit (oleh siapa, tidak diketahui). Menurut daftar tahun peristiwa lain yang dapat dibandingkan (yang telah dimasukkan dalam Chronological Tablekarangan Raffles), Adipati Kayu Bralit itu pada tahun 1518 telah gugur dalam peperangan. Perang pecah pada tahun itu untuk melawan Pati (dilakukan oleh siapa, juga tidak diketahui). Menurut naskah ini, dengan kejadian tersebut masa kemakmuran Kerajaan Pati telah berakhir.
Musafir Portugis Tome Pires, yang pada tahun 1513 mengunjungi pantai utara Jawa, memberitakan bahwa daerah Cajongan atau Cajongam telah dihancurkan oleh panglima pasukan raja “kafir” Majapahit. Menurut Pires, prajurit ini terkenal dengan nama-gelar “guste Pate”. Setelah kehancurannya, konon daerah Cajongam dibagi antara tetangganya Rembang dan Tuban. Pate Rodin di Demak pun mengambil sebagian daerah ini.
 Sayang, letak Cajongam tidak dapat dipastikan. Nama itu terdapat pada peta-peta Portugis lama. Mungkin sekali, tempat itu letaknya kira-kira di tempat Kota Juwana sekarang. Tetapi berita Pires tentang bertetangganya Rembang dan Tuban (yang lebih ke timur letaknya) tidak cocok dengan keadaan. Diperkirakan pada teks Pires ada kesalahan.
Berdasarkan berita-berita pendek dan tidak lengkap ini, dihubungkan dengan tahun-tahun pada daftar tahun peristiwa Jawa, kiranya dapat dibenarkan bahwa Kerajaan Demak dalam dasawarsa pertama abad ke-10 telah berselisih hubungan raja-raja di Pati (dan Juwana?), yang menguasai bagian timur jalur lalu lintas di sebelah selatan Pegunungan Muria. Sekalipun berita Pires tentang serangan orang-orang Majapahit yang “kafir” terhadap Cajongam itu berdasarkan kebenaran, dapat diduga bahwa gerakan itu merupakan usaha (terakhir) untuk mempertahankan kekuasaan maharaja “kafir” itu di sebelah barat laut kerajaannya.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply