Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/hudhwxog/public_html/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2695

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/hudhwxog/public_html/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2699

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/hudhwxog/public_html/wp-content/plugins/revslider/includes/output.class.php on line 3581
Para Ulama Besar Di Kudus – adhwaulbayan.or.id

Para Ulama Besar Di Kudus

0

 

 
Dalam cerita tutur Jawa, ulama Rahmatu’llahi dari Ngudung, penghulu Masjid Demak, kadang-kadang disebut juga Sunan Kudus, atau dicampuradukkan dengan dia. Sunan Kudus pertama yang sebenarnya ialah anaknya. Menurut cerita setempat (periksa: Solichin Salam, Kudus; Knebel, Babad Pasir; Rapporten, hal.150) Sunan ini konon bernama Ja’par Sidik. Pada mihrab masjid (dengan tahun yang sesuai dengan tahun 1549) disebutkan (menurut Solichin Salam) “al-qadhi Ja’far Shadiq” sebagai pendiri masjid.

Peristiwa-peristiwa penting dalam riwayat hidup Sunan Kudus pertama, kemenangan dalam perang melawan Majapahit, dan pendirian “kota suci”, sudah dibicarakan di bagian sebelum ini. Uraian tentang hal ini berdasarkan cerita-cerita atau catatan-catatan dalam karya-karya tulis Jawa saja. Berita-berita Portugis atau Belanda tentang sejarah Kudus dari abad ke-16 tidak ada. Juga yang berikut ini bersumberkan buku-buku cerita Jawa dan cerita babad.
 Dalam cerita tutur Jawa tampil Sunan Kudus sebagai penyebar agama yang ulung, yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan. Di samping kemenangan dalam Perang Majapahit, penaklukan Kebo Kenanga di Pengging, para Yang Dipertuan di Tingkir, Ngerang, dan Butuh di Jawa Tengah sebelah selatan, Sunan Kudus juga melakukan tindakan kekerasan terhadap guru mistik bid’ah Syekh Lemah Abang, yang akhirnya oleh Majelis Orang Suci dijatuhi hukuman mati. Yang dapat dibandingkan dengan peristiwa ini ialah cerita tutur tentang tindakannya yang penuh kekejaman terhadap Syekh Jangkung, yang sedianya akan dihukum mati, karena Syekh Jangkung berniat mendirikan masjid tanpa izin. Berkat usaha pembelaan Sunan Kalijaga, jiwa Jangkung masih dapat tertolong; sebagai gantinya salah seorang pengikutnya terpaksa menjalani hukuman itu. Karena itulah maka Syekh Jangkung mengikrarkan dendam abadi antara keturunannya dan keturunan Sunan Kudus (Hooykaas, “Djangkoeng”). Menurut cerita lain, seorang syekh lain, Syekh Maulana dari Krasak-Malang (dekat Kalinyamat), murid Sunan Gunungjati dari Cirebon, karena telah berani memberi malu dia dalam pertengkaran mengenai kebenaran mistik, konon juga dibunuh atas perintah Sunan Kudus (Rapporten, hal.168-175). Menurut cerita lain lagi, sebagai akibat kekuasaan Sunan Kudus yang luar biasa, Ki dan Ni Mulak, suami istri, murid-muridnya sendiri yang telah menjengkelkannya, telah berubah menjadi anjing-anjing hitam di dalam makam mereka (Codex LOr, No. 89912, koleksi Rinkes).
Terdapatnya bermacam-macam cerita tentang Sunan Kudus itu, walaupun sedikit sekali yang dapat dipercaya, menjadikan orang berpendapat bahwa Sunan Kudus telah menimbulkan kesan pada orang-orang sezaman dengan dia maupun yang hidup sesudahnya sebagai orang yang serba keras tindakannya dan sebagai penyebar agama yang ulung. Tidak dapat dikatakan bahwa semua ulama besar memiliki sifat-sifat semacam itu.
Menurut cerita Jawa Tengah yang kemudian, Sunan Kudus sebagai guru agama mempunyai hubungan yang amat erat dengan Aria Panangsang dari Jipang, sedang ia telah memperlihatkan sikap bermusuhan terhadap Susuhunan Prawata dari Demak. Sebelumnya telah disebut cerita bahwa Aria Panangsang diberi kuasa oleh Sunan Kudus untuk membunuh Susuhunan. Menurut cerita lain (Serat Kandha, hal. 469), ia mau mendamaikan kembali Aria Panangsang dari Jipang dengan Jaka Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang. Apa yang dituturkan sebagai contoh-contoh tindakan dalam perkembangan Kerajaan Demak adalah bukti bahwa ulama besar ini mempunyai kemauan dan perhatian terhadap masalah pemerintahan.
Di kotanya, Kudus, kecuali mendirikan masjid besar dari batu (dengan menaranya), ia membangun pula sebuah tempat kediaman yang megah bagi dirinya dan keluarganya. Lebih dahulu telah diberitakan bahwa keraton ini mempunyai masjid yang lebih kecil, yang sekarang bernama Masjid Suranata. Dapat diterima bahwa memiliki masjid sendiri dekat keraton pada abad ke-16 dan sesudahnya dipandang sebagai hak istimewa dan lambang kebesaran dan kewibawaan raja.
Dalam karya tulis Melayu dan Jawa terdapat beberapa ungkapan yang menunjukkan bahwa di luar Jawa pun Kudus harum namanya sebagai pusat agama Islam. Meskipun Giri/Gresik dalam hal ini, lebih-lebih di Indonesia bagian timur, dianggap jauh lebih penting, Kudus dan Giri masih sebanding.
Pemberitaan Melayu tentang Kudus ditemukan dalam sajak-sajak Hamzah Pansuri, ulama-pengarang dari Sumatera Utara, yang diterbitkan oleh J. Doorenbos. Di situ dapat kita baca (Doorenbos, Hamzah Pansuri, hal. 45), bahwa sang pengarang mencari Tuhan secara berturut-turut di Mekkah, di Baros, dan di Kudus, tetapi akhirnya ia telah menemukan Tuhan di rumahnya sendiri. Hubungan antara ketiga nama kota ini perlu mendapat perhatian. Dalam bahasa Jawa kisahnya terdapat dalam suatu syair tentang agama Islam, dalam bahasa Jawa-Sasak, dengan judul “Pangeran Sangu Pati”. Dalam sajak itu dibeda-bedakan tiga modalitas agama Islam (di Lombok): Jawa, Kudus atau Kampung, dan Arab atau Sembawa. Mungkin nama-nama ini ada kaitannya dengan daerah-daerah yang memasukkan agama Islam ke Lombok. Mungkin juga ada kaitannya dengan berbagai masjid kepunyaan para pembawa agama, seperti para pedagang-pelaut yang menetap di kota-kota pantai. Perlu diperhatikan disebutkannya Kudus, sebagai modalitas khusus, sesudah modalitas Jawa yang umum dan sudah dikenal itu (bagi pulau-pulau di sebelah timur kiranya yang dimaksud adalah Jawa Timur, Giri/Gresik, dan Surabaya).
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply