Panembahan Senapati sebagai peletak dasar Kerajaan Mataram Islam

0

Raja merdeka pertama di Mataram mangkat pada tahun 1601. Tahun kejadian itu sudah pasti, karena pada tahun itu terjadi gerhana matahari yang dicatat pada kronik-kronik Jawa di samping peristiwa kematian itu. la meninggal di Kajenar (di daerah Sragen). Oleh sebab itu, dalam sejarah Jawa ia disebut juga Seda-ing-Kajenar. Ia dimakamkan di bawah kaki ayahnya, Ki Pamanahan, di tempat permakaman tua dekat kota istana Kotagede, yang telah mereka bangun dan perluas.

Tidak ada berita-berita dari orang-orang luar – bangsa Portugis atau Belanda – yang kiranya dapat memberi gambaran tentang peletak dasar kekuasaan dinasti Mataram ini. Tanpa menyebutkan nama, suatu berita Belanda hanya mengabarkan adanya seorang raja di Mataram (lihat bagian sebelum ini). Karena itu, hanya hasil kerjanyalah yang dapat memberi kesaksian tentangnya. Ternyata, usahanya telah berhasil: kira-kira dalam waktu 15 tahun kekuasaan Mataram telah diakui oleh sebagian besar Jawa Tengah; perlawanan keluarga-keluarga raja yang lebih tua di Jawa Timur telah dapat ditahannya. Kekerasan kemauan dan ketangkasan yang sudah menjadi bawaannya telah merangsang kegairahan bertindak dan semangat tempur bawahannya. Penduduk daerah Mataram, yang baru pada perempat ketiga abad ke-16 dikuasai oleh Ki Pamanahan, sebagian besar terdiri dari para pendatang baru dari daerah-daerah lain di Jawa yang karena berbagai hal telah mengadu untung di luar kampung halaman mereka. Dapat diperkirakan bahwa generasi pertama dan kedua para pengadu untung di Mataram itu – berkat raja yang berkemauan keras dan haus kekuasaan – telah rela ikut berperang, dengan harapan dapat pulang membawa harta rampasan dari daerah-daerah di Jawa Timur dan di Pesisir yang dikuras habis. Laki-laki dan perempuan, yang dipaksa ikut pindah dan bekerja keras di Mataram, memungkinkan “wong Mataram” yang merdeka dengan sepenuh tenaga mengabdi pada keraton dan masuk tentara. Hal itu berlangsung di zaman pemerintahan Sultan Agung sampai pada pertengahan abad ke-17, yang menjadi dasar perkembangan kekuatan Mataram.

Sekalipun Panembahan Senapati banyak mencapai sukses di bidang politik-militer, ia tidak berhasil mendapatkan pengakuan dari raja-raja Jawa lain sebagai raja yang sederajat dan sejajar dengan mereka. Karena dari perkawinan pertamanya, ia hanya mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga raja Pati. Dengan raja Pragola akhirnya ia malah bermusuhan. Perkawinan yang dipaksakan dengan putri Madiun, yang dalam cerita tutur Mataram diberitakan dengan penuh kebanggaan, malah menjatuhkan namanya di kalangan raja-raja Jawa Timur. Kecuali itu Panembahan Senapati juga mempunyai hubungan keluarga dengan keturunan Ki Giring dan Ki Kajoran, yang mempunyai hak lebih tua di Jawa Tengah bagian selatan daripada keturunan Panembahan Senapati sendiri. Tetapi mereka itu hanya memiliki sedikit kekuasaan duniawi.[45] Anak sulung Panembahan, Raden Rangga, konon beribukan seorang putri dari istana Kalinyamat. Oleh Ratu Kalinyamat putri itu sebenarnya telah disediakan bagi iparnya, Sultan Pajang.

Menurut cerita babad dari Mataram, tidak lama sebelum meninggalnya Panembahan Senapati dengan tegas telah menunjuk anak satu-satunya yang masih hidup – anak garwa padmi putri dari Pati – Raden Mas Jolang sebagai penggantinya meskipun masih muda. Raja yang masih muda itu memang dilantik sesudah ayahnya meninggal, terutama karena pengaruh Adipati Mandaraka yang sudah tua dan yang sudah sudah lama mengabdi sebagai patih. Juga karena pengaruh Pangeran Mangkubumi, adik Panembahan Senapati. Raja kedua di Mataram itu dalam sejarah Jawa terkenal dengan nama anumertanya, Seda-ing Krapyak, karena ia meninggal pada usia cukup muda karena kecelakaan di Krapyak tahun 1613. Krapyak adalah sebuah cagar alam binatang, taman berburu.

Dikutip dari; Kerajaan Islam Jawa; DR. HJ. DE GRAAF; Grafiti Pers.

 

Leave A Reply